Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat


__ADS_3

Di ruang kerjanya, Hans bersama seorang wanita cantik sedang asyik bertukar saliva. Keduanya saling menikmati sentuhan satu sama lain. Bahkan mereka lupa kalau sedang berada di tempat kerja sang dokter tampan.


"Aktingmu bagus sekali, Sayang," puji Hans sambil mendaratkan kecupan pada puncak kepala Maudy. Ya, perempuan yang sedang berada di atas pangkuannya itu adalah Maudy.


"Kamu janji 'kan, mau menikahiku? Bahkan aku rela menelan obat yang kamu minta waktu itu. Kamu tahu? Rasanya aku hampir mati!" gerutu Maudy sembari bersungut-sungut.


"Tapi semua baik-baik saja, 'kan sekarang? Bayi kita juga selamat. Oh ya, setelah ini mau main drama apa lagi?" tanya Hans sambil terkekeh.


"Apa saja ... asal terus bersamamu, Sayang." Maudy melingkarkan lengan pada leher Hans, dan keduanya kembali berciuman.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan. Akan tetapi, Hans mengacuhkannya. Dia dan Maudy tetap bermesraan. Begitu pintu ruangan tersebut terbuka, sebuah teriakan menyapa pendengaran mereka berdua.


"Hans, apa-apaan ini!" teriak Makutha.


Di hadapannya kini, Makutha sedang memergoki Hans dan Maudy sedang bermesraan. Tanpa rasa malu, Maudy mengecup bibir sang dokter sekilas sebelum turun dari pangkuannya.

__ADS_1


"Maudy! Kamu gila, ya! Baru kemarin suamimu meninggal! Lalu apa ini!" seru Makutha dengan mata melotot serta rahang mengeras.


"Aku memang gila, Tha. Aku gila karena dokter tampan ini," ucap Maudy sembari tersenyum miring dan melirik ke arah Hans.


Makutha melangkah mendekati Hans kemudian meraih kerah kemeja lelaki itu. Kini posisi keduanya sama-sama berdiri. Tinggi keduanya sama persis.


Mata Makutha menatap nyalang ke arah Hans, napasnya memburu menyapu permukaan wajah salah satu rekan kerja Hasna tersebut.


"Kamu, 'kan? Yang membuat Tito kehilangan nyawa malam itu?"


Hans tersenyum penuh ejekan kemudian membuang muka sekilas. Setelah itu, dia kembali menatap Makutha dan menepis lengannya dari kemeja yang ia kenakan.


"Kurang ajar!" teriak Makutha.


Sebuah pukulan keras mendarat sempurna pada rahang tegas Hans. Lelaki itu sampai tersungkur ke atas lantai. Maudy segera mendekati Hans dan membantunya berdiri.

__ADS_1


"Maudy, ternyata wajah polosmu itu penuh kepalsuan! Aku menyesal sudah melibatkanmu dalam rencanaku!" Makutha menatap tajam Maudy sambil melipat lengan di depan dada.


"Tahu apa kamu tentang aku! Tha, aku muak hidup bersama Tito! Ketika pertama kali bertemu Hans, dia memberiku segalanya!"


"Dasar penghianat! Kalian berdua memang pasangan penghianat! Aku salut dengan kerja sama dan drama yang kalian mainkan! Hebat!" seru Makutha sambil bertepuk tangan.


"Bersiaplah kalian! Aku akan segera menjebloskan kalian ke penjara!"


"Cobalah! Aku pastikan semua usahamu akan sia-sia! Ah, aku memberikanmu peringatan untuk terakhir kalinya. Kami mengincar semua orang yang kamu sayangi! Selalu pastikan mereka ada dalam pengawasanmu!"


Emosi Makutha kembali tersulut. Giginya saling beradu hingga menimbulkan suara. Dia kembali mendekati Hans. Didorongnya sang dokter tampan tersebut hingga tersungkur di atas lantai.


Makutha langsung menghujani Hans dengan pukulan. Lelaki itu kehilangan kendali. Amarahnya memuncak hingga ubun-ubun. Dia tak menyangka Geng Macan Tutul benar-benar nekat.


"Terus pukul! Ayo pukul aku sampai mati! Hahaha!" seru Hans dengan tawa penuh ejekan.

__ADS_1


"Sialan kamu, Hans!" teriak Makutha frustrasi.


Pukulan Makutha semakin brutal seiring ejekan yang dilontarkan Hans. Dia sengaja menyulut emosi Makutha. Sampai akhirnya, suara Hasna membuat hakim tampan tersebut membeku seketika.


__ADS_2