
"Sayang, kamu di mana sekarang? Kita bisa bertemu?"
Maudy menempelkan ponselnya pada telinga. Perempuan tersebut mulai terlihat gusar, menanti jawaban dari sang kekasih.
"Baru mau sampai rumah. Kenapa?"
"Aku pengen ketemu. Aku ke rumah sekarang, ya?"
"Mau dijemput?"
Mendengar tawaran dari Hans, tentu saja membuat Maudy tersipu. Sikap ayah dari anaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa khawatir tentang ucapan Makutha. Sebuah senyum tipis menghiasi bibir perempuan tersebut.
"Ah, nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku pesan taksi online saja."
"Yakin? Kalau mau kujemput, aku putar balik sekarang."
"Nggak usah, aku ke sana sekarang."
Maudy tersenyum tipis kemudian mematikan sambungan telepon. Dia mulai memesan taksi online untuk menyambangi rumah sang kekasih.
__ADS_1
Ketika Maudy sudah pergi dari apartemen, Hasna segera menghubungi Makutha. Dia mengetahui gerak-gerik Maudy, karena sebenarnya dokter cantik tersebut tidak benar-benar kembali ke unit apartemennya.
Hasna naik ke lobi apartemen menggunakan lift, kemudian kembali ke basemen melalui tangga darurat. Jadi, dia mendengar semua percakapan Maudy dengan Makutha.
"Dasar, keahlianmu memang tidak bisa diragukan, Tha! Menjadi kompor dan membalikkan keadaan dalam hitungan detik!" seru Hasna mengakui kehebatan Makutha. Perempuan itu berdecak kagum sembari menggelengkan kepala.
"Tha, kamu sudah sampai rumah?" tanya Hasna melalui sambungan telepon.
"Aku di sini!"
Suara Makutha menggema di tempat parkir apartemen tersebut. Hasna menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak. Namun, sedetik kemudian sebuah senyum lebar terukir di bibir dokter cantik itu.
Makutha mematikan sambungan telepon kemudian memasukkan benda pipih tersebut ke saku jas. Begitu juga dengan Hasna. Makutha terus berjalan mendekat.
"Kamu mulai nakal sepertinya! Aku hampir meledak tadi!" seru Makutha sambil menyentil dahi Hasna.
"Bagaimana aktingku?"
Makutha mengacungkan dua jempol tangannya ke depan sambil tersenyum lebar. "Hebat!"
__ADS_1
"Sekarang kita tinggal lihat apa yang terjadi pada Hans dan Maudy setelah ini."
"Tetap berhati-hati sampai kasus ini selesai. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu. Setelah Ferdi mendapat hukumannya, aku akan membicarakan mengenai pernikahan kita kepada bunda."
Hasna tersipu malu ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Makutha. Keduanya sengaja mengikuti alur drama yang dibuat oleh Hans. Bahkan mereka harus sering bertengkar untuk memberikan keyakinan pada kubu musuh, bahwa mereka akan menang. Namun, di balik itu semua akan ada sebuah pertunjukan tak terduga ketika sidang putusan berlangsung.
"Aku sudah menyerahkan bukti yang kita punya kepada pengacara Ferdi. Aku yakin bukti tersebut bisa meringankan hukumannya serta menjerat anggota Geng Cantul yang lain!" seru Makutha penuh keyakinan.
"Semoga ...." Hasna tersenyum lebar dengan sorot mata berkilat.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya Maudy tiba di kediaman Hans. Perempuan itu langsung memasuki rumah mewah dua lantai tersebut tanpa harus mengetuk pintu. Maudy memiliki kunci duplikat daru rumah yang ditinggali oleh Hans.
Sebuah senyum merekah terukir di bibir perempuan berusia 22 tahun itu. Dia melangkah cepat sebisa mungkin agar segera bertemu dengan sang kekasih. Maudy ingin memastikan bahwa ucapan Makutha hanya isapan jempol belaka.
"Gila, kamu? Nggaklah! Mana mungkin aku beneran mau sama dia!"
Perkataan itu keluar dari bibir Hans, ketika Maudy berada di ambang pintu kamarnya. Senyum lebar Maudy sontak lenyap begitu saja. Hatinya rasanya seperti diremas. Pandangan perempuan tersebut mulai berkabut.
__ADS_1
"Kamu sungguh tega, Kak," batin Maudy.