Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim


__ADS_3

Makutha mematut dirinya di depan cermin. Dia menggunakan gel rambut lalu menyisirnya agar terlihat rapi. Tak lupa lelaki tampan itu menyemprotkan parfum ke belakang telinga dan pergelangan tangan, agar wangi ketika mengungkapkan pernyataan cinta kepada Hasna.


"Perfect, Man!" seru Makutha sambil menunjuk bayangannya yang terpantul oleh cermin.


Setelah itu Makutha keluar kamar dan bergegas menuju parkiran apartemen. Namun, ketika hendak membuka pintu mobil, hakim tampan tersebut menepuk dahi. Makutha lupa tidak membawa serta cincin yang akan dia gunakan untuk melamar Hasna.


"Pikun sekali!" Makutha tersenyum kecut kemudian kembali lagi ke unit apartemennya.


Setelah memasuki kamar, lelaki itu meraih kotak hitam kecil di atas nakas. Makutha membuka kotak itu kemudian tersenyum lebar. Kerlip berlian yang terpatri pada cincin itu membuat wajahnya ikut berbinar. Dia membayangkan bagaimana ekspresi sang pujaan hati ketika dilamar.


Namun, semua bayangan itu lenyap seketika saat Makutha membuka pintu apartemennya. Dua orang polisi sudah berdiri di sana bersiap untuk menekan bel. Makutha melirik ke arah tangan salah satu polisi yang membawa sebuah amplop coklat.


"Selamat siang, Pak!" Polisi itu memberi hormat kepada Makutha.


"Ya, siang." Makutha mengangguk sekilas.


Hakim tampan tersebut tahu betul tujuan kedua polisi itu. Mereka pasti akan menyeretnya ke kantor polisi. Makutha menggerutu dalam hati karena hal tersebut.


Kenapa mereka datang sebelum aku mengungkapkan perasaan dan melamar Hasna? Kenapa mereka tidak datang nanti saja? Satu jam saja cukup untuk melihat senyum Hasna agar aku tetap kuat menghadapi semua ini.


"Bapak ditangkap atas dugaan pemicu aksi tawuran tujuh tahun lalu di Solo. Bapak akan kami bawa ke kantor polisi sekarang!"


Makutha tak berkutik. Dia terpaksa menyerahkan lengannya untuk diborgol. Lelaki tampan itu pun pasrah mengikuti dua polisi itu keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil.


...****************...


Usai mendengar kabar penangkapan Makutha dari Arjun, Hasna langsung melajukan mobil menuju kantor polisi. Hatinya hancur seketika saat mengetahui bahwa Makutha benar-benar ditangkap karena kasus lama tersebut. Saat dokter cantik itu tiba di kantor polisi, dia langsung menemui Arjun.


"Pak, di mana Makutha sekarang?" tanya Hasna dengan nada tinggi dan mata yang memerah.


"Dia masih ada di ruang tahanan. Makutha akan di bawa ke Solo untuk proses hukum selanjutnya."


"Bagaimana bisa ...." Hasna mengusap wajahnya kasar.


"Kamu yang sabar, aku juga akan membantu sebisa mungkin. Dia tidak bersalah. Aku juga akan ikut bersaksi dalam proses penyidikan hingga persidangan nanti."

__ADS_1


"Kalau begitu, apa aku juga bisa menjadi saksi juga, Pak?" tanya Hasna penuh harap.


"Tentu saja bisa, Na." Arjun menepuk lengan atas Hasna dan menatapnya serius.


Setelah itu, Hasna dan Arjun berjalan ke arah sel tahanan. Makutha sedang meringkuk di sudut sel tahanan dan memakai setelan berwarna jingga. Melihat kondisi Makutha saat ini, membuat air mata Hasna bercucuran semakin deras.


Hasna tidak tega melihat Makutha dalam keadaan seperti itu. Lelaki yang biasa berpenampilan rapi itu, kini terlihat suram karena mengenakan seragam tahanan. Hasna menguatkan hatinya, karena dia juga harus menguatkan Makutha sekarang ini.


Dokter cantik itu mulai melangkah mendekati ruang tahanan. Ketika menyadari kehadiran Hasna, Makutha langsung bangkit dari lantai dan menghampirinya. Hasna menyeka air mata dan menyembunyikan kesedihan dengan senyum lebar.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya tertangkap!" seru Hasna dengan senyum mengejek.


"Tadinya aku mau lari. Tapi, gengsi dong. Aku kan warga negara yang taat hukum?" Makutha melipat lengan, lalu mendongak sombong.


"Dih, kamu itu lo udah masuk dalam kandang ini. Bisa-bisanya masih bersikap sombong!" Hasna berdecih dan ikut melipat lengan.


Sepasang anak manusia itu memang sangat unik. Keduanya saling menguatkan dengan cara yang berbeda. Jika orang lain akan saling mengeluarkan rentetan kalimat motivasi, Makutha dan Hasna justru saling ejek agar bangkit dari keterpurukan.


"Aku bisa pastikan tidak akan berada di tempat lembab ini terlalu lama. Kebenaran pasti akan terungkap. Allah tidak pernah tidur," ujar Makutha dengan mata berkilat penuh keyakinan.


"Hutang?" Makutha menautkan kedua alis dan memiringkan kepala.


"Iya! Kamu berhutang kencan denganku hari ini! Awas kalau sampai tidak ditepati!"


"Tenang saja, aku ini pria yang selalu memegang teguh sebuah janji!" Makutha tersenyum lebar seraya menepuk dadanya.


Tak lama kemudian, seorang petugas menghampiri mereka. Dia memberi hormat kepada Arjun, kemudian melaporkan bahwa Makutha akan dimutasi ke tahanan Polres Kota Solo.


"Permisi, Bu," ucap lelaki berseragam polisi itu.


Hasna menyingkir, dan mengamati Makutha yang mulai keluar dari sel tahanan. Mata Hasna terasa begitu panas. Dia mati-matian menahan air matanya agar tidak tumpah lagi.


"Semangat!" ujar Hasna sambil mengepalkan tangan dan ditunjukkan kepada Makutha.


Makutha tersenyum lebar sambil mengangguk mantap. Hasna dan Arjun mengekor di belakang Makutha dan petugas yang akan mengantarkannya ke Solo. Langkah keduanya berhenti ketika sang hakim tampan itu masuk ke mobil polisi.

__ADS_1


Hasna terus menatap nanar Makutha. Dia melambaikan tangan begitu mobil yang membawa sang pujaan hati meninggalkan kantor polisi. Begitu mobil itu menjauh, pertahanan Hasna runtuh.


Dia tidak sanggup lagi membendung air mata. Hasna menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa begitu sesak. Dia yang biasanya melihat Makutha terlihat tampan dan gagah di balik meja hijau, sekarang harus diseret ke penjara, dan nantinya akan menghadiri persidangan sebagai terdakwa.


Setelah Hasna berhasil menenangkan kembali hatinya, dia berpamitan kepada Arjun. Hasna mengendarai mobil menuju Rumah Sakit. Sesampainya di sana, Hasna langsung menemui direktur Rumah Sakit.


"Siang, Pak."


"Dokter Hasna? Ada apa?"


"Pak, saya ingin mengundurkan diri."


Mendengar ucapan dokter cantik itu membuat sang direktur terbelalak. "Tunggu, mari kita bicarakan baik-baik. Duduklah!"


Hasna menarik kursi di depannya lalu mendaratkan tubuh ke atas benda itu. Hasna menatap sang direktur tanpa keraguan. Dia kembali mengungkapkan niatnya untuk mengundurkan diri.


"Ada masalah apa, Dok? Apa gaji yang kami berikan kurang? Atau Anda ada masalah dengan rekan kerja lain?"


"Gaji yang Rumah Sakit ini sangat cukup bagi saya, Pak. Hubungan saya dengan rekan kerja di sini juga sangat baik. Tapi ...." Hasna menghentikan ucapan, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Ada masalah pribadi yang membuat fokus saya terbelah, Pak. Saya tidak mau masalah ini nantinya akan mempengaruhi kinerja saya. Jadi, saya memutuskan untuk mengundurkan diri."


Sang direktur menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Lelaki dengam rambut yang mulai memutih itu pun mengembuskan napas kasar. Sesaat kemudian, dia kembali duduk tegak dan menatap Hasna serius.


"Baiklah, jika itu alasannya. Aku tidak bisa mencegahmu. Semoga masalahmu cepat selesai, ya?"


"Terima kasih, Pak."


"Pintu Rumah Sakit ini masih terbuka lebar, jika kamu ingin kembali mengabdikan diri di sini." Direktur itu mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar.


Hasna pun menyambutnya, kemudian menggerakkan lengannya ke atas dan ke bawah. Hasna langsung balik kanan dan berniat untuk segera mengemasi barang. Dia sedang mencari cara yang tepat untuk menyampaikan berita buruk ini kepada Liontin.


Perempuan cantik itu sedikit melamun ketika berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit. Sampai akhirnya Liontin menelepon Hasna. Dia langsung menjawab panggilan sang ibu. Ketika mendengar kabar buruk lain dari Liontin, dia terbelalak.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2