
Makutha mengerutkan dahi mendengar ucapan Ruby. "Apa maksudmu?"
"Pak Makutha tidak perlu membayarku untuk jasa menjaga perempuan itu. Anggap saja Bapak sudah membayarnya di muka dengan ini semua." Ruby mengangkat paperbag yang ada dalam genggaman sambil melirik tas tersebut.
"Begini, Pak. Saya salut dengan kesabaran dan cara Anda mengontrol emosi. Terlebih lagi Anda bersedia merogoh kocek untukku yang bukan siapa-siapa."
"Ya, karena kepepet. Kamu memaksaku untuk melakukan semua ini." Makutha tersenyum kecut.
"Tunggu, memaksa? Apa aku tidak salah dengar?"
"Kamu yang memintaku untuk membayar belanjaanmu, 'kan?"
"Bapak sebenarnya bisa saja menolaknya. Aku tidak pernah memaksa Anda, bukan?"
"Kamu memintaku untuk membayarnya, dan pergi begitu saja dari kasir! Jadi aku pikir kamu nggak punya uang buat bayar semuanya!" seru Makutha penuh kekesalan.
"Apa Anda meremehkan saya?" Ruby melipat lengan di depan dada sambil tersenyum miring.
"Aku paling malas berdebat dengan perempuan! Sudahlah, aku ke toilet dulu!"
Makutha keluar begitu saja dari toko meninggalkan Ruby. Dia menuju toilet dan menghubungi Farhan untuk melancarkan protes. Lelaki itu adalah orang yang merekomendasikan Ruby untuk menjadi bodyguard Hasna.
Sesampainya di toilet, Makutha langsung menelepon Farhan. Dalam hitungan detik, panggilannya langsung diangkat oleh salah satu temannya itu.
__ADS_1
"Kamu gila, ya?" umpat Makutha ketika Farhan mengangkat panggilannya.
"Bisa kecilkan volume suaramu, Pak? Telingaku sampai berdengung!" gerutu Farhan di ujung sambungan telepon.
"Kamu gimana, sih? Ruby ini lebih mirip wanita penghibur daripada seorang bodyguard!" protes Makutha.
Farhan tertawa lepas. Makutha yang mendengar tawa lelaki tersebut, tentu saja semakin kesal. Dia menahan amarahnya dan menunggu polisi itu berhenti tertawa.
"Ruby memang begitu penampilannya, Tha. Tapi, dia jago bela diri! Kami para polisi sering memakai jasanya sebagai mata-mata ataupun umpan ketika penggerebekan."
"Aku nggak percaya!"
"Nanti aku tunjukkan seberapa hebat kemampuan Ruby! Dah sana turuti saja apa maunya. Maka, setelah itu dia akan bekerja sangat baik dan rela mempertaruhkan nyawa!"
Tanpa menunggu jawaban dari Makutha, Farhan menutup sambungan teleponnya. Hakim tampan tersebut memaki ponselnya sendiri sebagau bentuk pelampiasan kekesalan.
Ruby yang menyadari Makutha mendekat pun beranjak dari bangku dan berdiri tegak. Senyum perempuan itu merekah layaknya wanita penggoda pada umumnya. Makutha yang tidak suka tipe perempuan seperti Ruby, hanya bisa membuang napas kasar.
"Sudah, Pak? Ayo kita ke rumah Bu Hasna!" ajak Ruby penuh semangat.
Makutha enggan menjawab. Dia terus melangkah lebih cepat dibanding Ruby. Walaupun perempuan itu memiliki kaki yang begitu jenjang, tetap saja dia tidak mampu mengimbangi langkah kaki Makutha.
Sesampainya di parkiran, Makutha langsung masuk ke mobil diikuti Ruby. Dia mencoba mengatur napas karena harus setengah berlari untuk menyusul Makutha.
__ADS_1
"Wah, gila! Kaki Pak Makutha panjang sekali rupanya! Aku sampai kewalahan buat menyeimbangkan langkah!" seru Ruby antusias.
"Berisik."
Ruby terbelalak. Mulut perempuan cantik itu menganga lebar. Dia tak menyangka bahwa Makutha adalah lelaki yang begitu dingin dan keras hati. Sikap ramahnya ternyata sia-sia.
"Ah, mengenai upah ... seperti yang saya bilang di awal. Bapak sudah membayarnya dengan belanjaan saya hari ini."
"Hm," jawab Makutha singkat.
"Lalu, Bapak mau saya bagaimana? Mengawasi Bu Hasna dari kejauhan atau terus menempel kepadanya seperti perangko?"
"Senyamanmu, asal kamu bisa menjamin keselamatan Hasna."
"Baiklah, kita bicarakan bersama Bu Hasna dulu."
Tak lama kemudian Makutha dan Ruby sampai di apartemen Hasna. Kebetulan hari ini Hasna sedang cuti kerja, karena ingin menemani Maudy yang semakin dekat dengan hari persalinannya.
Ketika hendak melangkah keluar mobil, sudut mata Ruby melihat Hasna yang sedang keluar dari lift. Dia membawa kantung plastik berwarna hitam. Perempuan itu menduga kalau Hasna sedang ingin membuang sampah.
"Wah, calon istri Bapak rajin sekali!"
"Iya," jawab Makutha singkat kemudian keluar dari mobil.
__ADS_1
Ruby pun menyusul lelaki itu dan mengekor di belakangnya. Ketika Hasna menyadari kehadiran Makutha, dia tersenyum lebar dan berjalan mendekat. Akan tetapi, saat baru berjalan dua langkah, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan perempuan berjilbab tersebut. Ketika mobil tersebut kembali berjalan, barulah Makutha dan Ruby sadar kalau Hasna menghilang.
"Pak, gawat! Cepat kejar mobil itu!" teriak Ruby sambil menunjuk mobil yang melaju kencang meninggalkan parkiran apartemen.