Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh


__ADS_3

Makutha terbangun ketika wajahnya diguyur dengan air dingin. Napasnya tersengal karena tetesan air yang masuk ke saluran pernapasan. Sesekali Makutha terbatuk-batuk.


Ketika hakim tampan tersebut berhasil mengumpulkan kesadaran, sosok perempuan berpakaian seksi langsung menyapa indera penglihatan Makutha. Ya, perempuan itu adalah Ruby.


Makutha kembali mendapatkan sebuah penghianatan. Kali ini perempuan yang dipercaya menjaga Hasna ternyata adalah musuh di balik selimut yang siap menyerangnya kapan saja.


"Dasar perempuan laknat! Bisa-bisanya kamu ...."


Belum selesai Makutha melanjutkan ucapannya, sebuah tinju mendarat tepat pada rahang lelaki tersebut. Makutha sampai mendongak karena kerasnya pukulan Ruby.


"Akhirnya aku bisa menghajarmu, Pak Makutha!" seru Ruby sembari tersenyum miring.


"Bagaimana bisa kamu ...."


Lagi-lagi ucapan Makutha terpotong. Kali ini Ruby mendaratkan pukulan pada perut lelaki tampan tersebut. Teriakan Makutha tertahan di tenggorokan. Rasa nyeri yang dirasakan lelaki tersebut tembus hingga ulu hati.


"Masih ingat dengan dia?" Ruby merogoh saku mantel, lalu menunjukkan sebuah foto.


Makutha menyipitkan mata berusaha untuk mengenali siapa perempuan yang ada dalam foto itu. Lelaki tersebut menggali kembali memorinya.


"Dua tahun lalu, dia dihukum pengadilan hanya karena mencuri sepotong roti untuk putrinya yang kelaparan."


Pupil mata Makutha pun membulat sempurna. Kasus dua tahun lalu itu adalah kasus pertama Makutha ketika menjadi hakim anggota Pengadilan Negeri. Perempuan itu divonis hukuman penjara selama dua tahun oleh pengadilan.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya." Makutha tetap bersikap tenang ketika menghadapi Ruby.


"Kamu tahu? Putrinya meninggal satu jam setelah penangkapan. Kakakku mengatakan kepada pihak kepolisian bahwa ada seorang balita yang sekarat karena kelaparan, tapi tidak ada yang percaya." Mata Ruby mulai memerah, rahangnya mengeras sempurna.


"Kamu salah sangka, By. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kematian bayi itu."


"Memang tidak ada, tapi seharusnya pihak pengadilan memberinya keringanan! Demi Tuhan, kakakku hanya mengambil sepotong roti! Dan hukuman yang diberikan selama dua tahun? Bukankah itu tidak adil?" tanya Ruby penuh emosi.


"Yang membuatku semakin miris, roti itu adalah roti sisa yang nantinya akan dibuang!"

__ADS_1


Makutha tidak bisa menjawab lagi. Dia hanya menatap tajam ke arah Ruby. Lelaki tersebut terus menggerakkan lengan agar terlepas dari ikatan tali tambang yang melingkar pada pergelangan tangan.


"Kalau bisa aku ingin sekali membunuhmu! Lalu menggantung mayatmu di tiang bendera kantor Pengadilan Negeri. Agar mereka tahu keadilan yang sebenarnya itu seperti apa!"


"Kami semua hanya menjalankan semua sesuai hukum yang berlaku. Jika kamu benar-benar membunuhku, maka justru dirimulah yang akan terjerat hukum, By."


Tanpa Ruby sadari, tali yang membelenggu lengan Makutha mulai longgar. Lelaki itu tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik Ruby.


"Aku ingin tahu bagaimana reaksi Hasna ketika mengetahui lelaki yang dia cintai pulang dengan kondisi mengenaskan." Ruby tersenyum miring kemudian menatap tajam Makutha.


"Tapi sayang sekali, lagi-lagi Walikota bodoh itu melarangku untuk membunuhmu! Dia berniat untuk mempermalukanmu dan membuatmu menderita secara perlahan! Dia memang biadab! Aku salut dengan kekejian Liam." Ruby terus mengoceh sembari berjalan mengelilingi Makutha.


Tepat ketika Ruby berada di depan Makutha dan membelakanginya, tali yang mengikat lengan lelaki tersebut terlepas. Makutha langsung melingkarkan tali itu pada tubuh Ruby, dan mengikat perempuan tersebut di kursi.


"Lepas, Brengsek!" teriak Ruby sambil terus memberontak.


"Kamu benar-benar salah paham mengenai kasus itu. Jika ingin balas dendam, seharusnya kamu membalas itu semua pada pihak kepolisian. Keponakanmu meninggal ketika kakakmu diinterogasi, bukan ketika persidangan berlangsung."


"Sama saja! Aku marah padamu karena hukuman yang aku rasa tidak adil! Dua tahun untuk sepotong roti sisa! Lucu sekali!"


"Hukum negeri ini tidak adil! Rakyat jelata dipersulit ketika menuntut keadilan, sedangkan para petinggi dan oknum yang banyak uang bisa dengan mudah lolos dari tuntutan hukum!"


"Jadi, kenapa kamu mau bekerja di bawah kaki Liam?" Makutha tersenyum miring sembari mengangkat alis.


"Bukankah dia salah satu orang yang memanfaatkan kekuasaan dan uang demi terbebas dari hukum? Suap sana sini agar kegiatan Geng Macan Tutul tidak tersentuh hukum?"


Ruby bungkam. Dia baru menyadari kesalahannya. Dia keliru sudah percaya dan termakan oleh ucapan manis Liam. Perempuan itu pun tertunduk lesu.


"Jadi, bagaimana? Mau ikut bersamaku menegakkan keadilan, atau tetap berkubang bersama kotoran yang dibuat Liam?" Makutha menatap tajam Ruby yang masih tertunduk lesu.


Ruby perlahan mengangkat wajah. Kini matanya mulai berkaca-kaca. Perempuan itu mengangguk pelan sembari menatap Makutha.


"Baiklah, aku ingin bertanya satu hal kepadamu. Apakah Farhan juga terlibat?"

__ADS_1


Ruby terbelalak. Dia tak menyangka kalau Makutha mengetahui hal itu. Entah sejak kapan sang hakim menyadari kalau Farhan salah satu antek Liam.


Akhirnya, Ruby mengangguk. Makutha menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Lelaki itu mendekati Ruby, kemudian melepaskan ikatannya.


"Sekarang terserah padamu. Aku akan bertanya lagi untuk terakhir kalinya. Apa kamu bersedia membantuku untuk menjebloskan Liam ke penjara?"


"Ya, aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan."


"Baiklah, dengarkan aku! Nanti, saat aku ditangkap untuk dimintai keterangan mengenai kasus tawuran tujuh tahun lalu ...."


Makutha mulai membeberkan rencananya pada Ruby. Perempuan tersebut mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir Makutha dengan seksama. Keduanya berbincang selama satu jam.


Sesaat setelah dia selesai mengungkapkan kisah kelamnya tujuh tahun lalu, tiba-tiba pintu ruang bawah tanah terbuka. Toni menatap Ruby tajam dengan jemari mengepal erat di samping badannya.


"Ruby, berani-beraninya kamu!" Toni berjalan cepat ke arah Ruby dan bersiap mendaratkan pukulan.


Namun, Makutha dengan sigap pasang badan, sehingga Toni gagal memukul Ruby. Napas ketua Geng Cantul itu memburu. Darahnya seakan mendidih setelah mendapatkan laporan dari penjaga bahwa satu-satunya anggota perempuan Geng Macan Tutul itu menyekap Makutha di ruang bawah tanah.


"Tenanglah, Ton. Aku baik-baik saja." Makutha berusaha menangkan Toni.


"Maafkan kelakuan adikku ini! Sialan dia!"


Makutha terperanjat. Dia tidak menyangka kalau ternyata Toni dan Ruby adalah kakak beradik.


"Jadi, kalian bersaudara?" Makutha menatap Ruby dan Toni bergantian.


Dua orang beda gender dan usia di depan Makutha itu pun mengangguk bersamaan. Makutha mengerutkan dahi kemudian mengusap dagu.


"Tapi kenapa tidak mirip, ya? Toni terlalu jelek untuk ukuran kakak kandungmu."


Sontak Toni melotot, sedangkan Ruby menahan tawa. Jemari lentiknya menutup mulut berharap tawanya tidak meledak.


"Sialan kamu, Tha!" seru Toni sambil mengangkat lengannya ke udara.

__ADS_1


Gelak tawa mereka pun pecah. Setelah itu mereka bertiga memanggil Usman serta Niki untuk membahas rencana mereka selanjutnya. Kali ini Makutha tetap memasang mode waspada.


Dia sengaja membeberkan semua rencananya kepada mereka. Namun, keempat orang di hadapannya itu tidak tahu kalau Makutha sudah merekam semua percakapan hari itu. Jika saja mereka berkhianat, dia masih memiliki bukti untuk membela diri ketika berada di pengadilan nanti.


__ADS_2