Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 38. Carut Marut


__ADS_3

Rahang Toni mengeras setelah mendengar kabar dari Usman melalui sambungan telepon. Urat sekitar matanya seakan hampir putus dengan bola mata membulat sempurna. Dia tidak lagi memperhatikan ucapan Usman.


Toni melempar ponselnya hingga membentur dinding kamar. Benda pipih tersebut hancur. Amarah kini menguasai jiwa lelaki bertubuh besar itu. Dia memejamkan mata rapat, lalu membukanya kembali. Toni meremas gelas berisi wine yang ada dalam genggaman.


Gelas bening itu pun pecah seketika. Warna burgundy dari anggur bercampur dengan darah segar yang mengalir dari telapak tangan Toni. Dada lelaki tersebut naik turun karena amarah yang tak terkontrol.


"Brengsek!" umpat lelaki dengan lengan penuh tato tersebut.


Tak lama kemudian pintu kamar Toni terbuka. Niki tergopoh-gopoh menghampiri lelaki tersebut.


"Teriakanmu terdengar sampai keluar kamar. Kenapa, Ketua?" tanya Niki panik.


"Teruslah kalian mengikuti kemauan Liam! Dia hanya memanfaatkan kita!" seru Toni sambil menatap tajam Niki.


Niki mengernyitkan dahi. Tatapannya kini tertuju pada tangan Toni yang penuh darah. Lelaki itu keluar dari kamar Toni, dan kembali dengan kotak P3K dalam genggaman.


"Ketua, kemarikan tanganmu." Niki menengadahkan tangannya.


Toni pun mengulurkan tangan, dan Niki membersihkan darah yang terus keluar. Setelah itu, lelaki tersebut mengoleskan obat merah pada luka Toni dan membalutnya dengan perban.


"Aku pikir setelah keluar dari penjara akan mendapat kehidupan normalku lagi! Tapi justru nama Geng Macan Tutul semakin terekspos dan dinilai semakin buruk!"

__ADS_1


"Entahlah, aku awalnya enggan bergabung kembali. Setelah ketua masuk penjara, sebenarnya kami semua mendapatkan teror dari orang yang tak dikenal." Niki merapikan lagi obat-obatan serta perban yang dia pakai untuk mengobati luka Toni.


"Kami semua hampir mendapatkan surat berisi foto Abercio. Di balik foto tersebut bertuliskan kalimat yang sama."


"Apa?"


Niki menatap Toni kemudian berkata, "Tunggu waktunya tiba. Aku akan membalas kalian!"


Toni terlihat berpikir. Dia sedang mengira-ngira siapa orang yang mengirimkan surat kaleng tersebut. Sebenarnya hanya satu nama yang ada di pikiran Toni saat ini, Makutha.


"Ketua, apa yang harus kita lakukan. Kamu tahu 'kan? Kalau aku selalu ada di pihakmu? Terlebih lagi ketika Miki menjadi korban kebengisan Liam. Aku tidak akan pernah melupakannya!" Rahang Niki mengeras, matanya seakan berapi ketika mengingat bagaimana saudara kembarnya dibunuh atas perintah Liam.


"Aku masih memikirkannya matang-matang. Kita tidak bisa gegabah. Lawan kita Liam. Dia juga berlindung di bawah ketiak ayahnya. Kamu tahu 'kan siapa ayahnya?"


...****************...


Semilir angin pagi menerpa wajah cantik Maudy yang sedang berjalan-jalan di sekitar Taman Kota. Hasna menemani ibu hamil tersebut sambil berlari pelan.


"Dy, by the way kapan kamu ketemu Farhan?" tanya Hasna penasaran.


Gadis itu masih bertanya-tanya mengenai kesaksian Maudy kemarin. Dia menyebutkan bahwa Farhan yang memintanya untuk merekam percakapan dengan Hans.

__ADS_1


"Sudah lama sebenarnya. Tapi, waktu itu aku buta. Buta karena cinta semu yang Kak Hans berikan. Sejujurnya aku sangat menyesal." Maudy menghentikan langkah kemudian tertunduk lesu.


"Dy, bisa aku minta tolong?" Hasna meraih jemari Maudy dan menatapnya serius.


Maudy langsung membalas tatapan Hasna. Perempuan itu mengangguk tanpa rasa ragu sedikit pun. Hasna menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"Lakukan yang terbaik selama penyidikan berlangsung. Pihak berwajib sangat membutuhkan keterangan darimu, untuk membongkar kebusukan Geng Macan Tutul."


"Pasti, Mbak. Aku akan mengatakan semua yang kuketahui."


Keduanya kembali berjalan. Maudy mulai menceritakan sedikit demi sedikit apa yang ia ketahui mengenai Geng Macan Tutul selama ini. Geng itu bergerak di bawah perintah seseorang dan melakukan aksi kejahatan untuk mengumpulkan dana.


Namun, Maudy tidak menyebutkan siapa orang yang menaungi Geng Macan Tutul serta dana yang digunakan akan dipakai untuk apa. Hati Hasna pun tergerak untuk menceritakan kisah pilunya.


"Sebenarnya Makutha sudah lama mengincar mereka. Aku dan dia kehilangan salah satu orang yang kami sayangi beberapa tahun lalu karena mereka." Hasna menghentikan langkah kemudian tertunduk lesu. Air matanya berdesakan ingin menetes.


"Benarkah?" tanya Maudy terkejut.


Tatapan Hasna menerawang. Perempuan itu kembali teringat kejadian memilukan tujuh tahun lalu. Dia mulai menceritakan bagaimana Abercio terbunuh karena mengajak Makutha pulang untuk menghindari aksi tawuran.


"Mbak, aku turut berduka." Maudy meraih jemari tangan Hasna dan mengusapnya perlahan.

__ADS_1


"Iya, terima kasih. Aku mohon dengan sangat, agar kamu mau mengungkapkan kejahatan mereka kali ini."


"Baik, Mbak. Aku akan membantu kalian!" seru Maudy semangat.


__ADS_2