
Tiara terkejut, karena dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir lelaki di hadapannya ini. Sebuah pertanyaan yang seakan menunjukkan bahwa Albert tengah memuji dirinya.
"Apa menurut Mas Al, aku ini cantik?" tanya Tiara seraya menunjuk dirinya sendiri.
Albert mengangguk mantap. Tidak ada keraguan dalam anggukan kepala lelaki tersebut. Tiara pun tersipu. Dia menunduk berusaha menutupi rona merah wajahnya. Sesekali dia menggigit kuku karena rasa gugup yang mulai menyelinap dalam hati.
"Setelah makan, ayo kita jalan berdua. Biar aku tunjukkan bagaimana cantiknya dirimu. Aku rasa jika ada yang bilang kamu tidak cantik, matanya sedang bermasalah." Albert melirik ke arah Imah sembari tersenyum miring.
Imah yang menyadari bahwa sang majikan sedang menyindirnya pun menunduk dalam. Jemarinya saling bertautan. Dia baru berani mendongak ketika Albert dan Tiara berjalan ke arah meja makan. Imah memilih untuk menghindar dan masuk ke kamarnya.
Mereka berdua menikmati makanan dengan tenang. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring. Ucapan Albert barusan membuat Tiara terus tersenyum. Sesekali gadis itu mencuri pandang ke arah Albert yang terlihat sedang menikmati Selat Solo buatannya.
...****************...
"Bagaimana, Pak? Sudah ada kabar?" tanya Hasna kepada Arjun.
Arjun menyesap kopi sekilas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Dia gagal menemukan keberadaan Tiara. Lelaki itu bahkan sampai mengecek beberapa CCTV yang tersebar di jalanan. Akan tetapi, tidak membuahkan hasil.
"Maaf, belum ada kabar mengenai Tiara." Arjun meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.
"Pak, aku khawatir dengan Tiara. Aku takut dia diperlakukan buruk dan kasar. Aku takut apa yang ada di pikiranku ini benar-benar terjadi."
"Tenanglah. Kita akan segera mengetahui keberadaan Tiara."
Tiba-tiba ponsel Arjun berdering. Lelaki itu mengerutkan dahi karena mendapatkan telepon dari Liam. Dia menggeser tombol hijau ke atas, lalu mulai berbicara kepada Sang Walikota.
"Aku ingin kamu menghubungi pihak Kepolisian Kota Solo untuk mempercepat penyidikan."
"Maksud Anda apa, Pak?"
"Percepat proses peradilan untuk Makutha! Aku ingin segera melihatnya hancur!"
"Pak, kita tidak boleh gegabah. Kita sudah merencanakan semuanya ...."
__ADS_1
"Adik Makutha ada bersamaku. Aku tahu kamu mulai berbalik ingin menikamku dari belakang!"
Arjun memejamkan mata rapat, sembari memijat pangkal hidung. Kepalanya berdenyut sangat kuat. Dia tidak menyangka rencananya untuk memata-matai Liam gagal. Tak lama kemudian mata indah lelaki tersebut terbuka. Sebuah keraguan jelas tersirat di sana.
"Jangan macam-macam! Atau putri dan istrimu akan ada dalam bahaya!"
"Pak ...," panggil Arjun putus asa.
"Aku tidak mau tahu! Jika sampai Makutha tidak mendekam di penjara, akan kupastikan kamu kehilangan semua yang kau miliki! Camkan itu!"
Sambungan telepon pun terputus. Arjun melempar asal ponselnya ke atas meja, lalu mengusap wajah kasar. Melihat perubahan sikap Arjun membuat Hasna menautkan kedua alisnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Hasna penasaran.
"Tiara ada sama Liam. Tapi, aku nggak tahu dia ada di mana."
"Astaga!" Hasna menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kafe. Mereka sama-sama berjalan gontai menuju parkiran. Namun, seakan Tuhan berpihak pada Hasna dan Arjun. Mereka berdua melihat Tiara sedang berjalan bersama Albert.
Arjun mengikuti ujung jari telunjuk Hasna. Mata lelaki tersebut langsung membulat sempurna. Hasna hendak berlari menghampiri Albert dan juga Tiara, tetapi Arjun menghentikannya.
"Pak, aku harus mengajak Tiara pulang!"
"Aku tahu. Tapi, sabarlah sedikit lagi. Aku akan meminta beberapa anggota polisi untuk membantu kita."
"Kita harus menunggu berapa lama, Pak?" Darah Hasna seakan mendidih mendengar perkataan Arjun.
"Sabar, aku akan menghubungi mereka. Hanya membutuhkan waktu selama 10 menit untuk sampai ke sini."
Arjun segera menghubungi anggota polisi lain, sembari berjalan mengendap-endap mengawasi Albert dan Tiara yang mulai menjauh. Setelah menunggu selama 10 menit. Tiga orang polisi menghampiri Arjun dan juga Hasna.
Akhirnya mereka berlima menyergap Albert yang kini sedang berada di sebuah salon ternama. Seluruh pengunjung tempat itu terkejut. Beberapa dari mereka sampai berteriak karena melihat polisi yang menodongkan senjata ke arah Albert.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Ada apa ini?" tanya manager salon karena merasa terganggu dengan insiden penangkapan itu.
"Kami ingin menangkap Bapak ini karena diduga menculik salah satu keluarganya." Arjun menjelaskan duduk permasalahannya sembari menunjuk Hasna.
"Benar, Bu. Dia adik saya. Pria ini membawanya kabur."
Albert tersenyum miring, lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Hasna. Kedua lengannya diangkat ke atas kepala sesuai instruksi salah seorang polisi yang membawa senjata.
"Kabur? Bahkan gadis bodoh ini datang sendiri ke rumahku. Aku tidak pernah membawanya kabur."
Tiara terbelalak ketika mendengar ucapan Albert. Mata gadis lugu itu mulai terasa panas. Air mata mulau berdesakan ingin keluar dari sarangnya.
"Gadis bodoh Mas Al bilang?" tanya Tiara dengan suara yang mulai bergetar.
"Aku tidak menyangka kalau selama ini aku salah paham! Aku pikir Mas Al menahanku di sana karena juga tertarik padaku!"
Albert tersenyum miring. Kemudian menyipitkan mata. "Lalu kenapa kamu tidak menolak, dan memilih pergi saja waktu itu?"
"Aku melakukannya karena sejujurnya, aku tertarik padamu. Awalnya aku hanya tertarik karena penampilanmu yang luar biasa. Namun, setelah mengamati keseharianmu. Aku semakin jatuh cinta karena sikapmu yang begitu lembut."
Air mata Tiara mulai bercucuran. Dia tidak bisa lagi membendung kesedihan yang kini menguasai hati. Bahu gadis itu mulai bergetar.
"Aku memang terlalu bodoh karena sudah menutup mata selama ini. Tapi si bodoh ini juga memiliki perasaan, sama seperti orang lain. Baru beberapa menit yang lalu, kamu melambungkanku dengan kata cantik! Tapi sekarang, kamu menghempaskanku bahkan menginjakku dengan mengatakan bahwa aku bodoh?" Tiara bertepuk tangan sembari tersenyum getir.
Melihat bulir air mata keluar dari netra Tiara, membuat hati Albert terasa begitu nyeri. Selama tinggal bersamanya beberapa hari ini, gadis itu selalu terlihat gembira dan bersemangat. Tanpa Albert sadari, Tiara sudah menjadi sumber semangatnya. Kini ada rasa bersalah bercokol di hati lelaki berwajah bule itu.
"Bawa dia ke kantor polisi!" perintah Arjun.
Akhirnya lengan Albert diborgol, dan dia digelandang ke kantor polisi. Tiara menatap nanar Albert yang sudah dibawa pergi oleh para polisi. Hasna menghampiri Tiara dan memberinya pelukan.
"Ara, kamu baik-baik saja?"
"Nggak, Mbak. Ara sedang tidak baik-baik saja!" Tiara menggeleng sembari menyusupkan kepala dalam pelukan sang kakak angkat.
__ADS_1
"Menangislah, semua akan baik-baik saja setelah ini."
Hasna menepuk lembut punggung Tiara. Tangis gadis itu membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut merasa sedih.