
Ferdi dan Tito menelan ludah kasar ketika berada di sebuah ruangan bersama Farhan. Bayangan kekerasan saat interogasi yang sering mereka dengar, membuat keduanya bergidik ngeri. Sudah hampir satu jam mereka berada di sana. Setiap detiknya suasana semakin panas.
"Jadi, apa notif kalian membunuh korban," tanya Farhan tegas. Sorot mata lelaki itu terlihat sangat tajam dan mengintimidasi.
"Yang memukulnya saya, Pak. Sejujurnya saya nggak sengaja," ucap Tito sambil tertunduk lesu.
"Benarkah? Aku heran sekeras apa kamu memukulnya sampai nyawa Praba melayang!" Farhan menggebrak meja hingga membuat Tito dan Ferdi tersentak.
"A-aku juga tidak tahu kalau kepala Praba serapuh itu, Pak," kata Tito gugup sambil menelan ludah kasar.
"Lalu kamu, Ferdi! Apa motifmu memperkosa perempuan yang sudah tak berdaya! Di mana hati nuranimu!" teriak Farhan sambil menekan dada Ferdi dengan telunjuknya.
Rahang Farhan mengeras karena teringat betapa kejinya kedua lelaki di hadapan mereka ini. Usai menyerang Praba, mereka memperkosa perempuan dalam kondisi kritis bersimbah darah.
"A-aku ...."
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Ferdi. Lelaki itu tertunduk lesu. Entah apa yang merasuki Ferdi saat itu, sampai dia tega melakukan hal bejat pada Praba yang sudah sekarat.
"Tadi kamu bilang tidak sengaja membunuh korban. Lalu niat awalmu apa?" tanya Farhan kepada Tito.
__ADS_1
"Kami diminta untuk menculik Praba, Pak. Sebenarnya hanya untuk ...."
Saat hendak mengungkapkan niat awalnya, Ferdi menyikut lengan Tito. Lelaki itu pun menoleh ke arah Ferdi yang sedang menatap ke luar ruangan yang dibatasi oleh kaca besar. Di luar ruang interogasi, Arjun sudah berdiri tegap sembari menatap keduanya.
Melihat sang Kapolres sedang mengawasi, membuat keduanya bungkam. Tito tertunduk lesu. Akan tetapi, dia kembali teringat dengan kebaikan Makutha. Tito teringat bagaimana Makutha 'me-manusiakan' dirinya.
Tito kembali mengangkat wajahnya. Dia tidak lagi memedulikan tatapan penuh intimidasi dari Arjun. Hatinya sudah mantab untuk ikut andil dalam membongkar kejahatan Geng Macan Tutul dan Liam.
"Kami diminta oleh Ketua Geng Macan Tutul dan Pak Walikota untuk menculik Praba. Hal itu bertujuan untuk menekan Makutha, Pak."
Ferdi terbelalak dengan kenekatan Tito. Jemarinya gemetar karena harus melakukan tindakan kejam lainnya. Ferdi mengeluarkan pisau lipat yang telah diberikan kepadanya sebelum interogasi hari ini berlangsung.
Ferdi mendekatkan dirinya kepada Tito, seakan hendak memeluk tubuh sang sahabat. Di saat yang bersamaan, Ferdi menikam perut Tito.
"Maaf, To. Maaf," ucap Ferdi sambil menitikkan air mata.
Farhan dan Nico pun terkejut. Mereka langsung mendekati Tito dan Ferdi. Arjun meminta salah satu bawahan yang ikut bersamanya untuk memanggil ambulans.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila?" tanya Farhan dengan nada penuh amarah.
__ADS_1
Ferdi tidak menjawab. Dia hanya tertunduk lesu sambil terus menangis sesenggukan. Arjun ikut masuk ke ruang penyidikan untuk melihat kondisi Tito.
Darah Tito membanjiri lantai ruangan interogasi. Dia masih tersadar, tetapi bibirnya mulai terlihat pucat. Tito menekan luka tusukan dengan telapak tangan. Keringat dingin pun mengucur membasahi hampir seluruh tubuh lelaki tersebut.
"To-tolong," ucap Tito lirih sambil menatap Arjun. Tak lama kemudian, dia menutup mata.
...****************...
Di saat yang bersamaan, Maudy sedang bersantai di atas sofa apartemen sambil menikmati camilan. Sesekali dia bersenandung menirukan lagu grup idol favoritnya. Sejujurnya, Maudy sangat nyaman dengan keadaannya saat ini.
Perempuan itu biasa hidup sederhana bersama Tito. Kali ini Makutha dan Hasna memberikannya tempat tinggal dan kehidupan dengan fasilitas menengah ke atas. Bahkan Maudy hampir lupa kalau sang suami sudah meringkuk selama beberapa hari di dalam dinginnya sel tahanan.
Ketika Maudy sedang asyik menikmati musik favoritnya, terdengar seseorang membuka pintu apartemen. Perempuan itu segera beranjak dari sofa, dan berjalan pelan menuju ruang tamu. Hasna sudah berada di dalam apartemen dengan wajah yang terlihat panik.
"Mbak, kamu nggak pa-pa?" tanya Maudy sambil mengerutkan dahi.
"Dy, ayo kita ke rumah sakit!" seru Hasna.
"Memangnya kenapa? Jadwal kontrolku masih seminggu lagi, 'kan?" tanya Maudy bertambah bingung.
__ADS_1
"Ti-Tito, diserang oleh Ferdi!"
"Apa!"