Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu


__ADS_3

Tak terasa sudah genap lima hari Tiara tinggal di rumah milik Albert. Gadis itu terbilang sangat santai dengan kondisinya sekarang. Entah apa yang ada di dalam otak Mahasiswi Keperawatan itu.


Mungkin sebagian orang akan menganggapnya bodoh, bucin, atau semacamnya. Bukankah setiap orang akan memiliki cerita yang berbeda tentang diri kita? Begitu juga dengan Tiara.


Beberapa orang sering menganggapnya gadis yang polos. Akan tetapi, sikapnya yang terlalu polos itu justru membuat orang lain kesal, termasuk Bi Imah. Baru lima hari Tiara tinggal di rumah Albert, membuat kesabaran perempuan paruh baya itu hampir habis.


"Bi, makanan kesukaan Mas Al selain yang kemarin-kemarin, apa?"


"Tolong, jangan mulai lagi, Dek." Imah menepuk dahinya.


Terakhir kali Tiara berada di dapur, dia hampir membuat ruangan itu terbakar. Konyolnya insiden hanya karena Tiara ingin membuatkan kopi untuk Albert. Gadis itu merebus air, dan lupa mematikan kompor setelah selesai membuat kopi.


Alhasil, dapur di rumah Al dipenuhi asap. Teko untuk merebus air pun sampai hitam legam. Beruntungnya Albert menyadari hal itu, dan berakhir dengan Imah yang kena omelan dari sang majikan.


"Tapi ...." Bahu Tiara merosot dan dia mengerucutkan bibir.


"Gini aja. Biar Bibi yang masak, nanti Dek Tiara bantu-bantu. Gimana?"


"Nggak mau! Itu namanya bukan aku yang buatin makanan buat Mas Al, dong!"


Imah menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia memaksakan senyum sembari merapatkan giginya kuat-kuat untuk menahan emosi yang bergejolak.


"Baru semalam, Dek Tiara hampir membakar rumah ini! Semalam Bibi yang kena marah. Jadi, Bibi mohon dengan sangat untuk tidak melakukan apa pun di rumah ini!"


Kali ini Tiara mencembikkan bibir dan memasang wajah sedih. Air matanya terlihat mulai menggenang di pelupuk mata. Melihat sikap Tiara membuat Imah menepuk dahi.


"Ya Allah Gusti, paringono sabar (berikanlah kesabaran)."


"Boleh ya, Bi?" Tiara menautkan jemarinya satu sama lain sambil mengedipkan mata berulang kali berharap mendapatkan ijin dari Imah.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi, Dek Tiara harus masak sesuai dengan apa yanh Bibi kasih tau. Mengerti?"


Tiara langsung bersorak kegirangan. Bahkan dia sampai melompat berulang kali, layaknya anak-anak yang sedang memenangkan sebuah permainan. Akhirnya mereka berdua berjalan ke dapur.


Imah menyiapkan semua bahan yang tersedia. Kali ini Tiara masih mengamati sang Asisten Rumah Tangga itu sembari bertopang dagu di meja bar. Begitu Imah selesai menyiapkan semua bahan, Tiara langsung menghampirinya dan memasang celemek pada tubuh bagian depan.

__ADS_1


"Jadi, kita mau masak apa, Bi?" tanya Tiara dengan mata berbinar.


"Pak Al suka makan Selat Solo."


"Tunggu! Memangnya Mas Al asli mana, Bi?"


"Beliau sebenarnya berdarah German-Jawa, tetapi sejak ibunya meninggal ayahnya menikah lagi. Pak Al lebih memilih untuk tinggal di Jawa. Ibunya sebenarnya keturunan bangsawan. Bi Imah salah satu abdi yang bekerja turun temurun di keluarga almarhumah." Imah menjelaskan asal usul lelaki yang sudah berhasil memikat hati Tiara itu.


"Yasudah, aku nggak peduli juga Mas Al berasal dari mana. Yang penting aku cinta!" seru Tiara sembari terkekeh.


"Kalau begitu, ayo buruan dimasak, Dek. Pak Al sebentar lagi pulang!"


"Siap, Bi!"


Tiara mulai melakukan semua instruksi yang diperintahkan Imah. Mulai dari memotong bahan, hingga membuat kuah selat, Tiara yang mengerjakan semua. Bahkan perempuan yang terbiasa manja itu menyajikan makanan tersebut ke atas piring dengan tangannya sendiri.


Setelah semuanya selesai, Tiara menatap puas dua piring Selat Solo yang ada di hadapannya. Sebuah senyum lebar mengembang sempurna di bibir gadis itu. Namun, Imah merasa ada yang kurang. Dia meneliti penampilan gadis itu kemudian muncul sebuah ide.


"Dek, kamu nggak pernah pakai perawatan kulit?"


"Ha?" Tatapan Tiara kini beralih pada sosok berdaster di sampingnya.


"Itu, pakai krim-krim pemutih! Biar ayu, glowing, mukanya licin kayak perosotan!" Imah mengusap pipinya sendiri yang memang terlihat terawat.


"Maaf, Bi. Ini muka, bukan baju butek. Jadi nggak butuh pemutih!" Tiara melipat lengan sembari menatap tajam Imah.


Sejujurnya gadis manis itu terlihat kesal. Dia tidak suka cara Imah mengkritik penampilan, terutama kulitnya. Kulit Tiara memang sangat sensitif. Jadi, dia lebih sering berjerawat.


Tiara bahkan mendatangi klinik kecantikan untuk melakukan perawatan rutin. Akan tetapi, belum mendapatkan hasil. Menyadari Tiara berubah kesal, membuat Imah sedikit panik. Dia bisa kena marah lagi oleh sang majikan.


Akhirnya Imah menepuk mulutnya sendiri. Tiara pun terkejut melihat tingkah sang pembantu. Dia meraih lengan Imah agar perempuan itu berhenti menghentikan aksinya.


"Bi Imah kenapa?" tanya Tiara panik, dia berpikir kalau perempuan paruh baya itu kerasukan.


Imah tidak menjawab dan terus memukul bibirnya sendiri dengan telapak tangan. Tiara yang semakin panik pun langsung berlari ke arah lemari pendingin. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu memasukkan satu sendok garam.

__ADS_1


Setelah itu bibir Tiara mulai komat-kamit membaca Ayat Kursi. Begitu selesai membaca doa dan meniup permukaan air tersebut, gadis manis itu pun berlari menghampiri Imah.


"Maaf ya, Bi." Tiara langsung menyiram wajah Imah dengan air tersebut.


Imah langsung gelagapan karena kesulitan bernapas. Dia mengusap wajah dengan telapak tangan, lalu menatap Tiara. "Kok Bibi disiram, Dek?"


"Alhamdulillah ...," ucap Tiara lega dan penuh syukur.


"Kok alhamdulillah?"


"Bibi udah sadar, nggak kesurupan dan menyiksa diri sendiri lagi." Sudut mata Tiara basah. Perempuan lugu ini sontak membuat Imah menepuk dahi.


"Ada apa ini?" tanya Albert yang tiba-tiba menghampiri Imah dan Tiara.


"Ini, Pak. Dik Tiara nyiram saya pakai air garam karena dikira kesurupan."


Albert tertegun. Dia menatap Tiara yang kini sedang menunduk sembari menggaruk telinga. Tak lama kemudian Albert tertawa terbahak-bahak.


Tiara dan Imah pun langsung menatap lelaki berwajah bule itu keheranan. Keduanya saling melemparkan tatapan, lalu kembali menatap Albert.


"Bapak, kenapa?" tanya Imah.


"Lucu sekali kalian! Apa setiap hari kalian begini?" tanya Albert sambil terpingkal-pingkal.


"Habisnya Bi Imah menyiksa diri. Beliau menepuk bibirnya sendiri berulang kali. Begini tadi." Tiara menirukan bagaimana Imah menepuk bibirnya sendiri.


"Sudah kucegah, tapi Bi Imah nggak mau berhenti. Jadi, kupikir kesurupan."


"Aku merasa bersalah karena sepertinya ada ucapanku yang membuat Dik Tiara kesal."


"Memangnya Bi Imah berkata apa ke Tiara?"


"Anu, Pak. Saya sebenarnya tanya, kenapa nggak pakai krim pemutih buat wajahnya. Biar tambah cantik. Tapi, sepertinya Dik Tiara nggak suka saya menyinggungnya." Imah tertunduk lesu, sembari memilin daster batiknya.


"Benar begitu, Ra?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku pakai skincare, kok. Tapi, memang nggak bisa bantu wajahku jadi cantik."


"Siapa bilang kamu nggak cantik?"


__ADS_2