
Maudy mulai panik ketika melihat Makutha terus menghujani Hans dengan pukulan. Makutha tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Sebuah ide muncul di otak ibu hamil tersebut.
Maudy mengambil ponsel dalam sakunya, kemudian menelepon Hasna. Perempuan itu melakukan panggilan video. Hanya dalam hitungan detik, Hasna langsung menjawab panggilannya.
"Ada apa, Dy?" tanya Hasna santai.
"Na, tolong!" seru Maudy.
Sedetik kemudian, wajah Hasna berubah panik karena melihat Makutha yang sedang menghajar Hans. Perempuan itu langsung mematikan sambungan telepon. Dia tahu betul di mana Makutha dan Hans sekarang berada.
Hasna segera berlari menuju ruang kerja Hans. Begitu sampai di depan ruangan Hans, dia membuka pintu, dan langsung terbelalak melihat pemandangan kacau di hadapannya.
Makutha memukul Hans dengan emosi yang meledak-ledak. Wajah tampan sang dokter dipenuhi lebam. Sudut bibirnya pun mulai mengeluarkan darah.
"Sialan kamu, Hans!" teriak Makutha frustrasi.
Pukulan Makutha semakin brutal seiring ejekan yang dilontarkan oleh Hans. Dia sengaja menyulut emosi Makutha. Sampai akhirnya, suara Hasna membuat hakim tampan tersebut membeku seketika.
"Utha! Apa yang kamu lakukan!" teriak Hasna.
__ADS_1
Kepalan tangan Makutha mengambang di udara. Tubuhnya seakan membeku. Perlahan lelaki itu menoleh ke arah sumber suara.
Hasna sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh amarah. Makutha bangkit dari atas tubuh Hans, lalu menghampiri gadis pujaan hatinya itu.
"Na, ka-kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Makutha gugup.
"Apa yang kamu lakukan kepada Kak Hans?" Rahang Hasna mengeras.
Dokter cantik tersebut kecewa melihat Makutha yang tidak bisa mengontrol emosinya. Hasna mengepalkan jemarinya erat-erat. Tatapan perempuan itu seakan menguliti Makutha.
"Hasna, aku ...."
"Mereka berdua bersekongkol untuk menghabisi Tito. Bahkan keduanya sudah berselingkuh di belakang Tito selama ini," jelas Makutha sambil menatap tajam Hans dan Maudy.
"Kamu ngomong apa sih, Tha! Kamu nggak tau bagaimana histerisnya Maudy kemarin saat tahu kalau Tito meninggal!" seru Hasna sambil menatap tajam Makutha.
"Jadi, kamu lebih percaya dia daripada aku, Na?" tanya Makutha sembari menunjuk wajah Maudy.
"Na, aku nggak pa-pa. Tadi semua hanya salah paham, tapi Makutha tiba-tiba menyerang Dokter Hans ketika dia hendak menjelaskan semuanya." Maudy berpura-pura menangis.
__ADS_1
Hasna mendekati Maudy kemudian memberinya pelukan. Makutha semakin geram melihat sandiwara janda dari Tito tersebut. Dia membuang muka kemudian tersenyum kecut.
"Na, aku beri kamu peringatan! Mereka berdua pandai sekali bermain peran! Jika kamu percaya kepada mereka, maka berhati-hatilah! Suatu saat mereka akan menusukmu dari belakang!" Makutha balik badan kemudian berjalan ke arah pintu, dan membantingnya kasar.
Ketika baru berjalan beberapa langkah, Makutha berhenti karena namanya dipanggil. Hans mengikutinya kemudian kembali memanggil nama sang hakim tampan tersebut.
"Makutha!"
Makutha memejamkan mata, kemudian berbalik badan. Dia menatap Hans penuh kebencian. Sebuah senyum penuh ejekan tersungging di bibir Hans. Lelaki itu berjalan mendekati Makutha.
"Tha, ini baru permulaan. Aku akan membuat semua orang yang berpihak kepadamu, berbalik kepadaku. Jika tidak bisa ...." Hans mendekatkan wajahnya pada telinga Makutha.
"Aku akan menghabisi mereka satu per satu," bisik Hans.
Sebenarnya detik itu juga darah Makutha seakan mendidih. Jemarinya mengepal erat di samping badan. Rahang lelaki itu mengeras seketika.
Hans menjauhkan wajahnya dari Makutha, kemudian menepuk bahu lelaki tersebut. "Sana pergilah! Aku khawatir kamu akan kembali tersulut emosi."
"Lakukan apapun yang kamu mau! Aku akan berusaha melindungi orang-orang yang ada di sekitarku sekuat tenaga. Kalau sampai kamu berani menyentuh mereka seujung kuku saja, kamu akan menyesal seumur hidup!" ancam Makutha, kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Hans.
__ADS_1