Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian


__ADS_3

Rasa kesal dan amarah yang bersemayam di hati Makutha sedikit berkurang hari ini. Seharian ini dia menghabiskan waktu bersama Hasna, Liontin, dan juga Tiara.


Mereka semua melakukan banyak hal menyenangkan di dalam apartemen Hasna. Bergantian menjaga Hasmita dan juga menghabiskan waktu dengan beberapa permainan kecil. Mereka berusaha mengulang momen kebersamaan ketika masih berkumpul di Solo.


Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Makutha teringat perkataan sang adik. Dia langsung balik arah dan berniat membeli cincin untuk melamar Hasna. Sesampainya di toko perhiasan yang ada di salah satu pusat perbelanjaan modern, Makutha langsung disambut ramah oleh karyawan toko tersebut.


"Sore, Pak. Mau cari apa?"


"Cincin," jawab Makutha singkat sambil tersenyum tipis.


"Mari sebelah sini, Pak." Perempuan dengan setelan blazer hitam serta rok pendek berwarna sama itu pun mengajak Makutha menuju etalase yang dipenuhi oleh beraneka macam cincin.


Ketika sampai di etalase tersebut, karyawan lain menyapa Makutha. "Malam, Pak. Mau beli cincin untuk siapa?"


"Ehm, untuk temanku." Makutha melonggarkan dasi karena merasa benda tersebut mengganggu pernapasan.


"Untuk hadiah, ya? Sebelah sini cocok untuk kado ulang tahun, pernikahan, atau yang lain."


"Bukan untuk hadiah. Tapi untuk melamar temanku."


"Ya?" Laki-laki di hadapan Makutha itu terbelalak.


Dia tersenyum geli sambil menggaruk kepala. "Bilang dari tadi, kek! Kalau buat lamaran," batin pelayan laki-laki tersebut.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu sebaiknya Anda membeli cincin yang seperti ini ...." Pelayan lelaki tersebut menunjukkan beberapa koleksi perhiasan di toko itu.


Dia tetap berusaha sabar melayani Makutha yang sama sekali tidak pernah membeli perhiasan. Jangankan untuk kekasih, untuk ibunya saja tidak pernah.


Makutha lebih suka memberi kado yang bermanfaat. Dia sering memberi Liontin alat masak ketika sang ibu ulang tahun. Saat Tiara ulang tahun, Makutha lebih sering membelikannya merchandise grup idol Korea kesukaan sang adik atau beberapa keperluan untuk pendidikan.


Setelah sempat bimbang, akhirnya Makutha menjatuhkan pilihannya pada sebuah cincin emas putih. Cincin tersebut bertahta berlian mungil berbentuk hati. Makutha memilih cincin itu, sebagai simbol bahwa ingin menyerahkan seluruh hatinya untuk Hasna.


"Silahkan, Pak." Pelayan pria itu menyodorkan paperbag kecil kepada Makutha.


Sang hakim tampan itu pun langsung meraihnya sembari mengangguk. Sebuah senyum lebar terukir di bibir Makutha. Dia melangkah ringan keluar dari toko dan langsung menuju parkiran. Tanpa disangka, di sekitar mobilnya sudah ada beberapa orang wartawan yang menanti.


"Sialan!" umpat Makutha.


Makutha paling benci berurusan dengan awak media. Dia langsung merogoh saku celana kemudian memilih untuk memesan taksi online. Walaupun terlihat pengecut, dia lebih suka menghindar daripada berhadapan dengan cecaran pertanyaan dari para wartawan.

__ADS_1


Makutha kembali lagi ke dalam gedung pusat perbelanjaan, dan keluar melalui pintu utama. Tak lupa dia menutupi wajah dengan masker agar tidak diketahui banyak orang. Begitu sampai di teras gedung mall sebuah mobil putih berhenti tepat di depannya.


"Masuk!" seru Ruby ketika kaca mobil terbuka.


"Eh, kamu kok bisa ada di sini?"


"Nanti saja aku jelaskan!"


Tanpa banyak bertanya lagi, Makutha langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Dia langsung membatalkan taksi online yang dipesan beberapa waktu lalu.


"Sebelumnya aku minta maaf, Tha."


"Ya?"


"Sebenarnya aku menempelkan penyadap suara mikro pada jepit dasimu." Ruby melirik ke arah dasi yang menggantung pada leher Makutha.


"Apa!"


"Maaf." Ruby tersenyum canggung sambil menoleh sekilas ke arah Makutha.


"Pak Arjun menyuruhku melakukannya."


"Ternyata kalian berniat mengkhianatiku, ya? Aku salah sudah percaya kepada kalian!"


"Hey, bukan begitu maksud kami, Pak. Sebenarnya Pak Arjun mendekati Liam bukan karena jabatan. Beliau ingin mengorek informasi lebih dalam tentang rencananya."


"Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Makutha sambil mengusap wajah kasar.


"Mendukung apa yang sudah kamu rencanakan semalam."


"Baiklah kalau begitu. Aku yakin hari ini surat panggilan dari kepolisian sudah sampai di apartemenku."


Ruby mengangguk mantab dan matanya terlihat penuh semangat. Gadis itu sangat optimis dengan rencana yang sudah mereka susun semalam. Ruby mempercepat laju mobil agar Makutha segera sampai apartemen.


Setelah sampai di apartemen sang hakim, Ruby langsung tancap gas kembali ke markas Geng Macan Tutul. Makutha mulai masuk ke gedung apartemen. Ketika keluar dari lift, dia sudah bisa melihat dengan jelas sebuah surat terselip kotak kecil yang ada di pintu apartemen.


Makutha melangkah ke arah pintu dan meraih amplop coklat tersebut. Setelah dibuka, ternyata surat tersebut berasal dari kantor polisi. Makutha diminta untuk segera datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


"Sudah kuduga. Baiklah, aku akan ke sana malam ini juga." Sebuah senyum miring terukir di bibir lelaki tampan tersebut.

__ADS_1


...****************...


Jam menunjukkan pukul 20:00 ketika Makutha menginjakkan kaki di kantor polisi. Dia langsung menemui Farhan. Kali ini Farhan terlihat sangat berbeda. Ada raut wajah bahagia yang terpancar.


Makutha tersenyum kecut melihat ekspresi Farhan. Polisi muda itu pasti tahu keperluan Makutha datang ke sana. Jika memang benar Farhan berada di pihak Makutha, seharusnya dia menunjukkan ekspresi khawatir.


"Tha, tenang saja. Ini hanya interogasi biasa. Kamu diperiksa sebagai saksi saja."


Makutha mengunci bibirnya rapat-rapat. Lelaki tersebut enggan berbicara dengan Farhan. Dia mengekor di belakang sang polisi dan masuk ke ruang interogasi.


"Bisa kita mulai sekarang?"


"Ya," jawab Makutha singkat.


Suasana dalam ruangan tersebut mendadak berubah. Tatapan tajam Makutha mampu menusuk perasaan Farhan. Lelaki itu berdeham untuk menghilangkan kegugupannya.


"Santai saja, Tha. Kita teman, aku tidak akan melakukan hal buruk kepadamu." Farhan tersenyum lebar kemudian menarik kursi di hadapannya.


"Teman?" tanya Makutha sembari tersenyum miring.


"Ya?"


"Mengirimkan mata-mata untuk mengawasi Hasna demi membantu orang yang paling aku benci, itu yang dilakukan seorang teman?" Makutha mencondongkan tubuh ke arah Farhan untuk mengintimidasi lelaki tersebut.


"Hey, apa yang sedang kamu bicarakan, Tha?"


Makutha menarik tubuhnya kembali hingga kini punggungnya menempel pada sandaran kursi. Dia membuang muka sekilas, lalu menatap Farhan yang kini mengerutkan dahi.


"Aku sudah tahu semuanya. Kamu salah satu bagian dari rencana Liam."


Memdengar ucapan Makutha, membuat Farhan sontak tertawa terpingkal-pingkal. Ujung mata lelaki itu mulai basah. Makutha terus melemparkan tatapan tajam ke arah Farhan.


Tak lama kemudian, Farhan menghentikan tawanya dan beranjak dari kursi. Kini dia menempelkan telapak tangan ke atas meja dan mencondongkan tubuh ke arah Makutha.


"Sudah terlambat. Kamu akan terseret masuk ke dalam hukum dan hadir dalam ruang sidang sebagai terdakwa." Farhan kembali berdiri tegak dan mulai berjalan memutari Makutha.


"Makutha, seorang hakim terkenal kali ini hadir dalam sebuah persidangan karena kasus tawuran tujuh tahun silam. Dia bahkan mengorbankan sahabatnya sendiri untuk menjadi umpan ketika aksi tawuran itu berlangsung!" seru Farhan.


Makutha menatap tajam Farhan yang kini tertawa terbahak-bahak. Dia menyimpan energinya untuk membalas semua ucapan polisi itu di persidangan. Saat hal itu terjadi, justru Farhan yang akan terseret dan masuk ke dalam sel tahanan.

__ADS_1


"Apa kamu yakin apa yang diucapkan Liam adalah sebuah kebenaran?"


__ADS_2