Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 27. Musuh dalam Selimut


__ADS_3

Hasna langsung melajukan mobilnya setelah mendapat kabar buruk dari Makutha. Lelaki itu mengabarkan bahwa Tito diserang oleh Ferdi.


Suasana kacau jalanan membuat pikiran Hasna ikut kacau. Entah apa yang menyebabkan kemacetan siang itu semakin menjadi-jadi. Hasna terus menggerutu sepanjang perjalanan.


"Ayolah!" seru Hasna sambil terus menekan klakson mobil.


Setelah mengalami kemacetan selama hampir satu jam, akhirnya Hasna berhasil sampai di apartemennya. Hasna melangkah secepat yang ia bisa. Ketika sampai di depan pintu apartemen, Hasna berhenti sebentar.


"Aku bahkan belum tau cara menyampaikan berita buruk ini kepada Maudy." Hasna menggigit bibir bawahnya.


Hasna mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Dia mulai memasukkan nomor pin apartemen dan bergegas menemui Maudy. Ketika baru melangkah masuk, dia sudah disambut oleh Maudy dengan wajah heran.


Mungkin karena ini masih jam kerja Hasna. Terlebih lagi dokter tersebut membuka pintu dengan ekspresi panik. Maudy terlihat menautkan kedua alis dan menatapnya penuh tanya.


"Mbak, kamu nggak pa-pa?" tanya Maudy sambil mengerutkan dahi.


Hasna awalnya bungkam. Dia berpikir sejenak jawaban apa yang harus ia ucapkan kali ini. Akan tetapi, dia tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Perempuan itu membuang napas kasar sebelum mengabarkan berita buruk mengenai penikaman yang dilakukan Ferdi kepada Tito.


"Dy, ayo kita ke rumah sakit!" seru Hasna panik.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Jadwal kontrolku masih seminggu lagi, 'kan?" tanya Maudy bertambah bingung.


"Ti-Tito, diserang oleh Ferdi ketika menjalani pemeriksaan," jawab Hasna gugup.


"Apa!" teriak Maudy.


Ibu hamil itu sempat limbung. Beruntungnya Hasna dengan sigap menangkapnya. Maudy seakan kehilangan tempatnya berpijak. Tubuh dengan perut buncitnya merosot ke atas lantai. Dia duduk bersimpuh sambil menangis sesenggukan.


"Ke-kenapa Ferdi setega itu!" Maudy memukul dadanya sendiri yang terasa sesak.


Maudy tidak menyangka bahwa Ferdi sekejam itu. Entah apa yang membuat sahabat suaminya tersebut berbuat nekat. Padahal mereka bersahabat sejak lama. Bagaimana bisa Ferdi menyerang suaminya bahkan di hadapan polisi?


"Dy, kamu yang tenang. Kita ke Rumah Sakit sekarang, ya? Makutha juga sudah ada di sana." Hasna membantu Maudy berdiri dan memapahnya keluar dari apartemen.


Ketika sudah sampai di rumah sakit, Hasna dan Maudy langsung menuju IGD. Makutha sudah menunggu keduanya sambil menyadarkan kepala pada dinding ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Mas Tito, Pak?" tanya Maudy di tengah isak tangisnya.


"Dia sedang menjalani transfusi darah. Tito kehilangan banyak darah ketika dalam perjalanan. Aku juga sudah menjadi pendonor untuknya.

__ADS_1


"Astaga!" Maudy semakin nangis meraung-raung.


"Tenanglah, Dy. Pasti suamimu akan selamat!"


"Kenapa nasib buruk terus menghampiri keluarga kecilku, Mbak. Aku benar-benar muak!" teriak Maudy frustrasi.


"Sssttt ... kamu nggak boleh ngomong begitu, Dy. Mari kita usahakan sebaik mungkin, dan memasrahkan semuanya sama Allah. Sang Maha Pencipta tahu yang terbaik buat umat-Nya."


Hasna memeluk Maudy, sambil terus mengusap lembut punggung perempuan tersebut. Makutha hanya bisa menatap nanar Maudy. Pasti sangat berat baginya. Beberapa waktu lalu dia hampir kehilangan bayinya, dan kali ini nyawa Tito sedang terancam.


...****************...


Di ruang kerjanya, Liam sedang menghubungi seseorang melalui sambungan telepon. Senyum seringai menghiasi bibir tipis lelaki berwajah oriental tersebut. Sesekali dia tertawa cekikikan sambil menatap gedung-gedung pencakar langit di hadapannya.


"Bagus! Memang harus begitu. Kita harus mengorbankan satu hal demi mencapai hal lain."


"Lalu, apa rencana selanjutnya?"


"Dengarkan ini baik-baik ...."

__ADS_1


Liam kembali memberitahukan rencana berikutnya dengan wajah serius. Usai mengungkapkan apa yang dia inginkan, sang Walikota mengakhiri sambungan telepon.


"Rencana selanjutnya akan berfokus pada karirku! Masih ada waktu sedikit lagi untuk menjadi orang nomor satu di negara ini! Aku tidak akan membiarkan kekuasaan Papa jatuh ke tangan orang lain!" seru Liam ambisius.


__ADS_2