Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 58. Interogasi


__ADS_3

"Apa kamu yakin apa yang diucapkan Liam adalah sebuah kebenaran?" tanya Makutha sambil tersenyum miring.


"Aku tidak peduli benar atau salah. Yang penting dia memberikanku penawaran menarik." Farhan tersenyum puas dengan mata berkilat.


"Apa yang dia tawarkan untukmu? Jabatan? Uang? Hah, sungguh penegak keadilan macam apa kamu? Rela menggadaikan kebenaran demi sesuatu yang tidak kekal!" Makutha tertawa lepas sambil menatap remeh Farhan.


Rahang polisi muda itu pun mengeras. Napasnya mulai memburu. Farhan langsung menggebrak meja di depannya. Tak sampai situ, dia juga meraih tongkat di sudut ruangan dan mengayunkannya pada Makutha.


Tongkat tersebut tepat mengenai punggung Makutha. Dia meringis menahan sakit. Urat di area matanya terlihat menonjol. Lelaki tersebut reflek membungkuk karena pukulan keras tersebut.


"Keparat! Jadi begini caranya kamu memperlakukan seorang saksi?" umpat Makutha sambil berusaha menegakkan tubuh.


"Hahaha, saksi? Bersiaplah, Makutha! Kamu akan menjadi tersangka utama!"


"Tersangka? Aku bahkan enggan ikut kumpulan sapi dungu itu untuk tawuran. Tapi mereka mengancamku dengan membawa Hasna pergi! Salah satu dari mereka ingin menodai Hasna!"


"Kita buktikan saja nanti di pengadilan!"


Entah mengapa suasana kantor polisi begitu sepi. Seakan hanya Farhan yang masuk. Kondisi tempat itu seperti diatur agar hanya ada mereka berdua di sana.


"Sudah? Jika sudah, aku mau pulang." Makutha beranjak dari kursi.


"Tetap duduk, bahkan aku belum mengajukan pertanyaan apa pun!" Farhan tersenyum miring.


Rahang Makutha kembali mengeras sembari menatap tajam Farhan. Interogasi pun dimulai. Farhan mengajukan sekitar 50 pertanyaan terkait insiden 7 tahun lalu. Jika jawaban Makutha tidak sesuai dengan keinginannya, sebuah pukulan langsung mendarat di wajah sang hakim.


Makutha dipaksa mengakui perbuatan yang sama sekali tidak dia lakukan. Lelaki tersebut enggan membalas setiap pukulan yang mendarat pada tubuhnya. Dia memiliki rencana lain untuk menyeret Farhan ke tahanan. Makutha berencana melakukan visum dan menyimpan hasilnya untuk barang bukti.


Satu jam sudah makutha berada dalam ruangan berukuran 4 meter persegi itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Keringat mulai mengucur karena menahan sakit yang luar biasa.


"Kamu boleh pulang. Setelah ini petugas kami akan mengirimkan surat penangkapan. Duduk manis saja di rumah sambil menunggu kehancuran hidupmu!" Farhan tersenyum miring sambil menyipitkan mata.


Makutha langsung berdiri dan berjalan tertatih menuju pintu keluar. Suasana kantor masih sangat sepi. Hanya ada satu orang polisi yang berjaga di pos depan.


Setelah pulang dari kantor polisi, Makutha langsung menuju Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan. Hasil visum langsung keluar. Lelaki tersebut kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Hasna.


Lelaki tersebut menekan bel unit apartemen Hasna. Tak lama kemudian, Hasna keluar dari kediamannya. Perempuan cantik itu mengerutkan dahi.


"Ada apa, Tha? Kamu terlihat kusut sekali?"

__ADS_1


Makutha tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul, lalu menyerahkan hasil visum kepada Hasna. Hasna meraih amplop coklat itu, lalu menautkan kedua alisnya.


"Apa ini?"


"Hasil visum. Sebenarnya aku tadi datang ke kantor polisi untuk menjalani interogasi terkait kasus tujuh tahun lalu."


Makutha melepas jas dan juga kemeja yang membalut tubuh kekarnya. Hasna terbelalak seketika. Dia melihat banyak luka lebam. Makutha memakai kembali pakaiannya dan bercerita kalau dia mengalami tindak kekerasan ketika penyidikan berlangsung.


"Tha, kamu kok nggak melawan?"


"Aku sengaja. Tolong berikan hasil tes ini kepada pengacaraku. Oh ya, besok siang bisa kita bertemu sebentar?" Makutha tersenyum lembut.


"Untuk apa?" tanya Hasna dengan jantung berdegup kencang.


"Aku ... ingin memberikan sesuatu untukmu." Makutha menunduk malu sambil mengusap kepalanya bagian belakang.


"Boleh, di mana?"


"Taman kota, sebelum ke sana ada beberapa hal yang harus kulakukan. Bisakah kamu ke sana lebih dulu?"


"Baiklah." Hasna tersenyum lembut kepada Makutha.


Di sisi lain, Hasna menatap punggung Makutha yang semakin menjauh. Dia baru masuk kembali ke unit apartemen saat tubuh Makutha menghilang di balik pintu lift.


...****************...


Keesokan harinya ....


"Cantik amat, Mbak?" Tiara melongok Hasna dari pintu kamar yang setengah terbuka.


"Dari dulu yang namanya perempuan itu cantik, Ra." Hasna menatap Tiara dari pantulan cermin.


Tiara pun langsung masuk ke kamar Hasna, dan mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Gadis itu mengamati Hasna yang sedang sibuk memulaskan make-up pada wajahnya.


siang itu, Hasna memang terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Dia memakai riasan wajah bernuansa merah muda sehingga membuatnya terlihat anggun. Hasna juga memakai gamis berbahan sifon dengan motif bunga-bunga. Kepala perempuan itu ditutup oleh kerudung berwarna biru muda.


"Mbak Hasna mau ke mana?" tanya Tiara penasaran.


"Ada deh, kepo!" Hasna menoleh ke arah Tiara lalu menjulurkan lidah.

__ADS_1


"Dih, ditanyai kok begitu. Berdosa sekali Anda!" seru Tiara sembari melipat lengan di depan dada.


Hasna tidak lagi memedulikan ocehan Tiara. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Hasna terbelalak. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.


"Astaga! Bisa terlambat aku!" Hasna langsung menyambar tas yang menggantung di belakang pintu.


Tiara meneriaki dokter cantik itu, tetapi Hasna tidak menoleh sedikit pun. Ketika sampai ruang tengah, Hasna bertemu Liontin. Dia langsung meraih jemari sang ibu dan mencium punggung tangannya.


"Bun, Hasna pergi dulu, ya? Tolong jaga Hasmita sebentar. Assalamu'alaikum," pamit Hasna.


"Mau ke mana?" tanya Liontin setengah berteriak karena Hasna terus berlari.


"Waalaikumsalam! Duh, anak ini tumben semangat sekali." Liontin tersenyum lebar sambil menatap Hasna keheranan.


Hasna langsung bergegas keluar dari apartemen dan masuk ke mobilnya. Dia mengendarai mobil secepat yang dia bisa. Terik matahari dan panasnya cuaca siang itu tak menyurutkan niat Hasna untuk bertemu Makutha.


Jalanan Kota Metropolitan mulai terlihat padat merayap karena para pekerja mulai kembali ke kantor mereka. Jam istirahat siang sudah selesai. Tak lama kemudian, Hasna sudah sampai di taman kota yang terlihat sepi. Pepohonan rindang yang tertanam di tempat itu membuat udara di sekitar taman menjadi lebih sejuk.


"Kupikir sudah datang." Hasna membuang napas kasar kemudian mendaratkan bokong ke atas kursi yang ada di pinggir taman.


Semilir angin menerpa dedaunan dan membuatnya berguguran. Hasna mendongak. Tatapan perempuan itu menerawang ke langit biru di atasnya. Tak lama kemudian Hasna memejamkan mata.


"Tha, apakah ini momennya? Jika benar, aku akan sangat bahagia. Lihatlah seakan semesta mendukung. Langit begitu cerah, secerah hatiku," gumam Hasna sambil membuka matanya perlahan.


Hasna kembali merogoh ponsel dalam tas. Dia membuka aplikasi Pinterest untuk mencari beberapa rekomendasi gaun pernikahan. Perempuan cantik itu seakan memiliki feeling yang kuat kalau Makutha ingin melamarnya siang itu.


Entah mengapa pikiran itu melintas di benaknya. Jika dipikir lagi, memang satu hal aneh dan langka ketika Makutha mengajaknya bertemu. Terlebih lagi dia mengajak Hasna bertemu di Taman Kota. Tempat yang menyimpan banyak kenangan selama mereka tinggal di Kota Metropolitan.


"Lama sekali," gerutu Hasna sambil melirik bar atas ponselnya.


Jam sudah menunjukkan pukup 14:25. Akan tetapi, Makutha belum datang dan tidak memberinya kabar. Akhirnya Hasna memutuskan untuk menghubungi Makutha lagi. Kali ini panggilan dokter tersebut dijawab.


"Halo ...," sapa seorang laki-laki dari ujung sambungan telepon.


Hasna mengerutkan dahi. Suara itu bukanlah suara Makutha. Itu suara Arjun yang terdengar bergetar. Berbagai dugaan buruk kini bermunculan di kepala Hasna.


"Pak, kok ponsel Makutha ada di Bapak?"


"Na, Makutha ...."

__ADS_1


Dunia Hasna seakan runtuh. Dia tak lagi memedulikan ucapan Arjun. Perempuan cantik itu langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menyusuri jalanan Ibu Kota.


__ADS_2