
Makutha menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan ketika berada di luar ruang sidang. Hari itu entah kenapa jantung hakim ramoan tersebut berdetak begitu kencang. Mungkin karena ini adalah kasus pertama Geng Macan Tutul yang masuk dalam pengadilan.
"Semangat Makutha," gumam Makutha sambil mengepalkan tangannya, berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Pak, ayo, masuk! Sidang akan segera dimulai." Rosma, salah satu anggota majelis hakim mengingatkan Makutha.
Makutha berdeham sekali sambil mengangguk, kemudian memutar tuas pintu. Ketika dia memasukin ruangan yang didominasi warna coklat itu, semua yang hadir dalam ruangan berdiri penuh hormat. Lelaki itu melangkah mantap ke arah meja sidang kemudian mempersilahkan para hadirin duduk.
"Hadirin, silahkan duduk." Suara bariton Makutha menggema memenuhi ruangan persidangan.
Semua orang yang hadir dalam ruangan tersebut pun kembali duduk ke tempat masing-masing. Makutha mulai membacakan nomor register kasus, kemudian mengetuk palu tiga kali tanda persidangan di mulai.
"Kepada penuntut umum, mohon hadirkan terdakwa ke ruang persidangan." Makutha meminta penuntut umum untuk memanggil terdakwa, yang tak lain adalah Ferdi.
Setelah itu, penuntut umum bernama Lita meminta petugas untuk membawa Ferdi ke dalam ruang sidang. Tak lama kemudian, salah satu anggota Geng Cantul tersebut memasuki ruang persidangan.
__ADS_1
Ferdi mengenakan kemeja putih, dan celana formal berwarna hitam. Dia mulai duduk tertunduk, enggan menatap Makutha. Rasa bersalah terus bergelayut di hati lelaki tersebut. Sejak menikam Tito saat penyidikan, lelaki itu seakan kehilangan semangat hidupnya. Beberapa kali dia mencoba untuk mengakhiri hidup, tetapi kembali diurungkan karena teringat orang tuanya yang ada di kampung.
Makutha mulai mengajukan pertanyaan mengenai data pribadi Ferdi. Seperti nama lengkap, usia dan tanggal lahir, alamat rumah, dan juga pekerjaannya. Setelah itu sidang berlangsung seperti biasa. Sampai akhirnya Jaksa penuntut umum membacakan tuntutan.
"Saya tidak terima!" teriak Maudy.
"Saya tidak terima jika lelaki biadab itu hanya dihukum selama 20 tahun penjara! Dia sengaja membunuh suami saya!" Maudy terus berontak berusaha mendekat ke arah Jaksa Penuntut Umum.
Dua orang petugas menahan lengan Maudy. Makutha yang menyaksikan ekspresi Maudy tersenyum miring. Lelaki itu menggaruk dahi kemudian membuang muka.
"Yang Mulia, tolong jangan mengabulkan tuntutan dari Jaksa! Harusnya Ferdi dihukum lebih berat!"
Awalnya Makutha enggan menanggapi ocehan Maudy. Namun, sesaat kemudian dia menatap sinis ke arah perempuan yang tengah mengandung delapan bulan tersebut.
"Tenanglah. Semuanya akan berjalan sesuai ketentuan hukum. Aku rasa korban tidak akan ada yang dirugikan dengan putusan Majelis Hakim."
__ADS_1
"Tapi, Yang Mulia ...." Ucapan Maudy menggantung di udara.
"Kami memiliki tata cara tersendiri dalam persidangan. Jadi tetap tenang dan kembali ke tempat dudukmu."
Setelah situasi kembali kondusif, sidang kembali berlangsung. Ferdi tidak mengelak dari semua perbuatannya. Lelaki tersebut mengajukan Pledoi (nota pembelaan) melalui penasihat hukumnya, dan dibacakan hari itu juga setelah Makutha mengijinkannya.
"Terdakwa atas nama Ferdi hanya ingin keringanan hukuman. Beliau sadar akan kesalahannya dan bersedia menjalani hukuman sesuai dengan putusan Majelis Hakim." Pengacara Ferdi membacakan nota pembelaan di persidangan tersebut.
Makutha tersenyum tipis. Dia tidak menyangka Ferdi mengajukan pledoi diluar dugaan. Biasanya para terdakwa ingin terbebas dari semua dakwaan, tetapi tidak dengan lelaki itu. Dia justru mengakui kesalahannya di depan persidangan, dan bersedia menerima hukuman. Hanya saja dia meminta keringanan hukuman melalui upaya hukum yang diberikan kepadamya.
"Baiklah, Majelis Hakim membutuhkan waktu tujuh hari untuk mengambil keputusan. Jadi, sidang hari ini dinyatakan ditunda dan ditutup." Makutha mengetukkan palunya tiga kali, kemudian mulai berdiri dari kursi dan beranjak pergi dari ruang sidang.
Di sisi lain, Hans yang juga menyaksikan jalannya persidangan bersama Usman, menatap sinis ke arah Makutha. Dia tersenyum penuh arti kemudian mendekatkan diri ke arah Usman.
"Apa rencana kita selanjutnya, Man?" bisik Hans sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1