
Sepanjang perjalan pulang, Tiara hanya menatap jalanan. Rasa sedih, kecewa, serta marah bercampur menjadi satu. Baru kali ini dia merasa jatuh cinta, tetapi harus menelan kekecewaan yang sangat menyakitkan.
Tatapan gadis polos itu kosong. Dia menatap jalanan yang benderang karena lampu merkuri. Hasna tidak mau mengganggu Tiara. Jadi, dokter cantik itu memilih diam.
Sesampainya di apartemen, Tiara melangkah lemas menuju kamarnya. Liontin awalnya ingin segera memeluk putri kesayangannya. Namun, Hasna mencegahnya. Dia menggeleng, sehingga Liontin terpaksa menatap nanar punggung Tiara yang kini menghilang di balik pintu kamar.
"Bunda, tolong berikan waktu buat Ara buat sendiri. Dia pasti sangat terpukul."
"Jadi, selama ini dia pergi ke mana? Apa dia benar-benar diculik?" tanya Liontin panik.
Hasna menarik lengan sang ibu dan mengajaknya duduk di ruang tengah. Liontin masih terus menatap kamar sang putri yang tertutup. Hasna meraih jemari sang ibu kemudian mengusap lembut punggung tangannya.
"Bun, dia sebenarnya sengaja menemui penculik itu. Menurut si penculik, dia suka rela untuk tinggal di rumahnya."
"Apa maksudnya? Bunda nggak ngerti."
"Ara suka sama orang yang dikatakan penculik itu. Jadi, dia ngikut aja tinggal di rumahnya tanpa paksaan."
Seketika kepala Liontin berdenyut. Perempuan itu mulai memijat pelan keningnya. Dia tidak menyangka kalau putrinya berpikiran sesempit itu. Sesaat kemudian, Liontin menghentikan gerakannya kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Hasna.
"Apa dia dihipnotis, atau semacamnya?"
"Nggak, Bund. Ara melakukannya dalam keadaan 100 persen."
"Astaghfirullah ... apa yang ada dipikiranmu saat itu Ara!" Liontin mengusap kasar wajahnya.
"Nanti kalau Tiara sudah lebih baik, Hasna akan coba bicara dengannya." Hasna tersenyum lembut, berusaha menenangkan sang ibu.
"Oh, ya. Apa Hasmita lagi tidur?" tanya Hasna.
"Iya, baru saja mau tidur. Dari tadi dia rewel."
...****************...
Keesokan harinya, ketika matahari sudah berada tepat di puncak kepala, Hasna memutuskan untuk mengetuk pintu Tiara. Gadis manis itu sama sekali tidak keluar kamar.
Rasa khawatir semakin merasuk di hati Hasna, saat ketukannya tidak mendapatkan jawaban. Lama kelamaan ketukan Hasna berubah menjadi gedoran. Hasmita pun ikut panik, seakan mengetahui suasana hati sang ibu angkat.
"Na, kenapa?" tanya Liontin sembari berlari ke arahnya dan mengambil alih tubuh mungil Hasmita.
__ADS_1
"Tiara nggak mau buka pintu, Bund!" seru Hasna panik.
"Dobrak!"
Hasna pun segera mundur beberapa langkah, dan berlari kecil ke arah pintu. Dia mendorong pintu tersebut dengan lengannya sekuat mungkin. Akan tetapi, benda itu tidak bergeser sedikit pun.
Hasna tidak menyerah begitu saja. Dia kembali mundur beberapa langkah dan mendaratkan lengan atasnya pada pintu. Kali ini pintu berhasil terbuka. Namun, bukan karena Hasna yang mendobraknya, melainkan Tiara membuka pintu itu secara suka rela.
Tak elak Hasna pun terjerembab dan tersungkur di atas lantai. Liontin serta Tiara langsung terbelalak. Tiara bergegas mendekati Hasna dan membantunya berdiri.
"Mbak Hasna nggak pa-pa, 'kan?"
"Kamu itu kenapa? Bikin orang panik sa-ja." Hasna terdiam sesaat ketika menatap Tiara.
Tak lama kemudian, tawa dokter cantik itu pecah. Dia melihat wajah Tiara sudah dipenuhi dengan warna make-up yang mencolok mata. Tiara memakai eyeshadow berwarna biru tua dan dilapisi warna merah muda pada garis matanya.
Tiara juga menggambar alisnya menggunakan pensil alis berwarna hitam pekat. Pipi gadis tersebut terlihat merah merona karena menggunakan blush-on. Bibirnya juga begitu menantang dengan lipstik merah terang.
"Astaga, Ra! Kamu ...." Hasna tertawa terpingkal-pingkal setiap menatap Tiara. Ujung mata perempuan cantik itu semakin basah karena tawa yang pecah.
"Apa sih, Mbak?" Tiara mengerucutkan bibir dengan alis yang saling bertautan.
Liontin yang berada di ambang pintu pun tersenyum geli melihat tingkah absurd putrinya itu. "Kamu kok tumben pakai-pakai make-up, Nduk?"
"Biar cantik, Bun. Ara mau balas dendam sama Mas Al! Mau bikin dia menyesal karena udah ngatain Ara bodoh!" seru Tiara sembari berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Tiara, sontak membuat Hasna menelan kembali tawanya. Kesedihan yang dirasakan Tiara kini menjalar dan meremas hatinya. Hasna perlahan mendekati Tiara yang kini terduduk lesu di atas sofa.
"Ra, boleh Mbak kasih saran?"
Tiara menatap nanar kakak angkatnya itu. Matanya mulai basah dengan bulir bening yang kini turun ke pipi. Hasna merangkum wajah Tiara kemudian tersenyum lembut.
"Ra, semua wanita itu cantik di mata lelaki yang tepat. Kamu juga cantik. Kamu cantik dengan caramu. Tidak perlu meniru orang lain supaya mendapat pengakuan itu."
"Tapi Mbak ...."
"Sssttt ...." Hasna menempelkan telunjuknya di atas bibir Tiara.
"Sekarang, kamu fokus aja sama isi kepalamu. Kamu itu pintar, nantinya akan ada lelaki yang terpesona dengan kecerdasanmu. Lelaki itu tidak melulu memuja wanita karena penampilannya."
__ADS_1
Kini sebuah senyum mengembang di bibir Tiara. Gadis cantik itu pun masuk ke pelukan Hasna. Hasna mengusap lembut punggung sang adik. Kekhawatiran Hasna tidak terbukti.
"Mas Makutha ke mana Mbak?" Tiara melepaskan pelukan karena teringat dengan keberadaan Makutha.
Setiap pagi, Makutha biasanya akan mampir ke apartemen Hasna untuk ikut sarapan bersama. Namun, hari ini lelaki itu tidak menampakkan batang hidungnya. Hal itu tentu saja membuat Tiara bertanya-tanya.
"Sebenarnya di hari yang sama ketika kamu menghilang, dia ditangkap polisi."
"Benarkah?" Pupil mata Tiara melebar.
"Iya. Dia dituduh menjadi provokator aksi tawuran tujuh tahun lalu."
Hasna mulai menceritakan rangkaian kejadian beberapa hari lalu itu. Tiara terlihat begitu cemas. Dia hanya menyimak setiap kata yang terucap dari bibir Hasna.
"Makanya Mbak Hasna panik setengah mati ketika kamu tiba-tiba menghilang di hari yang sama."
"Maaf, Mbak." Tiara tertunduk lesu sembari memilin ujung rok.
"Ra, kamu tahu Albert itu kerja di mana?"
"Nggak, Mbak. Tapi, dia berseragam layaknya pegawai negeri gitu."
Mendengar penuturan Tiara, Hasna langsung terbelalak. Keyakinannya semakin kuat kalau Albert dan penculikan Tiara sangat berkaitan erat dengan Liam.
...****************...
"Ayo, akui perbuatanmu! Benar 'kan kamu yang menjadi provokator aksi tawuran itu? Ha!" bentak seorang petugas investigasi kepada Makutha.
"Aku diancam oleh Liam dan beberapa teman lain." Makutha menatap tajam bernama Agus di depannya itu.
"Bohong! Ayo ngaku!" teriak Agus kemudian mendaratkan sebuah pukulan pada pipi Makutha.
Hampir satu minggu Makutha ada dalam rumah tahanan kantor polisi Kota Batik tersebut. Dia kembali menatap sang petugas penuh kemarahan. Lelaki tampan tersebut melirik ke arah dada kiri petugas tersebut.
"Pak Agus, aku akan mengingat namamu dan kamu akan membayar ini semua!" seru Makutha penuh amarah.
Tawa petugas itu pecah. Dia melontarkan kalimat ejekan yang semakin membuat Makutha naik pitam. Kali ini Makutha tidak bosa menahan lagi emosinya. Dia beranjak dari kursi dan memukul wajah polisi tersebut dengan puncak kepalanya.
"Aku bilang kamu akan menanggung semuanya. Berhentilah tertawa dan kerjakan saja tugasmu, Bedebah!"
__ADS_1