
Hasna langsung melajukan mobil menuju apartemen. Sesampainya di tempat itu, dia langsung mencari keberadaan Liontin. Awalnya Hasna kebingunan karena tidak melihat Liontin di mana pun.
Ternyata sang ibu sedang duduk di sudut kamarnya sambil menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan. Hasna melangkah cepat untuk menghampiri Liontin. Perempuan cantik itu meraih lengan sang ibu untuk memastikan kondisinya.
"Bunda, bagaimana ceritanya Ara bisa menghilang?" tanya Hasna panik.
Liontin mendongak kemudian menatap Hasna sedih. Wajah perempuan itu sudah basah dengan air mata. Kelopak matanya juga terlihat mulai bengkak.
"Ta-tadi Ara ijin keluar buat menemui temannya. Bunda mengijinkannya tanpa menaruh curiga, karena memang sahabatnya ada yang tinggal di sini." Liontin terbata-bata ketika menceritakan awal mula kejadian yang menimpa sang putri.
"Lalu?"
"Waktu Bunda mau menghubunginya untuk membelikan popok buat Hasmita, ponselnya tidak bisa dihubungi. Awalnya bunda masih berpikiran positif. Tapi, waktu Bunda coba hubungi Ara lagi, ponselnya tidak kunjung aktif." Liontin mulai menangis tersedu-sedu.
"Bunda sudah hubungi teman Tiara yang tinggal di sini?"
"Sudah, tapi katanya Ara nggak ada di sana."
"Astaga Tiara, kamu ke mana?" Hasna mengusap wajah kasar.
Dua perempuan beda usia itu saling berpelukan. Hasna berusaha menenangkan sang ibu. Membutuhkan waktu lumayan lama untuk meredam kegelisahan Liontin.
Hasna tak menampik bagaimana paniknya Liontin saat ini. Ibu mana yang tidak khawatir ketika tidak bisa menghubungi sang putri secara tiba-tiba.
Setelah Liontin tenang, Hasna memutuskan untuk menghubungi Arjun. Dia berjalan ke arah kamarnya sambil menempelkan ponsel pada daun telinga. Setelah nada tunggu ketiga berbunyi, panggilannya diangkat oleh Arjun.
"Halo, Pak. Maaf sebelumnya saya mengganggu."
"Ada apa, Na?"
"Bisa saya minta tolong? Tiara menghilang sejak sore tadi, Pak. Dia tidak bisa dihubungi. Ini sangat mencurigakan. Saya khawatir kalau ini semua ada hubungannya dengan kasus Makutha."
"Astaga! Baiklah, aku akan meminta bantuan kepolisian."
"Saya tunggu kabar selanjutnya, Pak." Hasna mematikan sambungan telepon.
Dokter cantik itu pun keluar kamar dan duduk di balkon. Menatap senja dengan kerlip bintang yang masih terlihat samar. Angin sepoi menerpa wajah cantik gadis berjilbab itu.
"Ara ... kamu di mana?"
...****************...
__ADS_1
Langit sudah berubah menjadi gelap ketika Makutha sampai di Polres Solo. Lelaki itu menatap langit luas yang membentang di atasnya. Dia menghirup dalam udara Kota Batik yang sudah lama ditinggalkannya.
Kota ini menyimpan banyak kenangan. Salah satunya adalah kenangan masa kelam, yang kini berusaha diungkit oleh Liam. Makutha tersenyum kecut mengingat kasus yang menimpanya saat ini.
"Ayo masuk!" ujar seorang polisi kepada Makutha.
Lelaki tampan itu pun melangkah mendekati kantor polisi. Dia langsung diarahkan menuju sel tahanan. Sel yang sama ketika dia pertama kali masuk ke dalam jeruji besi tujuh tahun lalu.
"Sialan," umpat Makutha lirih sembari tersenyum miring.
"Apa kamu bilang?" tanya polisi yang kini bersamanya dengan nada penuh amarah.
"Ah, tidak, Pak. Aku hanya mengumpat pada deretan jeruji besi ini. Setelah tujuh tahun, kenapa aku harus mencium aromanya lagi? Bukankah ini adalah hal yang sangat menyebalkan?"
"Oh, kupikir kamu mengumoat kepadaku! Aku tidak akan segan-segan menghajarmu kalau sampai menimbulkan masalah. Aku tahu kamu adalah seorang hakim. Tapi, di sini statusmu sama dengan mereka bertiga!" Polisi itu membuang pandangan ke arah penjara.
Di dalam tempat sempit itu, sudah ada tiga orang laki-laki dengan wajah yang terlihat sadis. Tahanan 007 memiliki tato kucing pada lengan kirinya. Dia memiliki tubuh tambun dan kumis lebat. Kepala lelaki tersebut botak dan tampak begitu licin, seakan bisa dipakai untuk mengaca.
Tahanan 212, terlihat pendiam. Akan tetapi, pria berambut sebahu itu menatap Makutha penuh kebencian. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu, yang jelas Makutha tidak nyaman ketika tatapannya bertemu dengan pria tersebut.
"Masuk!" Polisi yang sedari tadi bersama Makutha mendorong punggungnya.
Makutha pun terjerembab ke atas lantai. Tepat di hadapannya kini berdiri tegap seorang narapidana lain dengan nomor kaos 119. Makutha mendongak, dan tatapan keduanya pun bertemu.
Makutha memilih diam, lalu perlahan bangkit dan berjalan ke sudut sel tahanan. Tiga orang tahanan yang ada dalam ruangan itu pun menghampiri Makutha. Mereka berdiri tepat di hadapan sang hakim, kemudian menatapnya tajam.
"Hei, siapa namamu?" tanya si 119.
"Apakah penting untuk tahu siapa aku?" Makutha malah balik bertanya tanpa menatap lelaki di hadapannya.
Melihat sikap angkuh Makutha, tentu saja membuat si nomor 119 tersebut naik pitam. Dia mendekati Makutha kemudian menjepit rahang lelaki tersebut dengan jemarinya.
"Kenalkan, aku Martin si pencabut nyawa! Kasus terakhirku adalah memutilasi orang! Hahaha!" Martin tertawa lepas terlihat angkuh.
"Wah, ancaman hukuman mati! Kira-kira apa permintaan terakhirmu?" Makutha menatap tajam Martin sambil tersenyum miring.
"Brengsek!" umpat Martin kemudian mendaratkan tinju pada perut Makutha.
Makutha kembali tersungkur ke atas lantai. Kini giliran lelaki bernomor 007 dan 212 yang mendekat. Mereka memegangi lengan Makutha. Si 007 memegang lengan kanan, sedangkan tahanan 212 memegang lengan kiri.
"Jangan sampai lepas, Wira!" perintah Martin kepada tahanan 212.
__ADS_1
Martin mulai menghujani Makutha dengan belasan pukulan. Makutha sebenarnya bisa saja melawan, tetapi dia enggan meladeni ketiga tahanan itu. Selama dia sanggup menahan rasa sakit yang mereka berikan, maka Makutha berniat untuk tetap diam.
"Bos, apa kekuatanmu melemah?" ejek si 007.
"Apa kamu sudah merindukan kepalan tinjuku, Sar?" Martin melemparkan tatapan tajam ke arah Sartono si tahanan bernomor 007.
"Aku hanya bercanda, Bos!"
Aksi mereka berlanjut hingga sepuluh menit. Hebatnya Makutha masih bisa menahan setiap serangan yang diluncurkan oleh mereka bertiga. Tenaga Martin sudah terkuras, tetapi Makutha masih terlihat biasa saja.
"Gantian kamu, Sar yang hajar dia!" perintah Martin kepada Sartono.
Mereka pun bergantian posisi. Ketika Sartono hendak mendaratkan tinju pada wajah Makutha, lengannya mendadak berhenti. Makutha kali ini angkat bicara.
"Apa aku memiliki salah kepada kalian?"
Sartono mengerutkan dahi. Makutha pun tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku datang ke sini baik-baik. Tidak mengganggu kalian. Aku langsung memilih untuk menghindar agar kalian tidak merasa terganggu. Tapi ...." Makutha melemparkan tatapannya kepada Martin.
"Lelaki ini membuatku muak. Dia sok berkuasa karena telah membunuh seseorang. Apa kamu pikir tindakan pembunuhan adalah sesuatu yang patut dibanggakan, ha!" Rahang Makutha mengeras dan tatapannya terlihat berapi-api.
"Kamu merupakan penjahat HAM! Kamu merenggut hak manusia lain untuk hidup!"
Martin melepaskan lengan Makutha. Dia juga meminta Wira untuk melepaskan sang hakim. Martin menatap tajam Makutha sambil merapatkan gigi, sehingga terlihat otot rahangnya semakin menonjol.
"Tahu apa kamu? Persetan dengan Hak Asasi! Kamu pikir pemerintah saat ini menghargai HAM? TIDAK! Semua berjalan sesuai keinginan pemerintah dan kaum borjuis!"
Martin diketahui tersangka yang membunuh seorang pengusaha tekstil terkaya di Solo. Awalnya dia hanya mewakili karyawan lain yang menuntut upah atas kerjanya yang tidak dibayarkan oleh pabrik. Namun, Martin justru dituding sebagai provokator yang menyebabkan terjadinya demo serta mogok kerja di depan pabrik tekstil itu.
"Aku bisa membantumu, jika memang kamu merasa hakmu terenggut. Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Aku ini seorang hakim. Aku akan membantumu ketika aku terbukti tidak bersalah."
"Hakim?" Martin terbelalak.
Begitu juga dengan Sartono serta Wira. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum remeh. Mereka tentu saja tidak lekas percaya dengan ucapan Makutha. Tawa mereka bertiga pun akhirnya pecah seketika.
...****************...
Halooo gesss,
Mampir ke karya bestie aku juga yakkk ❤❤❤
__ADS_1