Sisi Gelap Seorang Hakim

Sisi Gelap Seorang Hakim
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?


__ADS_3

Tak lama kemudian, beberapa orang polisi mendatangi ruang kerja Sang Walikota. Mereka membawa surat perintah penangkapan, dan menunjukkannya kepada Roby serta Liam.


"Untuk apa kalian ke sini?" tanya Roby penuh amarah.


"Pak Roby, Anda ditangkap karena kasus penyuapan." Polisi tersebut meminta dua polisi lain untuk menangkap Roby.


Sang Presiden berontak ketika lengannya hendak dipasangi borgol. Liam tersenyum geli kemudian tertawa terbahak-bahak. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat ayahnya dibekuk oleh aparat kepolisian.


Namun, tawa Liam mendadak berhenti saat dua polisi lain mendekatinya dan memasang borgol. Dia terbelalak, dan berusaha untuk lepas dari mereka.


"Pak Liam, Anda ditahan karena kasus yang sama." Polisi yang merupakan ketua dari tim tersebut maju mendekati Liam sambil menunjukkan surat perintah penangkapan kepada Liam.


"Aku tidak pernah melakukan penyuapan!" teriak Liam geram.


"Tapi, Anda menerima suap dari beberapa perusahaan besar. Mohon jelaskan saja semuanya nanti di kantor polisi."


Akhirnya keduanya digelandang ke kantor polisi. Semua pegawai kantor Walikota menatap keduanya dengan berbagai ekspresi. Ada yang menatap mereka kasihan, terkejut, marah, tetapi ada yang menatap keduanya penuh ejekan.


Di luar gedung Walikota ternyata puluhan awak media sudah menanti mereka. Kilat lampu kamera berkerlip berulang kali mencoba mengambil gambar Liam dan juga Roby. Tubuh mereka akhirnya masuk ke dalam mobil polisi dan berlalu membelah kerumunan para wartawan yang haus akan berita.


...****************...


Di sisi lain, Makutha sudah rapi dalam balutan kemeja serta celana formal yang dia pakai di hari ketika ditangkap. Dia berjalan keluar dari kantor polisi dengan senyum lebar. Hari ini juga, dia berniat mengungkapkan perasaan kepada Hasna dan melamarnya.


Tepat ketika keluar dari tahanan, para wanita kesayangan Makutha sudah menunggunya di luar dengan mata berkaca-kaca. Liontin membuka lengannya lebar-lebar untuk memberikan pelukan kepada putranya itu.


Makutha berlari kemudian menghambur ke dalam pelukan sang ibu. Hasna mendongak berharap air mata bahagianya tidak meluap berlebihan. Sedangkan Tiara sudah tersenyum dengan ribuan ide jahil, ingin menggoda sang kakak.


"Akhirnya kamu terbebas, Tha."


"Iya, Bun. Serapat apa pun kebenaran disembunyikan. Nanti pasti akan terbuka dengan sendirinya."


Liontin melepaskan pelukannya kemudian merangkum wajah Makutha. Dia menatap dalam mata lelaki tampan itu. Sebuah senyum lebar terukir di bibir Liontin.


"Tidak lupa dengan janjimu kepada Hasna, 'kan?"


Makutha mengangguk mantap. Lelaki itu pun segera menghampiri Hasna yang masih berusaha menahan tangis. Liontin juga mendekati perempuan itu dan mengambil alih Hasmita dari pelukan Hasna.


"Na ...." Makutha meraih jemari Hasna kemudian mengecupnya lembut.


"Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Aku juga tidak tahu, apakah aku sudah terlambat atau belum." Makutha menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Tapi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Aku sangat mencintaimu sejak dulu. Aku ingin membahagiakanmu dan bersama kamu di sisa hidupku."


Genggaman jemari Makutha semakin kuat, sekuat perasaan cintanya kepada Hasna. Kali ini rasa haru dan bahagia menyeruak ke dalam hati Hasna. Air mata kebahagiaan tidak sanggup lagi dibendung oleh perempuan berjilbab itu.


"Na, maukah kamu menikah denganku? Kita besarkan Hasmita sama-sama."


Hasna mengangguk tanpa ragu. Makutha mengeluarkan kotak hitam dari saku celana kemudian membuka kotak tersebut. Dia menarik jemari Hasna dan menyelipkan cincin berlian di jari manisnya.


Air mata Hasna meleleh. Dia tak menyangka penantiannya menunggu Makutha membuahkan hasil. Cinta memang tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.


"Jadi, kapan kalian mau nikah?"


Pertanyaan Tiara sontak membuat Makutha dan Hasna menoleh ke arahnya. Makutha tersenyum lebar kemudian kembali menatap Hasna penuh cinta.


"Secepatnya!" Makutha bersiap mendaratkan ciuman pada puncak kepala Hasna, tetapi Tiara mencegahnya.


"Hoooppp!" teriak Tiara.


"Nikahin dulu! Tuh, tangan lepas-lepasin!" Tiara melirik jemari Hasna dan Makutha yang masih bertautan.


"Dikit doang, Ra." Makutha mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes.


"Dasar pelit!"


"Dih, biarin!"


"Tunggu!" Makutha baru sadar ada yang beda dari adik kesayangannya itu.


Makutha pun mendekati Hasna kemudian meneliti penampilan gadis manis itu. Tiara terlihat sedikit berbeda. Gadis yang biasanya sangat cuek dengan penampilan itu, kini terlihat feminim dalam balutan dress bermotif bunga matahari. Kepalanya dihiasi bandana berwarna kuning.


"Kamu pake bedak, Ra?" Makutha terbelalak ketika menyadari sang adik memakai riasan pada wajahnya.


"Kenapa?"


"Hapus! Sini kuhapusin! Jelek!"


...****************...


Dua hari kemudian ....


Hasna terbangun dengan senyum mengembang sempurna. Hari ini dia akan mendatangi sebuah butik untuk melakukan fiting gaun pengantin. Dia hanya mengajak Tiara karena Hasmita sedikit demam. Hasna langsung turun dari ranjang dan mulai bersiap.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, Hasna sudah ikut bergabung di meja makan bersama Makutha dan juga Liontin. Tiara sedang menemani Hasmita sementara sang ibu sarapan.


"Sudah siap?" tanya Makutha.


"Iya, sudah. Hari ini belum masuk juga?"


"Nanti setelah fitting baju, aku akan ke kantor."


"Baiklah."


Mereka bertiga makan dengan tenang. Setelah selesai, Hasna memanggil Tiara yang masih ada di dalam kamar. Makutha keluar lebih dulu untuk memanasi mobil.


"Ra, yuk!" ajak Hasna sembari tersenyum lebar.


"Oke, bentar. Ara ambil tas dulu."


"Kutunggu di mobil, ya?"


Tiara mengangguk tanda setuju, dan Hasna pun segera menyusul Makutha ke mobil. Tak lama kemudian, Tiara menyusul dan duduk di kursi belakang bersama Hasna.


"Duh, berasa jadi sopir kalian," gerutu Makutha.


"Udah, nggak usah banyak omong! Buruan gas ke butik. Ara udah nggak sabar lihat Mbak Hasna pakai gaun pengantin!"


Makutha tersenyum kecut, enggan menjawab ocehan Tiara. Dia langsung melajukan mobil menuju butik yang mereka maksud. Butik itu adalah salah satu cabang butik milik Bintang, ibu Abercio.


"Sudah sampai!" seru Makutha ketika sampai di sebuah butik dengan patung pajangan berbalut busana pengantin wanita.


Jantung Hasna berdegup begitu kencang. Dia masih tidak percaya akhirnya bisa datang ke tempat ini. Hasna melangkah turun dari mobil dan mengekor di belakang Makutha. Tanpa mereka duga, ternyata Bintang sedang ada di butik itu bersama adik Abercio.


"Utha!" seru Bintang kemudian memeluk sahabat kecil putranya.


"Tante, apa kabar?"


"Baik, ayo! Tante sudah siapkan beberapa pakaian eksklusif untuk kalian!" Bintang menggandeng jemari Hasna dan mengajak mereka semua masuk ke ruang VVIP butik tersebut.


Di sisi lain, Tiara dan Andra saling melemparkan tatapan tajam. Keduanya merupakan musuh bebuyutan sejak kecil. Jika kedua kakak mereka sangat akrab, tidak begitu dengan Tiara dan Andra. Sebenarnya mereka dulu sering bermain bersama. Namun, Tiara menjauhi Andra karena suatu hal.


Begitu Hasna melangkah ke dalam ruangan bernuansa pastel itu, dia terbelalak. Ada tiga pasang gaun pernikahan yang sangat cantik di sana. Perempuan itu sangat tersentuh dengan kebaikan mantan calon ibu mertuanya itu.


"Tante, a-apa ini tidak berlebihan?" Hasna menutup bibirnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


__ADS_2