
Sera tidak mau berdebat dengan Saka di depan Chris, bisa-bisa anak itu akan berpikiran kalau Sera berani dengan orang yang memberinya gaji. Walaupun gaji dia dapat dari Ruby tapi tetap saja asal uang itu dari Saka.
"Tuan muda mau minum apa? Mau segelas susu cokelat panas?" tanya Sera.
"Boleh," sahut Chris kesenangan.
Sera bergegas keluar untuk menurunkan belanjaannya, dia akan membuat makan malam sekalian. Dia berkutat di dapur seorang diri.
"Saya akan membuat steak, apa Tuan Muda suka?" tanya Sera.
"Bolehkah aku membantu?" Chris mendatangi Sera ke dapur.
"Tentu saja boleh," sahut Sera seraya memberikan susu cokelat panas yang baru dibuatnya. "Minum dulu susunya sampai habis!"
"Saya akan marinasi dagingnya terlebih dahulu jadi kita tinggal memasaknya nanti!"
Chris menurut, anak itu duduk dengan tenang sambil menikmati susunya.
Sementara Saka masih duduk di sofa dengan hati kesal karena merasa seperti manusia tidak dianggap. Tapi, dia tetap mempertahankan harga dirinya. Lelaki itu menunggu sampai masakan Sera dan Chris selesai.
Di dapur Chris tampak memakai afron dengan wajahnya yang terus tersenyum sambil memanggang daging. Ini pengalaman baru untuk Chris.
__ADS_1
"Di mansion, tidak ada yang membolehkan aku ke dapur," ungkap Chris.
"Oh iya? Di sini Tuan Muda bebas melakukan apapun," balas Sera. Walaupun Sera membiarkan Chris memegang spatula tapi dia tetap mengawasi anak itu sambil menyiapkan saus steak.
Setelah steak dirasa sudah masak, Chris bergegas memanggil Saka dan menarik sang daddy ke meja makan.
"Daddy harus merasakan hasil masakanku," ucap Chris bersemangat.
Mereka bertiga pun duduk di meja makan bertiga seperti keluarga, walaupun canggung Sera tetap berusaha bersikap biasa saja.
"Lain kali kalau Chris meminta berkunjung, sebaiknya kau tidak bertahan seperti ini, Mr. Saka. Ingat, kau masih punya istri!" bisik Sera di telinga Saka saat meletakkan piring berisi steak di hadapan lelaki itu.
"Bagaimana, Dad?" tanya Chris saat melihat Saka menyuapkan daging ke mulut lelaki itu.
"Lumayan," jawab Saka singkat.
Chris melihat ke arah Sera kemudian mengajak tos bersama. Anak itu kelihatan senang sekali.
"Sudah aku bilang yang dibutuhkan anak ini bukan uang," batin Sera seraya mengusap kepala Chris. Dia pasti akan bisa membebaskan Chris dari tangan Ruby atau Edgar. Karena kedua orang itu yang mengancam keberadaan anaknya.
"Tuan muda, apa pernah bermain monopoli?" tanya Sera kemudian.
__ADS_1
"Monopoli?" tanya Chris dan Saka bersamaan.
"Ya ampun kalian berdua memang payah, apalagi kau, Tuan Saka." Sera kembali menyindir. "Itu permainan yang populer!"
Selesai makan akhirnya Sera memperkenalkan keduanya mainan monopoli. Di sini Sera bisa menjadi kaya dibanding Saka.
Sera menjelaskan aturan mainnya pada Saka dan Chris.
"Jadi kita beli dulu rumah dan bangunan memakai modal kita kemudian nanti kita bisa jual ke bank kalau uang kita habis. Setiap yang singgah ke bangunan kita harus bayar uang sewanya. Apa kalian mengerti?" jelas Sera.
Saka dan Chris mengangguk, mereka bermain begitu serius padahal hanya memakai uang kertas mainan.
Mereka tegang ketika uang mereka akan habis dan membayar sewa bangunan Sera.
"Aku sepertinya bangkrut, Dad," ucap Chris yang uangnya habis dan bangunannya sudah habis anak itu jual.
"Tenang Tuan Muda, saya pasti akan menang," bujuk Sera. Kini dia hanya perlu mengalahkan Saka.
Saka tampak mengeluarkan keringat dingin, selama ini perhitungannya tidak pernah gagal. Dia menjual satu bangunannya ke bank untuk mendapatkan uang. Kemudian dia mulai berjalan lagi dan berhenti di bangunan Sera. Otomatis dia harus membayar uang sewa lagi.
"Argh!" teriak Saka. Dia membalik monopoli sampai berantakan. "Aku tidak suka permainan ini, aku tidak suka menjadi miskin!"
__ADS_1