Sleeping With Mr. Saka

Sleeping With Mr. Saka
SWMS BAB 78 - Serba Salah


__ADS_3

Setelah perjalanan dari liburan keluarga berkedok bulan madu, Saka dan Sera melakukan aktivitas baru mereka menjadi pasangan.


Walaupun hamil, Sera tetap tidak malas untuk bangun pagi. Dia tidak memasak tapi membantu menyiapkan makanan suami dan anaknya.


Sementara Saka, merasa tidurnya lelap semenjak ada Sera bersamanya. Dia tidak pernah insomnia atau menjadi budak alkohol lagi.


Pagi-pagi dia akan mencium aroma kopi di atas nakas samping tempat dia tidur. Dan hal itu membuatnya langsung terbangun.


Ketika dia berangkat kerja, bajunya telah disiapkan oleh istrinya.


"Selesai," ucap Sera ketika memasangkan dasi untuk suaminya. Dia mengadah menatap Saka karena tinggi lelaki itu jauh darinya.


Sebuah kecupan Sera dapatkan dari Saka. Kemudian lelaki itu membalik tubuh istrinya supaya menghadap cermin.


Saka mengelus perut Sera yang membuncit dengan memeluk perempuan itu dari belakang.


"Kapan jadwal periksanya?" tanya Saka.


"Minggu depan. Kita periksa bersama, 'kan?" Sera menuntut perhatian lebih untuk kehamilan keduanya ini.


"Tentu saja, aku akan mengosongkan jadwal untuk pemeriksaan," jawab Saka.


"Sudah mencari nama?"


"Kita lihat dulu laki-laki atau perempuan,"

__ADS_1


Sera memutar tubuhnya supaya bisa melihat wajah suaminya.


"Begini saja, kalau perempuan kau yang memberi nama tapi jika laki-laki, aku yang memberinya nama," usul Sera.


"Ide bagus," Saka mengecup bibir istrinya karena dia harus segera berangkat.


Satu kebiasaan Saka sekarang, sebelum berangkat ke kantor dia akan mengantarkan Chris ke sekolah.


"Sudah siap?" tanya Saka.


"Siap!" seru Chris bersemangat.


Mereka pergi dari mansion setelah sarapan, Sera akan melambaikan tangannya melepas kepergian suami dan anaknya itu.


Supaya tidak bosan, Sera juga mengikuti kelas hamil dan berkumpul dengan para lady. Semenjak kasus yang dialami Sera, perkumpulan itu menjadi lebih ke arah positif.


"Aku akan menyumbang lebih bulan ini untuk kegiatan amal di panti asuhan," ucap Sera ketika mereka berkumpul.


"Anggap saja ini sebagai rasa syukur atas kehamilanku yang memasuki trimester kedua," lanjutnya.


"Wah, kami tidak sabar menyambut keponakan baru!"


"Ayo kita bertaruh bayi laki-laki atau perempuan!"


Tidak ada gosip dan saling sindir seperti sebelumnya, walaupun kadang ada sesekali tapi dibatas wajar saja.

__ADS_1


Pada saat itu, Jois datang menjemput Sera karena Saka menunggunya untuk periksa kehamilan.


"Aku pergi dulu," pamit Sera.


Saka menunggu istrinya di rumah sakit bersama dokter kandungan pribadi keluarga Aldeguera. Ketika Sera sampai, perempuan itu langsung masuk ke ruangan.


"Kenapa tidak menjemputku? Seharusnya jemput aku dan kita datang bersama-sama," protes Sera seraya berbisik di telinga Saka.


"Memangnya harus begitu?" Saka justru bertanya.


"Itu yang dilakukan pasangan normal," ucap Sera memberitahu.


Saka tampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku mengerti," ucapnya.


"Ish, suamiku memang tidak mengerti tentang menyenangkan pasangan," keluh Sera.


Suasana hati Sera jadi memburuk bahkan saat pemeriksaan kehamilan, perempuan itu tidak bertanya apapun pada dokter.


"Sayang..." Saka membujuk istrinya saat dalam perjalanan pulang. Sampai dia harus memanggil sayang, hal yang selama ini tidak mungkin lelaki itu lakukan.


Bukannya luluh, Sera tidak tertarik sama sekali. Hormon kehamilan memang membuat ibu hamil itu begitu sensitif.


"Malam ini aku mau tidur bersama Chris," ucap Sera ketika sampai.

__ADS_1


Saka menghela nafasnya panjang. "Wanita memang sulit dimengerti!"


__ADS_2