
Setelah Sera terjatuh dan tak sadarkan diri sebelumnya, Saka akhirnya membawa perempuan itu ke hotel.
Lelaki itu segera melepas semua baju Sera dan melakukan metode skin to skin supaya mereka saling menghangatkan satu sama lain.
"Bawakan alkohol dengan kadar tinggi!" perintahnya pada Jois.
Untuk dia yang menjadi pecandu tidak terlalu berpengaruh, berbeda dengan Sera yang langsung merasa pusing.
"Ngh!" Sera memegangi kepalanya dan berusaha sadar. "Chris..."
"Kau harus pulang, Chris menunggumu!"
Sera mendorong dada Saka dengan tangannya yang tak bertenaga lagi.
"Tenang saja, aku sudah meminta kepala pelayan untuk menjaganya," balas Saka.
"Chris butuh teman tapi kau menempatkan rubah betina di sisinya. Aku tidak akan memaafkanmu, Saka!" Sera kembali memaki lelaki itu ditengah kesadarannya yang semakin menipis.
"Maafkan aku, Sera. Mungkin kau akan semakin membenciku!" Saka justru memanfaatkan keadaan itu untuk mencium Sera. Dia sudah tidak tahan lagi, pertahanannya runtuh.
__ADS_1
Ini di luar skenarionya.
Saka membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan Sera yang langsung terlihat pemandangan tubuh perempuan itu yang indah.
Baju Sera sebelumnya sudah basah kuyup semua jadi sekarang ibu kandung Chris itu benar-benar dalam keadaan polos seperti bayi.
Dua benda kenyal Sera sungguh menggoda, mata Saka sudah sayu dan diselimuti gairah yang selama ini tidak dirasakannya pada wanita lain. Padahal jika dia mau, Saka bisa bermain dengan banyak wanita di luar sana.
Namun, hanya Sera yang mampu membuatnya seperti ini.
"Sera..." panggilnya.
"Saka..." balasnya.
Tidak ada suara lagi karena Saka kembali mencium Sera dengan posisi di atas perempuan itu, mereka saling memagut sama lain dan bermain lidah di sana. Sampai tubuh Sera seperti terkena aliran listrik karena lidah itu turun ke lehernya dan menyesap di sana, setelah puas barulah ke bagian sensitif lainnya seperti dua benda kenyalnya sekarang yang dipermainkan.
Sera mengacak rambut Saka ketika lelaki itu berpindah semakin ke bawah dan mempermainkan miliknya yang semakin basah.
Merasa Sera siap untuk dimasuki, Saka memposisikan siap menyuntik perempuan itu. Dia akan melakukannya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Argh!" Saka menggeram karena miliknya dijepit begitu ketat oleh Sera. Rasanya masih sama seperti lima tahun lalu.
Sementara Sera hanya bisa menjerit karena ada tamu tak diundang masuk ke dalam rumahnya. Tamu yang dibencinya tapi anehnya dia tidak menolak.
Saat Sera sadar besok pasti dia akan merutuki kebodohannya ini yang jatuh dalam permainan Saka.
Ranjang di kamar hotel itu menjadi saksi bisu, betapa panasnya dua insan yang memadu kasih itu. Bahkan ranjang itu tidak berhenti berderit ditambah suara tepukan daging semakin keras.
Suara nafas yang memburu, keringat yang bercucuran, semakin menambah bumbu percintaan yang membara.
"Tidurlah, anggap semua ini hanya mimpi," ucap Saka yang sudah mengakhiri permainan gilanya. Dia masih berhasrat pada Sera tapi kalau dilanjutkan pasti perempuan itu akan pingsan.
Saka bahkan tidak menghitung berapa kali lagi Sera menjeritkan namanya ketika gelombang kenikmatan itu datang.
Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum Saka pergi jadi di sisa waktunya itu, Saka kembali memeluk Sera.
Keesokan paginya, ketika Sera terbangun, dia sudah tidak mendapati Saka berada di sampingnya. Sera justru menemukan dirinya yang tampak mengenaskan, tubuhnya penuh tanda merah dan gigitan bahkan miliknya terasa sakit.
"Tidak, tidak..." Sera menggelengkan kepalanya. "Aku kembali tidur dengan Saka?"
__ADS_1