
Saka kembali ke mansion saat dini hari tiba, lelaki itu masuk dan disambut oleh pelayan pribadinya. Pelayan itu melaporkan apa yang terjadi tadi siang di mana Sera datang dan berseteru dengan Ruby.
"Nyonya Ruby pergi dan belum kembali sampai sekarang," tambahnya selesai bercerita.
Tidak ada respon dari Saka selain mendengarkan, lelaki itu melangkah ke kamar Chris untuk melihat keadaan putranya terlebih dahulu.
Namun, anak itu tidak ada di kamarnya.
"Di mana Chris?" tanya Saka.
Dia bergegas ke ruang kerjanya untuk mengecek cctv dan ternyata yang dicarinya tengah tertidur di sofa ruang kerjanya.
Chris tampak memeluk tubuhnya sendiri yang kecil itu. Sepertinya Chris kedinginan, sekarang anak itu persis kucing yang ditinggal induknya.
"Tuan..." panggil pelayan pribadi Saka.
"Biar aku yang mengurusnya," ucap Saka yang matanya terus memandangi Chris.
Lelaki itu kemudian menggendong anaknya untuk menidurkannya di kamar.
Saat Saka akan meninggalkan anak itu, Chris terbangun. Dia langsung mencekal tangan sang daddy supaya tidak pergi.
__ADS_1
"Daddy...." panggil Chris.
Akhirnya Saka ikut berbaring di samping putranya dan meminta anak laki-laki itu tidur lagi.
"Apa daddy menyayangiku?" tanya Chris sambil memeluk Saka.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Saka bertanya balik. Selama ini Chris tidak pernah bertanya hal seperti itu jadi membuatnya penasaran. "Apa ada yang mengganggumu?"
Tidak ada jawaban dari Chris karena anak itu kembali tertidur. Mungkin sebelumnya, Chris masih berada di alam bawah sadarnya.
...***...
"Akh! Aku keluar lagi!" teriak Ruby yang langsung ambruk di atas tubuh Derreck. Nafasnya tersengal-sengal.
Sejenak Ruby bisa melupakan masalahnya.
"Istirahatlah, kau pasti lelah," ucap Derreck sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Ruby.
"Saka mempermainkan aku selama ini, aku membencinya," sahut Ruby. Ternyata rasa sakit hatinya tidak mau hilang barang sebentar saja.
Derreck tidak bisa menjawab karena dia adalah bagian dari rencana Saka. Awalnya memang dia tidak mempunyai perasaan apapun untuk Ruby tapi setelah bercinta sampai tidak terhitung, ada perasaan peduli pada perempuan itu. Apalagi saat seperti sekarang, Ruby menunjukkan sisi lemahnya.
__ADS_1
Setelah Ruby terlelap karena kelelahan, Derreck mencoba menghubungi Saka. Kali ini, dia ingin meminta Saka menceraikan perempuan itu supaya dia bisa membawanya pergi.
"Apa kau yakin?" tanya Saka.
"Saya yakin, Tuan. Tolong, jangan libatkan Ruby lagi, saya yang akan bertanggung jawab," jawab Derreck percaya diri.
"Dia itu terbiasa hidup mewah dari kecil, dia tumbuh jadi perempuan tamak dan egois. Apa kau akan sanggup menghadapinya?" tanya Saka lagi.
"Saya akan mencobanya." Derreck bersungguh-sungguh. "Dibalik itu semua, dia hanyalah perempuan yang kesepian. Walaupun masa lalunya buruk dan sifatnya yang jelek, saya akan menerimanya!"
Saka sampai menaikkan alisnya mendengar itu, sepertinya memang Derreck menyukai istrinya, entah apa yang dilihatnya dari Ruby.
"Tunggulah, Ruby adalah orang pertama yang akan aku singkirkan," ucap Saka seakan tidak peduli dengan nasib istrinya itu.
"Sebelum itu, terus awasi dia, jangan sampai melewati batas yang sudah aku tentukan!"
"Baik, Tuan," balas Derreck.
Selepas panggilan itu mati, Saka kembali menegak cairan alkohol untuk membantunya tidur.
Akhir-akhir ini Saka selalu bermimpi yang sama, mimpi bercinta dengan Sera dengan membara.
__ADS_1