
Sera melihat pemandangan dari apartemen barunya, dinding apartemen itu terbuat dari kaca jadi kalau gorden tidak ditutup terlihat seluruh pemandangan kota dari sana.
"Kau menyukainya?" tanya Edgar yang membuyarkan lamunan Sera.
Perempuan itu membalik badan dan ikut duduk bersama Edgar di sofa.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sera. Dia tahu semuanya tidaklah gratis.
"Untuk saat ini, kau cukup menjadi kekasihku, masuk ke dunia sosial dan tentu saja membuat skandal denganku," jawab Edgar.
Sera melipat kedua tangannya di dada, mungkin Edgar akan melakukan rencana utamanya perlahan-lahan. Dan Sera yakin hal itu berhubungan dengan Chris.
Apapun itu, Sera harus waspada. Baginya tidak ada yang bisa dipercaya.
"Baiklah," ucap Sera setuju. "Aku juga ingin memberi pelajaran pada Ruby!"
Edgar menaikkan kedua alisnya. "Apa yang dia lakukan padamu?"
"Dia merendahkan aku karena kau memilihku menjadi kekasihmu," kesal Sera.
"Aku menunggu aksimu!" Edgar mendukung penuh.
Sementara Ruby terus memberi doktrin pada Chris, dia memang tidak pernah memukul Chris atau menghukum dalam bentuk fisik. Tapi, Ruby selalu mencuci otak anak itu dan selalu menuntut.
"Apa yang miss Sera ajarkan padamu? Kalau dia mengajarimu macam-macam, aku akan mengadu pada ketua yayasan dan mencari penggantinya," ucap Ruby penuh penekanan.
__ADS_1
Chris langsung menggelengkan kepalanya. "Miss Sera tidak salah, aku yang memintanya memasak untukku, Mom."
Akhirnya Chris berbohong sambil memegangi hidungnya, dia takut akan memanjang seperti pinokio.
"Kenapa harus meminta pada miss Sera?" cecar Ruby.
"Karena aku ingin merasakan masakan seorang ibu, kalau begitu mommy saja yang masak," sahut Chris membalik keadaan.
"Kenapa kau jadi bersikap manja seperti ini?" Ruby merasa tidak suka karena Chris berani melawannya. "Ingat debutmu! Setelah debut kau akan di kenal banyak orang!"
"Buat apa dikenal banyak orang kalau aku tidak punya teman?" Chris mulai merasa tertekan di sana. Anak itu mengeluarkan air mata dan berlari untuk kembali ke kamarnya.
Ruby melihat reaksi Chris yang menjadi pembangkang dengan tatapan tidak suka. "Anak itu sudah berani protes pasti itu menurun sifat ibu kandungnya!"
"Siapa yang sebenarnya ditiduri Saka?"
"Hallo, apa kau sudah menemukannya?" tanya Ruby tanpa mau basa basi.
"Belum Nyonya tapi kami mempunyai petunjuk," jawab mata-mata itu.
"Apa itu?"
"Kami menemukan pelayan yang mengurus villa rahasia tuan Saka,"
"Cepat bawa orang itu kemari!"
__ADS_1
Rupanya tidak sia-sia Ruby mengeluarkan uang banyak karena pencariannya sudah mulai ada perkembangan.
Satu hal yang tidak disadari Ruby kalau semua pengeluaran perempuan itu sudah dipantau oleh Saka.
Bahkan mutasi bank pun langsung Saka bisa dapatkan dan tahu siapa penerimanya.
"Su-- sudah, Tuan," ucap mata-mata itu setelah selesai melakukan panggilan dengan Ruby.
Ternyata mata-mata itu saat ini ada bersama Saka dan di bawah ancaman lelaki itu.
Saka menurunkan pistol yang sebelumnya dia todongkan ke kepala mata-mata itu. Saka tersenyum sinis jika mengingat kelicikan Ruby, jika saatnya tiba nanti pasti perempuan itu akan mendapat hukuman yang setimpal.
"Bagus!" Saka memasukkan kembali pistol di saku jasnya. "Lakukan semua sesuai instruksiku sebelumnya!"
"Ba-- baik, Tuan," jawab mata-mata itu patuh.
Dan ada seorang wanita paruh baya yang ada bersama mereka, wanita yang dulu melayani Sera saat perempuan itu hamil.
"Bibi An, ikuti dia dan datangi Ruby, katakan apa yang perlu kau katakan!" perintah Saka.
"Baik, Tuan," balas Bibi An.
Saka kemudian masuk ke dalam mobilnya di mana sang asisten sudah menunggunya.
"Ke mana kita sekarang, Tuan?" tanya Jois.
__ADS_1
"Bawa aku ke tempat Sera!" jawab Saka seraya memejamkan matanya dan kepalanya bersandar di kursi mobil. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran lelaki itu sekarang, Saka seolah merancang sebuah skenario.