
Setelah sesi bercinta di kamar mandi yang seperti cicak menempel di dinding, akhirnya Saka melepaskan Sera.
Perempuan itu akhirnya bisa membersihkan diri dan mengisi perutnya yang lapar.
"Awas saja kalau dia memintanya lagi, aku tidak akan mau!" Sera makan dengan menggerutu sebal.
Badannya sudah sakit semua tapi selalu merespon setiap sentuhan yang diberikan Saka untuknya.
Saka yang sebelumnya keluar akhirnya kembali lagi ke kamar hotel. Lelaki itu membawa paperbag berisi pakaian yang baru dibeli Jois untuk istrinya.
Melihat Saka datang, Sera langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, dia memasang pertahanan diri dan waspada.
Saka terkekeh akan sikap Sera yang seperti itu. "Tenang saja, aku akan menahan diri karena kita akan pindah tempat!"
"Apa?" Sera menggelengkan kepalanya. "Kalau begini terus aku harus memeriksakan diri ke dokter tulang!"
Saka semakin tergelak, dia suka sekali mengganggu Sera. Dia mendekat dan mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Lanjutkan makanmu kemudian pakai baju atau aku akan menganggapmu menggodaku," ucap Saka yang melihat belahan dada Sera terpampang nyata. Memang benar karena Sera hanya memakai bathrobe dan talinya tidak terikat dengan benar sekarang.
"Kita akan pulang, 'kan? Aku merindukan Chris," balas Sera.
"Hm, Chris harus sekolah besok," ucap Saka.
__ADS_1
Sera mempercepat makannya kemudian memakai baju yang dibawakan Saka, sebuah dress dengan motif bunga dia kenakan sekarang.
Dia melihat Saka yang duduk dengan membaca berkas yang dibawa Jois sebelumnya, Sera mendekat dan mengambil berkas itu dengan pelan.
"Sepertinya mulai sekarang, kau harus belajar membagi waktumu, Mr. Saka. Waktu untuk bekerja dan waktu untuk keluarga," ucap Sera seraya menjauhkan berkas dari tangan Saka kemudian dia duduk di pangkuan suaminya.
"Banyak yang harus aku kerjakan untukmu, Sera," sahut Saka.
"Untukku?" Sera mengingat jika memang nama saham Saka atas nama dirinya sekarang. "Kenapa kau melakukan itu?"
"Bukankah semua sudah jelas, aku memberikan semua padamu jadi sekarang aku hanyalah bawahanmu," Saka menjawab dengan meraih rambut Sera dan mengecupnya. "Berikan pada Chris jika waktunya nanti tiba."
"Kau tidak memikirkan adik Chris," Sera meraih tangan Saka yang memainkan rambutnya kemudian dia letakkan tangan kekar itu di perutnya. "Mungkin ada yang sedang tumbuh di sini!"
"Kau tidak trauma, Sera?" tanya Saka, dia sadar bagaimana luka yang telah dia torehkan.
Saka tersenyum samar, secara tidak langsung perempuan itu mempercayainya.
"Kali ini aku tidak akan pergi lagi," ucapnya berjanji.
"Sebenarnya aku masih marah, kenapa kau sembunyikan semua dariku? Kalau kau bicara dari awal, aku pasti akan mengerti," Sera menuntut jawaban yang tepat.
"Aku tidak akan bisa menahan diri untuk mendatangimu, kau pasti akan dalam bahaya. Aku bahkan tidak mau tahu karena mata-mata pun tidak bisa dipercaya, banyak pengkhianat, Sera. Tapi, kau sekarang aman..." Saka belum sempat melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Namun, dia mendapat kecupan bibir dari Sera.
"Kita, kita yang aman," ucap Sera meralat.
"Kau menanggungnya selama ini sendirian, kau tahu caramu mencintai itu sangat menyakitkan," tambahnya.
"Jika kau mengenal rasa cinta artinya kau juga harus siap untuk mengenal rasa sakit," balas Saka.
"Tapi tetap saja..." Sera memeluk Saka, dia pasti akan membalas cinta lelaki itu. "Kau memainkan emosiku, bagaimana kalau aku benar-benar membunuhmu?"
"Mentalmu harus kuat jika bersamaku, aku hanya mempersiapkan mu begitu juga dengan Chris. Kalian benar-benar yang aku miliki di dunia ini," jawab Saka.
"Sepertinya aku memang selalu kalah bicara denganmu, Mr. Saka," Sera sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
Biarlah yang masa-masa menyakitkan itu berlalu, mereka akan membuka lembaran baru dengan penuh cinta.
"Mommy... Daddy..." Chris berlari ketika melihat kedua orang tuanya pulang.
Anak itu langsung digendong oleh Saka, Axton yang melihat itu meminta mereka semua untuk mendekat.
"Biar aku memotret kalian," ucap Axton yang sudah menyalakan fitur kamera di ponselnya.
"Aku ingin melihat hasilnya, Uncle," Chris ingin melihat foto itu.
__ADS_1
Chris tersenyum haru dan berkata. "Akhirnya aku mempunyai foto keluarga yang utuh!"