
Merasa tidak punya pilihan lagi, Sera mendekat ke arah Saka dan mencoba tidak terpengaruh oleh tubuh berotot lelaki itu. Rasanya badan Saka semakin besar dan kekar dari lima tahun lalu.
"Ada apa?" tanya Sera.
Perempuan itu duduk di sisi ranjang dan menatap Saka, wajah lelaki itu memang tidak sesegar seperti biasanya.
"Ternyata iblis bisa sakit juga, ya." Sera mengulurkan satu tangannya untuk mengecek suhu tubuh lelaki itu.
Melihat fisik Saka yang selalu bugar, Sera kurang percaya jika lelaki itu bisa jatuh sakit. Tapi, saat Sera menempelkan telapak tangannya di kening Saka terasa sangat panas.
"Apa kau sudah minum obat? Ini sangat panas," ucap Sera yang wajahnya tampak berubah.
Saka tersenyum smirk. "Kau mengkhawatirkan aku?"
"Kau tahu demam tinggi bisa menyebabkan stroke? Aku tidak mau kau mati sekarang," balas Sera seraya berdiri. Dia ingin meminta pelayan untuk menyiapkan keperluan mengompres badan.
Namun, tangan Sera ditarik sampai tubuhnya jatuh ke atas tubuh Saka yang tidak memakai baju.
"Kenapa kau selalu melakukan ini, brengsekk?" kesal Sera. Dia berusaha menjauhkan diri tapi Saka justru mendekapnya.
"Lepaskan aku!"
Saka semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Sera akhirnya kewalahan.
"Apa kau jatuh cinta padaku, Mr. Saka?" tanya Sera kemudian.
__ADS_1
"Melihat sikapmu, sepertinya kau tertarik padaku, bukan?"
Sera memancing Saka untuk mengakui perasaannya jika memang benar Saka mencintainya maka misi pertama Sera sudah berhasil.
Tidak ada jawaban tapi Saka melepas pelukannya dan menatap Sera seperti biasanya.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Sera memalingkan wajahnya dan ingin menjauh tapi Saka justru meraih dagunya.
Sera kembali bertatapan dengan Saka, lelaki itu seolah tidak mau Sera terlepas dari pandangan matanya.
"Kau berhubungan dengan Edgar?" tanya Saka.
Sebenarnya Sera terkejut tapi dia berusaha bersikap biasa saja.
"Apa kau takut Edgar akan menjadi ayah Chris nanti? Itu pasti melukai harga dirimu, bukan?"
Sera menatap Saka dan menunggu jawaban lelaki itu.
Sampai Saka perlahan mengelus rambut Sera dan menyelipkan rambut perempuan itu ke kupingnya.
"Kau membuatnya semakin sulit," jawab Saka ambigu.
"Apa maksudmu? Kenapa kau selalu membuatku menebak-nebak sendiri? Kau membuatku..." Sera tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Saka membungkam mulutnya.
Saka lagi-lagi mencium Sera tanpa permisi dan Sera tidak bisa lepas dari cengkraman lelaki itu dengan mudah.
__ADS_1
"Sera..." panggil Saka setelah melepas ciumannya. Dia berbisik di telinga Sera yang membuat perempuan itu merinding. "Selanjutnya akan lebih sulit jadi bertahanlah sampai akhir!"
"Tentu saja aku akan bertahan!" Sera mendorong tubuh Saka dan buru-buru turun dari kasur. Dia memperbaiki penampilannya.
Kemudian Sera keluar dari kamar Saka begitu saja, dia tidak menoleh ke belakang lagi.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Jois yang melihat Sera keluar dari kamar tuannya.
Sera menggeleng. "Sepertinya tuanmu butuh dikompres!"
"Tuan Saka tidak akan membiarkan saya masuk," jawab Jois.
"Sejak kapan kau mengenal tuanmu?" tanya Sera.
"Kenapa, Nona?" Jois bertanya balik.
Sera lalu menghela nafasnya, dia sebenarnya jadi penasaran dengan Saka. Dari tatapan dan kalimat lelaki itu seperti sebuah teka-teki.
"Lupakan saja!" Sera berlalu pergi untuk mendatangi Chris yang sekarang pasti sudah siap untuk sesi belajar.
Sementara Saka yang ada di kamar mendapat laporan dari anak buahnya yang mengikuti Ruby. Saka mendapat video menjijikkan lagi dan lagi.
Ruby saat ini tengah bercinta dengan simpanannya tanpa rasa malu.
"Terus awasi perempuan itu dan kumpulkan semua bukti!" perintah Saka.
__ADS_1