
Bohong kalau Edgar tidak terkejut mendengar pengakuan Sera, dia semakin memutar rambut perempuan itu yang masih Edgar mainkan dengan jarinya.
"Kenapa baru bilang sekarang, hem?" tanya Edgar penuh penekanan.
"Ceritakan padaku semua, Sayang!"
Edgar menuntut penjelasan lebih dan Sera akhirnya bercerita dari awal bagaimana bisa dia tidur dengan Saka sampai ditinggalkan dengan kejam.
"Jadi, jangan sakiti Chris dan bantu aku merebut hak asuhnya," pinta Sera.
Jujur saja ada rasa marah luar biasa dalam diri Edgar namun karena dia mendengar pengakuan dan melihat Sera ada di kubunya, membuat lelaki itu meredam rasa marahnya apalagi dia mulai tertarik pada Sera.
"Aku akan membantumu," balas Edgar kemudian.
Sera merasa lega, beberapa detik lalu jujur saja dia merasa terancam tapi karena Sera tahu kalau Edgar tertarik padanya, Sera memanfaatkan hal itu.
"Tapi, kau tidak boleh berkhianat kalau aku sampai melihat ada gerak-gerikmu yang mencurigakan..." Edgar menarik rambut Sera sampai perempuan itu kesakitan.
"Kau tahu konsekuensinya, 'kan?"
Sera mengangguk sambil menahan rasa sakitnya. "Baiklah!"
Dia bersumpah akan membawa Chris pergi dari lingkungan penuh dengan orang-orang serakah ini.
__ADS_1
...***...
"Ruamnya sudah mulai hilang," ucap Ruby yang sedari tadi merawat Chris.
"Lain kali hati-hati," sambungnya.
Chris jadi merasa bingung akan sikap hangat Ruby, dia jadi meragukan antara ketulusan dan memanfaatkan.
"Kembalilah ke kamarmu!"
Chris menurut, sebelum kembali ke kamarnya dia bertanya kepada kepala pelayan, apakah kepala pelayan itu yang membuka pintu kamarnya.
"Iya, Tuan Muda. Bagaimana bisa anda mengunci Tuan besar dan miss Sera?" Kepala pelayan yang tidak tahu apa-apa jadi kebingungan apalagi ada Ruby di mansion.
"Ada di ruang kerjanya, Tuan Muda," jawab kepala pelayan itu.
Chris tidak mau mengganggu Saka, anak itu kembali ke kamarnya dan ingin mendengar pembicaraan Saka dan Sera yang pasti sudah terekam.
Dengan jantung berdebar Chris mendengarkan, dia terdiam dan mencoba memahami setiap kalimat yang keluar dari Saka atau Sera.
Kau yang selama ini membesarkan anak itu tapi aku yang mengandung dan melahirkannya
Chris fokus pada kalimat itu, terbukti sudah kalau Sera memang ibu kandungnya.
__ADS_1
"Mereka memperebutkan aku tanpa bertanya padaku, apa yang aku inginkan," gumam Chris.
Tentu saja anak itu kecewa dengan keadaan yang ada tapi dia berpura-pura tidak tahu, setidaknya sampai acara debutnya tiba nanti.
Tinggal beberapa hari lagi, Chris harus bersabar.
Selama itu pula, tidak ada kabar mengenai Sera. Chris tidak menghubungi perempuan itu sama sekali, dia pasti akan bertemu di acara debutnya. Anak itu juga ingin melihat bagaimana rupa Edgar yang ingin mempermalukannya.
"Chris..." panggil Ruby sambil membawa setelan jas untuk anak itu.
Ruby membuka kamar Chris dan memberikan apa yang dia bawa. "Cobalah!"
"Mommy tahu ukuranku jadi tidak usah dicoba," sahut Chris yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.
Akhirnya Ruby menggantung setelan jas itu di walk in closet milik Chris. Kemudian dia mendekati meja belajar anak itu.
"Mommy akan mencarikan guru pembimbing baru untukmu, guru itu harus punya attitude yang tinggi dan berkelas bukan seperti miss Sera," ucap Ruby.
"Tidak perlu mencarikan aku guru pembimbing lagi dan miss Sera tidak seburuk itu." Chris membela ibu kandungnya.
"Kau membelanya?" kesal Ruby.
Chris tidak menjawab lagi dan hal itu membuat Ruby semakin kesal. Langkahnya serasa menemui jalan buntu.
__ADS_1