
"Pergi kau dari sini!" Ruby mencoba mengusir Sera dari mansion. Dia tidak mau lagi melihat wajah perempuan itu.
Sera masih belum puas, dia ingin mencoba memprovokasi lagi.
"Tanpa disuruh, aku akan pergi sendiri dari sini jadi tidak perlu repot-repot mengusirku," balas Sera sambil memperbaiki bajunya lagi. Dia kemudian mengambil kaca mata hitam dari dalam tasnya.
Sera melangkah pergi tapi sedetik kemudian membalik badan seakan melupakan sesuatu. "Oh iya, aku lupa!"
"Kau penasaran bukan siapa ibu kandung Chris? Seperti dugaanmu, aku memang ibu dari anak itu. Selamat Nyonya, kau dipermainkan suamimu sendiri," sambungnya.
Seperti disambar petir, Ruby kaget sampai matanya melotot. Suaranya tercekat, tidak mampu membalas perkataan Sera lagi.
"Dan kau coba ingin membunuhku, bukan? Memang sasaranmu tepat sekali, lain kali lakukan dengan benar!"
Setelah berkata seperti itu, Sera pergi meninggalkan mansion. Dia akan pergi menemui Edgar di kantornya karena lelaki itu sudah menjanjikan sebuah posisi untuknya.
Pada saat itu, Edgar akan menghadiri rapat penting dengan 7 tetua beserta Saka. Jadi, saat Sera datang lelaki itu langsung membawa Sera bersamanya.
"Apa tidak masalah jika aku ikut?" tanya Sera saat dalam perjalanan.
"Tidak masalah, kau mulai bekerja denganku hari ini," jawab Edgar.
__ADS_1
"Bagaimana dengan anak Ruby?"
Sera terdiam sejenak sebelum menjawabnya, dia tahu Chris anak seperti apa jadi dia yakin kalau anak itu akan mencarinya sendiri.
"Kau hanya perlu menunggu," jawab Sera kemudian.
...***...
"Miss Sera..." panggil Chris saat memasuki mansion.
Biasanya sepulang sekolah, Sera sudah menunggunya. Hari ini Chris ingin memberitahu pada guru pembimbingnya itu kalau dia punya satu teman yang mau diajak berbicara.
"Apa? Bagaimana bisa?" Chris jadi bingung karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
"Di mana mommy?"
Chris ingin menanyakan langsung pada Ruby apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ketika sampai di kamar sang mommy, anak itu mendapati Ruby tengah mengamuk dan berteriak.
Barang-barang mahal Ruby berserakan di lantai, perempuan itu menangis dan berteriak untuk melampiaskan semuanya.
"Mommy..." panggil Chris takut-takut.
__ADS_1
Ruby langsung menoleh ke arah Chris yang berdiri di ambang pintu, dia merentangkan kedua tangannya supaya Chris mendekat.
Secara naluriah Chris mendekat dan Ruby mendekap anak itu ke pelukannya.
"Ada apa, Mommy?" tanya Chris..
"Daddymu..." Ruby sudah tidak punya jalan lagi, hanya Chris lah harapan satu-satunya. "Dia mengkhianati mommy, daddymu tega bermain di belakang dengan miss Sera!"
Chris mencerna kalimat Ruby itu, mengkhianati dan main belakang pasti mengarah pada perselingkuhan. Dan apa? Miss Sera?
"Tidak mungkin daddy dan miss Sera seperti itu," balas Chris tidak percaya.
"Tanyakan pada daddymu sendiri, apa mommy memang mengada-ngada? Kau adalah saksi seperti apa daddymu itu memperlakukan mommy selama ini dan miss Sera ingin merebut semuanya," ucap Ruby. Dia balas dendam dengan memprovokasi Chris dan membuat anak itu berada di pihaknya.
Kalau Chris berada di pihak Ruby, baik Saka atau Sera, tidak akan berani padanya. Karena Chris akan selalu membelanya.
Seperti biasa Ruby melupakan sesuatu jika Chris bukanlah anak yang mudah diprovokasi justru anak itu ingin tahu akar masalahnya.
Chris mondar-mandir di kamarnya untuk berpikir, dia memutuskan untuk mencari kebenaran supaya tahu siapa yang pantas dia bela.
"Aku harus menyusun misi kebenaran," gumam Chris seraya menulis rancangan misinya di buku.
__ADS_1