
Pada saat itu, Saka dalam perjalanan pulang, dia menunggu laporan dari bodyguard yang mengikuti Sera. Dia tahu hari ini jika Sera tengah mendatangi jamuan teh bersama Ruby.
"Bagaimana dengan Bibi An?" tanya Saka pada Jois yang duduk di kursi depan.
"Bibi An pergi dari mansion, rencananya akan menemui nona Sera," jawab Jois.
Belum sempat Saka membalas, ponselnya berdering kerena mendapat panggilan dari bodyguard yang mengikuti Sera.
Bodyguard itu memberi laporan jika mobil Sera dibuntuti seseorang dari belakang.
"Cepat putar balik!" perintah Saka pada supirnya.
Mobil Saka berputar balik dan mendatangi lokasi di mana Sera berada.
Butuh waktu hampir sepuluh menit mengejar lokasi Sera karena memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat Saka sampai, Sera sudah turun dari mobilnya dibarengi hujan yang turun. Saka mendekat dari arah belakang Sera dan langsung ikut memegang pistol dari tangan perempuan itu.
"Luruskan lenganmu, Sera! Lihatlah ke depan karena aku ada di belakangmu!" ucap Saka tepat di telinga Sera karena tubuhnya yang jauh lebih tinggi.
Sera sangat mengenal suara siapa itu. "Saka?"
"Saat menembak, angkat tanganmu seperti ini!" Saka menaikkan pistol di tangan Sera. "Dan arahkan ke dahi supaya kau bisa menyelesaikannya dalam satu kali tembakan!"
"Jangan pernah ragu, Sera!"
__ADS_1
Namun, belum sempat Sera menembak, orang-orang dari Saka mengepung tempat itu dan membekuk pembunuh bayaran suruhan dari Ruby.
"Tawan dia, dia bisa menjadi saksi!" perintah Saka pada para anak buahnya.
Sera masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, kenapa Saka bisa tahu kalau dia terancam.
"Sebenarnya apa tujuanmu, Saka? Kenapa kau tiba-tiba bisa muncul? Ini bukan suatu kebetulan dan tentang Bibi An, kenapa dia membohongi istrimu!" Sera langsung mencecar Saka di tengah guyuran hujan.
"Kau bisa sakit jadi ayo kita masuk dalam mobil!" Saka mengajak Sera untuk berteduh terlebih dahulu.
Bukannya menurut, Sera justru berlari menjauhi Saka. Perempuan itu berlari sampai akhirnya Sera tersandung dan jatuh. Setelah itu gelap, Sera tidak sadarkan diri.
...***...
Tubuhnya meraba-raba sesuatu yang hangat itu dan semakin mendekapnya.
Semakin dia merasa hangat, Sera semakin sadar jika itu bukanlah mimpi. Jadi, dia memutuskan untuk membuka mata dan melihat, apa yang telah dipeluknya sekarang.
"Kau sudah bangun?"
Namun, pertanyaan itu yang Sera dapatkan saat membuka mata.
"Aaaa..." Sera berteriak karena yang dipeluknya sedari tadi adalah tubuh telanjang Saka.
Dan tunggu, bukan Saka yang bertelanjang tapi dia juga tanpa busana sekarang. Mereka berdua ada di dalam selimut yang sama.
__ADS_1
"Oh, tidak!" Sera berusaha menjauh tapi Saka menarik perempuan itu ke pelukannya.
"Mau kemana? Tubuhmu masih dingin, kau butuh tubuhku untuk menghangatkannya!" Saka membenamkan tubuh Sera ke dalam tubuhnya, sangat pas.
"Lepaskan! Aku tidak butuh seperti ini," tolak Sera. Dia berusaha keluar dari pelukan lelaki itu.
"Jangan terus bergerak, Sera!" cegah Saka.
Sikap pembangkang Sera lebih mendominasi, perempuan itu terus bergerak yang membuat kulitnya dengan Saka saling bergesekan.
"Aku haus!" akhirnya Sera membuat alasan seperti itu.
Rupanya berhasil, Saka merenggangkan pelukannya tapi tidak ada niat hati melepas Sera begitu saja. Tangannya terulur ke meja nakas yang berada di dekatnya kemudian mengambil gelas yang ada di sana.
"Minumlah!"
Sera sedikit bangkit dan meminum itu. "Akh! Ini alkohol!"
Kepala Sera langsung pusing karena kadar alkohol yang tinggi.
"Kau sengaja, Saka!"
"Supaya kau bisa diam!"
Saka membawa Sera kembali masuk ke dalam selimut yang sama dengannya.
__ADS_1