
"Terima kasih dan sebaiknya kau pulang," ucap Sera pada Axton yang mengantarnya pulang.
Sera tidak pulang ke apartemen tapi dia kembali ke rumah lamanya.
"Baiklah, kita pasti akan bertemu lagi," balas Axton.
Kalimat Axton seperti mengandung pesan tersirat tapi Sera tidak menyadarinya karena pikirannya sudah kalut.
Sera menutup pintu rumahnya kemudian mencari kotak P3K nya untuk mengobati lutut Chris yang sebelumnya sempat terluka.
Anak itu sekarang tengah duduk termenung di sofa ruang tamu. Pasti Chris sangat terguncang jadi Sera tidak akan menyinggung tentang masalah mereka.
"Coba kita lihat lukanya dulu," ucap Sera seraya berjongkok di depan anaknya.
Sera menaikkan celana Chris sampai terlihat luka di lutut.
"Tahan, okay. Ini tidak akan sakit." Sera mulai mengobati luka itu dengan hati-hati.
Chris hanya sesekali meringis karena menahan sakit. Dia seperti itu sampai Sera selesai melakukan pengobatan.
"Sekarang ganti baju, di sini tidak ada baju anak-anak tapi..." Sera berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya. Dia mengambil sebuah kotak dan kembali pada Chris. "Ini adalah kado ulang tahun untukmu tahun lalu, waktu itu ada baju musim dingin dan juga piyama tidur yang lucu jadi aku berinisiatif membelinya sambil membayangkan setinggi apa kau sekarang. Bahkan saat itu aku tidak tahu namamu siapa."
Rasanya Sera ingin meneteskan air mata jika mengingat setiap tahun yang dia lalui, tahun-tahun di mana dia merindukan bayinya.
Ternyata baju dan piyama yang dibeli Sera kekecilan tapi masih muat dipakai Chris walaupun tangan dan kakinya gantung.
__ADS_1
"Aku akan membuat makanan, pasti kau belum makan saat di pesta tadi bukan?" Sera berusaha menghibur suasana hati Chris walaupun keadaan di antara mereka sangat canggung. Apalagi Chris tidak mau membuka suara sedari tadi.
Tidak mau membuang waktu, Sera bergegas ke dapur dan membuat omelet telur karena hanya itu bahan yang tersisa di rumah lamanya.
Hanya beberapa menit saja omelet itu sudah jadi, Sera kemudian meletakkannya di atas meja.
"Mau disuapi?" tanya Sera.
Chris merespon dengan menggelengkan kepalanya. "Aku mau daddy!"
"Daddy..."
Padahal Chris sudah disakiti oleh Saka tapi bisa-bisanya anak itu terus menginginkan tinggal bersama Saka.
"Apa miss Sera percaya kalau daddy membuang kita?" Chris justru bertanya seperti itu.
"Bukankah semua sudah jelas?" Sera masih teguh pada keyakinannya.
"Lalu kenapa di ruang kerja daddy ada foto miss Sera?" tanya Chris lagi.
Sera agak terkejut mendengarnya. "Fotoku?"
"Aku menemukan foto miss Sera saat hamil. Kenapa daddy menyimpannya jika tidak peduli, aku bertaruh di komputer daddy pasti ada foto lain bukan hanya itu," ucap Chris.
"Kenapa kau begitu yakin?" Sera merasa tidak percaya dengan argumen anaknya itu.
__ADS_1
"Karena aku mengenal daddy ku," jawab Chris.
...***...
Sementara di sisi lain, Edgar begitu marah karena rencana yang telah dia susun gagal.
"Di mana, Steve? Panggil dia kemari!" Edgar memberi perintah pada anak buahnya yang lain.
Tak lama Steve diseret paksa untuk menghadap Edgar padahal sebelumnya lelaki itu sudah berusaha kabur tapi akhirnya tertangkap juga.
"Maafkan saya, Tuan," ucap Steve memohon ampun.
"Kau tahu kan, aku tidak suka kegagalan! Sekarang kau harus mendapatkan hukumanmu!" Edgar menodongkan senjata tepat di kening Steve.
Kemudian terdengar satu tembakan yang menembus sampai ke kepala belakang lelaki itu.
Tubuh Steve langsung ambruk dengan ceceran darah.
"Dasar tidak berguna!" umpat Edgar pada Steve yang sudah tidak bernyawa itu.
"Cepat singkirkan dia!"
Edgar menunjukkan sisi gelapnya dibalik sikapnya yang manis selama ini.
"Sekarang lakukan rencana selanjutnya!"
__ADS_1