
Sera kaget dengan respon Saka padahal lelaki itu tidak miskin sungguhan. Dan hal itu membuat Chris tertawa, baru kali ini Chris melihat sang daddy jadi kehilangan kendali karena kalah main monopoli.
"Daddy anda memang aneh, Tuan Muda," komentar Sera sambil mengulum senyumnya.
Saka memasang wajah masam, dia kemudian kembali duduk di sofa sambil membuka kancing kemeja atasnya.
"Sepertinya di luar hujan sudah berhenti, apa Tuan Muda tidak mau pulang? Nanti nyonya Ruby mencari," ucap Sera yang ingin Chris istirahat karena besok anak itu harus sekolah. "Besok sepulang sekolah, saya sudah ada di mansion!"
"Mommy pergi dan katanya pulang terlambat jadi kita masih punya waktu miss Sera, ceritakan sebuah dongeng lagi!" pinta Chris.
"Dongeng apa, ya?" Sera tampak berpikir. "Apa Tuan Muda pernah mendengar dongeng Jack dan kacang ajaib?"
"Kacang ajaib?" tanya Chris.
"Kacang itu jika ditanam akan bisa tumbuh besar sampai ke atas di negerinya para raksasa," jelas Sera.
"Benarkah?" Chris tampak antusias.
"Kemarilah jika ingin mendengarnya, Tuan Muda." Sera merentangkan kedua tangannya supaya Chris memeluknya.
__ADS_1
Dan anak itu menurut saja, dia duduk di pangkuan Sera kemudian diam mendengarkan cerita.
"Jadi, Jack mempunyai kacang ajaib, suatu hari..." Sera bercerita sambil mendekap Chris sesekali menciumi anak itu. Beruntung Chris setengah sadar karena terbius dongeng dari Sera jadi anak itu tidak memberontak sama sekali.
Beberapa menit berlalu, Chris akhirnya tertidur di pelukan Sera.
"Sebaiknya kau bawa Chris pulang, aku tidak mau Ruby salah paham pada kita," ucap Sera yang kini bisa bebas berbicara pada Saka.
"Semakin aku masuk lebih jauh, aku semakin kesal karena anakku hanya alat yang ingin kau manfaatkan, Saka!"
Sera protes karena hidup Chris jadi seperti ini, seharusnya anak itu mendapatkan kasih sayang bukannya tekanan.
"Kau memang benar-benar iblis, lihatlah aku pasti akan bisa merebut semua darimu seperti di permainan monopoli tadi," ketus Sera. Dia membaringkan tubuh Chris perlahan ke sofa.
"Cepatlah pulang!"
Sera tidak mau lama-lama melihat wajah Saka, semakin dia tahu kehidupan lelaki itu semakin dia membencinya.
Namun, respon Saka selalu tak terduga. Lelaki itu tiba-tiba mengeluarkan pistol dari sakunya dan Saka memberikannya pada Sera.
__ADS_1
"Aku selalu menunggunya dan gunakan pistol ini untuk melawanku," tantang Saka.
Sera tanpa ragu mengambil pistol itu dan langsung dia todongkan ke kepala Saka. "Terlalu mudah kalau membuatmu mati secara cepat!"
Perlahan Sera mendekat, pada saat itu posisi Saka masih duduk. Sera menurunkan pistolnya ke leher Saka kemudian semakin turun dengan mengusap dada lelaki itu.
"Aku akan melakukannya secara pelan-pelan sampai kau merasakan apa yang namanya diberi harapan palsu dan putus asa," batin Sera.
Sera pun menunduk, dia memberanikan diri mengecup leher dan turun ke dada Saka. Pistolnya turun dan mengusap tubuh bagian bawah lelaki itu.
"Apa kau masih terangsang padaku?" bisik Sera.
Dan tubuh bagian bawah itu terlihat mulai menonjol.
"Oh, Mr. Saka. Ternyata kau masih bereaksi padaku," ucap Sera kemenangan.
"Sepertinya nilai kita satu kosong!"
Sera dengan berani menggigit telinga Saka, dia akan membuat benda itu berdiri kemudian Sera tinggalkan supaya Saka tahu rasanya diberi harapan palsu.
__ADS_1