
Hari itu Sera begitu sibuk karena baju pengantin yang dipesan Saka sudah jadi, desainer baju pengantin itu datang ke mansion karena Sera tidak diperbolehkan terlalu banyak melakukan aktivitas di luar.
Ya, setelah telat datang bulan sebelumnya, ternyata Sera benar-benar hamil.
Kali ini Saka memberikan perhatiannya dengan terang-terangan. Sera tidak boleh melakukan apapun supaya tidak lelah.
Bahkan acara pernikahan pun hanya akan dihadiri oleh orang-orang penting saja supaya cepat selesai.
"Tuan Saka sangat memperhatikan anda, Nyonya. Bahkan bagian perut saja tidak boleh terlalu ketat," ungkap desainer itu saat Sera mencoba gaun pengantinnya.
Sera mengulum senyumnya, dia suka akan sikap perhatian dari suaminya itu. "Bukankah itu berlebihan? Usia kandunganku masih empat minggu!"
"Justru karena masih terlalu muda, Nyonya," sahut desainer itu lagi.
Sera melihat tampilannya di depan cermin, dia beruntung tidak mengalami mual dan muntah, sama seperti hamil Chris dulu. Sera jadi mempunyai firasat jika anak keduanya akan mirip Saka lagi. Apa jadinya kalau semua anaknya seperti itu?
Lamunan Sera buyar ketika sang desainer mengajaknya bergosip mengenai Edgar dan Ruby.
"Saya mendengar nyonya Ruby sekarang membuka usaha kafe bersama suami barunya. Siapa yang akan menyangka jika nasibnya akan seperti itu," ucapnya.
Sera tidak menanggapi, dia juga sudah mendengar hal itu. Memang hidup Ruby jauh berbeda dengan hidup saat menjadi istri Saka tapi perempuan itu lebih banyak tertawa dari pada dulu. Semoga saja Ruby bisa berubah.
__ADS_1
"Dan anda tahu, Nyonya. Hasil sidang tuan Edgar akan diumumkan besok, membayangkan saja sudah merinding," tambah desainer itu.
"Edgar harus mendapatkan hukuman yang setimpal," balas Sera.
Jika mengingat perbuatan Edgar seketika Sera langsung emosi.
Selesai mencoba gaun pengantinnya, Sera mendatangi Bibi An yang berada di dapur. Wanita paruh baya itu tengah membuat makan siang.
"Tuan muda akan segera pulang sekolah pasti dia kelaparan," ucap Bibi An.
Sera melihat menu yang dimasak oleh Bibi An dan ingin memakan duluan. "Aku ingin makan yang baru dimasak!"
Dan kabar itu sampai pada Saka, lelaki itu jadi tidak tenang karena Sera mengidam aneh.
"Bukankah itu berbahaya, Jois?" tanya Saka pada asistennya.
Jois menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa. "Saya tidak tahu, Tuan. Lebih baik tanya pada dokter saja!"
Merasa tidak tenang, Saka ingin mengecek sendiri keadaan istrinya. Saka pulang lebih awal dan meminta Jois mengatur ulang jadwalnya.
Ketika sampai di mansion, ternyata Sera tengah berenang karena merasa kepanasan padahal suhu AC sudah dingin tapi perempuan itu tetap merasa gerah.
__ADS_1
"Sera..." panggil Saka dari atas.
Pada saat ini, Sera tengah menenggelamkan diri di dalam air dan tidak muncul-muncul ke permukaan. Saka jadi panik.
Akhirnya Saka melempar sepatu dan membuka semua bajunya sampai menyisakan celana pendeknya.
Saka turun ke kolam renang dan mendapati Sera masih menenggelamkan diri padahal tujuan Sera ingin melatih pernafasan.
Namun, perempuan itu tiba-tiba merasa tubuhnya diraih seseorang untuk naik ke permukaan.
"Apa yang kau lakukan?" Saka tampak marah di sana.
Sera sedikit terbatuk-batuk karena kaget, dia tersedak dan menyadari jika suaminya yang telah mengangkat tubuhnya.
"Saka..." protes Sera. Dia tidak merasa bersalah akan tindakannya tapi justru menyalahkan Saka.
"Itu berbahaya, Sera. Ingatlah, kau saat ini tengah hamil," Saka memarahi istrinya dengan mengangkat tubuh Sera ala bridal. Mereka keluar dari kolam renang dan basah kuyup.
Melihat suaminya marah, Sera justru suka sekali.
"Saat kau marah, kau terlihat semakin tampan," puji Sera.
__ADS_1