
Aroma teh mahal menyeruak di indera penciuman Sera, perempuan itu dengan elegan mengambil cangkir teh dan meminumnya.
"Dunia begitu sempit ya, kami tidak menyangka jika calon nyonya Winter seorang guru les private," ucap Lady Rose yang kembali mengungkit pekerjaan Sera.
Sera meletakkan kembali cangkir tehnya dengan tersenyum manis. "Saya melakukan pekerjaan yang membuat saya nyaman dan bahagia. Mengajar anak-anak apalagi mendengar mereka bercerita dan menjadi orang kepercayaan mereka, hal seperti itu memiliki nilai tersendiri dalam hidup saya."
"Betapa banyaknya orang yang begitu ambisius di dunia ini, hanya mengejar harta dunia tapi di dalam hati mereka kosong. Saya mencintai pekerjaan saya dan saya merasa kaya dengan hal itu!"
"Lagi pula saya tidak perlu repot bekerja yang menguras waktu dan tenaga karena sayangku sudah memenuhi semua kebutuhan saya, kalau mau, saya bisa masuk ke perusahaan mana saja, tinggal tunjuk!"
Yang dikatakan Sera memang benar adanya, Edgar tidak mungkin membiarkan kekasihnya melakukan pekerjaan rendah pasti ada alasannya.
"Wah, sepertinya tuan Edgar sangat pengertian, ya," balas yang lainnya.
"Iya, jarang ada pria yang seperti itu. Aku juga mengingat orang yang ambisius mengejar sesuatu berakhir dengan bunuh diri. Jadi, melakukan pekerjaan yang membuat bahagia itu penting," timpal Lady Rose.
Tentu saja hal itu ditujukan untuk Ruby karena orang tua Saka yang mati secara mengenaskan seperti itu.
Sial! Keadaan justru berbanding terbalik sekarang, Ruby seperti dipojokan.
"Anakku Chris sebentar lagi debut, kalian semua harus hadir dalam pestanya nanti, dia anak yang berbakat," ucap Ruby yang menjadikan Chris sebagai tamengnya.
__ADS_1
"Kami harap tuan dan nyonya Aldeguera juga datang bersama," balas yang lainnya.
Pernikahan Saka dan Ruby memang menjadi buah bibir karena keduanya selalu tampil untuk formalitas saja.
"Hubunganku dengan suamiku semakin panas akhir-akhir ini," dusta Ruby. Dia tidak akan membiarkan orang lain berpikir bahwa dia dicampakkan oleh Saka.
Sera tersenyum miring karena melihat Ruby yang seperti itu, sebenarnya dia kasihan. Ruby hidup penuh dengan kepalsuan.
Suasana jamuan teh itu berjalan lancar, para lady bahkan berfoto bersama dan mengajak Sera. Sepertinya kehadiran Sera cukup diakui.
Dan hal itu membuat Ruby tidak terima, dia muak dan diam-diam menghubungi pembunuh bayaran untuk membunuh Sera terlepas perempuan itu, ibu kandung Chris atau tidak.
Di perjalanan pulang, Sera merasa dibuntuti seseorang, ada mobil yang terus mengikutinya. Sera menambah kecepatan dan mencoba menghubungi Edgar.
Namun, dari belakang mobilnya sengaja ditabrak orang yang membuntutinya.
"Ya Tuhan!" Sera panik dan mencoba menghindar tapi mobil itu justru menabraknya lagi tapi kali ini dalam posisi sejajar.
Sera kehilangan keseimbangan, dia akhirnya berhenti atau terjadi kecelakaan. Beruntung Sera selalu membawa pistol pemberian dari Saka.
Ternyata pistol itu berguna saat ada hal tak terduga seperti ini.
__ADS_1
Sera keluar dari mobilnya dan mencoba menantang orang yang berani menabraknya dari belakang.
"Keluar kau!" teriak Sera seraya mengangkat pistolnya.
Hujan kembali turun, suasana jalanan juga sepi jadi tidak ada yang bisa Sera mintai tolong.
Orang yang menabraknya pun keluar dari mobilnya, tampak seorang laki-laki memakai topi. Sera tidak bisa melihat jelas wajahnya.
"Apa maumu, hah?" tantang Sera.
Laki-laki itu menertawakan Sera yang memegang pistol dengan tangan gemetar.
"Setidaknya pegang senjatamu dengan benar!" ucapnya.
Bukan hanya tangan, bibir Sera juga gemetar karena menahan dingin dan takut.
Tiba-tiba dari arah belakang Sera, ada seseorang lagi yang memegang tangannya.
"Luruskan lenganmu, Sera! Lihatlah ke depan karena aku ada di belakangmu!" ucap orang itu tepat di telinga Sera karena perbedaan tinggi badan mereka.
Sera sangat mengenal suara siapa itu. "Saka?"
__ADS_1