
Di sebuah kamar yang gelap, ada seorang lelaki yang masuk. Lelaki itu tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari sosok perempuan yang tidur di atas ranjang besar dengan perut buncitnya.
Lelaki yang tak lain adalah Saka itu perlahan melangkah dan berhenti tepat di samping ranjang. Kepala Saka tertunduk menatap ke sisi wajah perempuan yang tertidur pulas itu.
Sera, nama perempuan yang begitu mengusiknya beberapa bulan ini. Saka sampai harus mengepalkan tangan ketika gairahnya naik, Saka teringat tentang betapa lembut dan manisnya bibir Sera dalam lumataan bibirnya sendiri, hal itu membanjiri pikirannya.
Saka memang tidak ingin mengakuinya tapi jauh di dalam hatinya dia tahu, dia merindukan perempuan ini. Bukan karena dokter yang memintanya untuk melancarkan jalan lahir bayinya.
Dia ingin memeluk tubuh Sera dengan lembut, yang lekukannya begitu pas dengan tubuhnya yang keras. Saka ingin membaui aroma alami Sera yang memabukkan, dia ingin menyentuhkan jemarinya di seluruh permukaan kulit Sera, membawa perempuan itu dekat dengannya dan menyatukan diri ke dalam kehangatan tubuhnya.
Saka membungkuk di atas Sera, salah satu lengannya bertumpu di samping kepala Sera, sementara tangannya yang lain menyusuri sisi wajah Sera dengan sentuhan jemarinya.
"Bangun, Sera." Saka membisikkan perintahnya dengan suara serak, mendekatkan bibirnya di telinga Sera.
Sentuhan dan suara itu sangat dikenal oleh Sera, lelaki yang sudah berbulan-bulan pergi itu bisa Sera rasakan kembali kehadirannya. Sera langsung menarik diri dalam mimpi indahnya yang lelap. Matanya terbuka dan kesadarannya terbangun.
__ADS_1
Mata Sera langsung bertatapan dengan mata tajam Saka yang sudah kelaparan, mata itu tampak ingin melahapnya.
"Tuan?" Sera mengulurkan tangannya untuk memeriksa kalau yang dilihatnya bukanlah mimpi.
"Iya, ini aku." Saka mengecup telapak tangan Sera kemudian langsung mencium bibir manis itu karena sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Tangannya mengusap perut buncit Sera yang tengah mengandung anaknya. Dia begitu hati-hati ketika melakukan penyatuan karena usia kandungan yang tinggal hitungan hari saja.
"Akhhhhh....." Sera berteriak.
Beruntung Chris yang tidur di sampingnya tidak terganggu dengan teriakannya.
Sera turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil minum. Mimpi itu terasa begitu nyata.
Setelah minum, Sera duduk termenung sambil mengingat-ngingat perlakuan Saka padanya. Memang perlakuan Saka sangatlah lembut sampai membuatnya terbawa suasana. Harapan yang diimpikan Sera langsung musnah ketika Saka mengambil bayinya dengan paksa.
__ADS_1
Lantas kenapa Saka menyimpan fotonya?
"Bibi An, di mana kau?" gumam Sera. Dia ingin bertanya pada pelayan yang menemaninya semasa hamil dulu.
Apa miss Sera percaya kalau daddy membuang kita?
Chris begitu yakin jika Saka tidak membuang mereka. Dan Sera dibuat dilema karena tidak tahu harus berbuat apa.
Keesokan harinya, berita skandal Saka dan Sera menjadi trending topic. Ditulis Saka dan Sera yang berselingkuh dengan pasangan mereka masing-masing.
Status Chris dipertanyakan karena Ruby yang menghilang di pesta debut.
"Sepertinya kalau pergi sekarang bukan waktu yang tepat," gumam Sera. Mereka tengah menjadi sorotan sekarang.
Sera menyalakan televisi dan berita heboh kembali muncul karena 7 tetua dikabarkan diserang dan mati satu persatu.
__ADS_1
"Oh, my God!" Sera jadi ketakutan karena tidak bisa dipungkiri target selanjutnya adalah dirinya dan Chris.