Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
kok belum hamil


__ADS_3

Bu Eka tak menyangka jika semua orang akan seheboh itu, pasalnya di desa ada tiga gadis yang hamil.


Otomatis mereka langsung harus kondangan tiga tempat sekaligus.


Habis sholat Maghrib ada pengajian di salah satu rumah, lebih tepatnya itu rumah ibu RW.


"Eh Eka, tumben kalian telat denger kabar, biasanya selalu duluan," sindir salah satu ibu.


"Kata siapa, lusa anak pak Jali itu nikah tapi gak bilang-bilang dan resepsi di rumah pengantin laki, situ gak tau ya kasian, terus anak Bu menik menikah tanggal lima belas di rumah pengantin laki juga, sedang untuk anak pak Sobirin itu di rame-rame setelah dia lahiran,gak tau ya kalau Salwa sudah hamil," kata Bu Eka yang membuat semua ibu melongo.


Pasalnya Salwa ini gadis yang di kenal sangat baik, terlebih ayahnya ini seorang imam di masjid di desa.


Itulah kenapa berita ini mengejutkan, "ada apa sih, masalah Salwa, itu mah paling banyak laki-laki yang tidur sama dia kayaknya, kok sampai di lakukan acara kocokan kayak arisan, kasihan ya," kata Bu Susi.


"Apa Bu, yang benar itu gak mungkin deh kayaknya," kata ibu-ibu yang dengar.


"Ye di kasih tau kok gak percaya, kalian tau salah satunya itu ya putra pak lurah, tapi yang kena malah anak daerah kecamatan," kata Bu Susi.


"Itu benar, sekarang mereka sedang pengajuan untuk sidang agar bisa menikah." saut Bu Lastri yang langsung di percaya.


Pasalnya wanita itu adalah istri pamong yang mengurus hal seperti itu, jadi tak mungkin bohong


"Sudah ibu-ibu rumpinya, sekarang kita mulai pengujiannya," kata ibu RW.


Hari ini Wulan tak ikut pengajian karena menunggu suaminya pulang, terlihat mas Yono pulang dengan wajah cukup lelah.


"Capek ya mas,"


"Iya nih dek, aku tak menyangka jika perjalan menuju rumah ini begitu panjang rasanya," jawab pria itu.


"Ha-ha-ha mas ini lucu, sudahlah silahkan mandi dulu aku sudah siapkan air hangat biar seger, dan aku akan siapkan makan malam dan jamu ya nanti," kata Wulan.


"Iya istri sayang," jawab mas Yono.


Sedang Bu Sundari hati ini juga tak ikut pengajian dengan alasan gak enak badan.

__ADS_1


Bahkan tokonya saja sudah tutup dari sore, itulah kenapa anak dan menantunya itu datang menginap.


Tapi sayangnya, anak dari Bu Sundari harus bekerja shift malam kali ini, meski pabriknya tak jauh tapi dia sebenarnya tak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit.


"Sudah dek, tenang saja,mas yang akan menjaga ibu lagi pula ada Nina, jadi tak usah khawatir ya," kata Julianto.


"Iya mas, kalau begitu aku kerja dulu ya," pamit Sari.


Julianto pun mengangguk karena dia mengantarkan istrinya itu, sedang di rumah.


Bu Sundari sedang duduk dan main bersama cucunya yang jarang sekali di ajak main ke tempatnya.


Jadi sekarang dia pun harus puas main dengan cucunya itu, "Alia, ini susunya di minum dulu ya, biar nanti bisa sehat," kata Bu Sundari.


"Iya Oma," jawab gadis berusia tujuh tahun itu.


"Gadis pintar," kata Bu Sundari.


Tak lama motor Julianto datang setelah mengantarkan istrinya untuk bekerja.


"Sedang main boneka ayah," kata Alia.


"Tapi sekarang kamu harus tidur ya, sebab besok sekolah dan kamu tak mau mengantuk saat sekolah bukan," kata Julianto membujuk putrinya itu.


"Iya ayah, Oma Alia bobok dulu ya," kata gadis mungil itu.


"Iya nduk, biar Oma bereskan semua boneka Alia ya," kata Bu Sundari.


Akhirnya bocah itu pun pergi ke kamar bersama Julianto, dan setelah bocah kecil itu tidur nyenyak.


Julianto memutuskan untuk keluar dan nonton tv, dan di sana ternyata juga ada Bu Sundari yang masih bangun.


Ternyata keduanya sudah saling menunggu untuk melepaskan rindu karena bu Sundari sudah memberikan obat tidur pada cucunya itu.


Pengajian ibu-ibu kali ini berakhirnya cukup malam, karena ada srakalan untuk acara delapan bayi.

__ADS_1


Keesokan harinya saat Wulan berangkat untuk belanja di penjual sayur.


Kebetulan di sana masih ada Bu Susi, Bu Anas, dan Bu Lastri, "pagi ibu-ibu," sapa Wulan dengan ramah.


"Pagi, tumben sudah belanja pagi Wulan," tanya Bu Lastri.


"Iya Bu, karena mas Yono harus berangkat kulak kan gabah ke luar kota karena permintaan beras masih sangat tinggi."


"Alah .... meski begitu kenapa suamimu tak menyuruh mas Yudi, malah sekarang dia di rumah kan,kamu tak suka karena aku menghina suamimu," kata Bu Susi.


"Jika memang saya tak suka, bukankah akan lebih baik jika mas Yono menarik truk pak Yudi dan memecatnya, dari pada menyuruhnya untuk libur dulu, dan setau ku dia di liburkan karena laporan kesehatan dari pak Yudi tak baik, apa ibu tau itu?" tanya Wulan yang mengejutkan Bu Susi.


"Itu tidak mungkin,suamiku sehat-sehat saja kok," kata Bu Susi.


"yakin, tekanan darah tinggi, dan kolestrol juga, dan jika tak percaya anda bisa tanya pak Andik selaku kernetnya," jawab Wulan yang mengambil tahu dan tempe.


"Ini ibu juragan kok makannya sederhana sekali, tahu tempe dan cabe, memang tak sanggup beli ayam?" kata Bu Lastri.


"Bukan tak sanggup Bu, tapi hidup sederhana itu lebih menyenangkan di banding hidup dengan bermewah-mewah, lagi pula makan ini saja sudah sangat enak saat makan sepiring berdua," kata Wulan


"Itu benar sekali, tapi Wulan kamu sudah menikah dua bulan, apa sudah ada tanda-tanda hamil, kasihan loh mas Yono itu udah tua," kata Bu Anas.


"Belum di kasih Bu, tapi kami terus berusaha dengan ikhtiar dan doa," jawab Wulan singkat


"Aduh kasian amat, padahal banyak yang di bawah mu baru menikah sudah isi loh, jangan-jangan mandul ya," kata Bu Susi.


"Kalian ini benar-benar hebat ya, orang baru nikah langsung isi di bilang hamil di luar nikah, baru nikah tiga bulan belum isi di bilang mandul, ada perawan tua katanya di bilang jelek tak laku, terus kalian bangga gitu gadis di bawah ku yang hamil di luar nikah itu, sekarang jika aku kembalikan pada Bu Susi, banyak tuh orang gendut kayak ibu dan seusia ibu sudah mati, ibu kapan nyusul?" kata Wulan karena marah.


"Heh jaga bicaramu ya," marah Bu Susi


"Yang harusnya jaga bicara itu siapa, saya atau Bu Susi, makanya kalau ngomong itu di pakai otaknya jika tak malu saat perkataan itu di kembalikan orang lain," marah Wulan dengan suara meninggi.


"Dasar wanita pecinta uang," geram Bu Susi yang tak bisa membalas Wulan.


"Kalau aku memang begitu, mulai sekarang bilang pada suami mu itu, untuk tidak usah kembali lagi bekerja pada suamiku, terlebih karena mulut jahat istrinya yang tak pernah makan bangku sekolah," kata Wulan yang kemudian pergi setelah membayar.

__ADS_1


"Mampus kamu Susi, sekarang suami mu benar-benar di pecat," kata Bu Anas yang merasa puas batinnya.


__ADS_2