Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
tiga harian (Bu Susi)


__ADS_3

malam itu, tiba-tiba suara ketukan di dengar oleh Bu Eka, suara itu sangat nyaring terdengar.


"pak itu ada yang ketuk pintu," kata Bu Eka yang membangunkan suaminya.


"tidur Bu, kenapa kamu malah ngomong yang tidak-tidak," jawab pak Surip


"itu ada ketuk pintu ih," kesal bu Eka.


"ini sudah malam Bu," kata pak Surip yang tak ingin bangun.


Bu Eka pun keluar dan memutuskan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


dia pun membuka pintu dan kaget melihat sosok Bu Susi yang tersenyum lebar, menunjukkan bekas luka di bibirnya yang robek sampai kuping.


belum lagi bekas bacokan di kepala yang menganga itu, "tidak, kenapa kamu kesini pergi," kata bu Eka yang terduduk dengan ketakutan


"ayo ikut aku..."


"tidak pergi.."


"pergi..."


"jangan ganggu aku, pergi!!" teriak Bu Eka.


tapi sosok Bu Susi terus mendekatinya, dan wanita itu terus berontak mengusir arwah itu.


pak Surip kaget melihat istrinya yang berteriak tak jelas sambil berontak ketakutan.


"Bu ibu bangun Bu, ya Allah Bu..." sentak pak Surip.


"pergi!!" teriak Bu Eka yang langsung menangis ketakutan.


"bapak.... tadi ibu mimpi buruk, Bu Susi datang untuk membawaku pergi bersamanya, ibu tak mau pak," tangis Bu Eka.


"astaghfirullah Bu, itu cuma mimpi, lain kali kalau mau tidur itu berdoa," jawab pak Surip.


akhirnya mereka berdua pun beristirahat, Bu Eka pun tak lupa mengambil wudhu sebelum tidur.


sedang di rumah Nia, dia membuat dua ratus berkat karena yang ikut tahlilan sangat banyak.


Nia tak menyangka wanita yang kapan hari menghinanya akhirnya berakhir buruk seperti ini.


pukul empat pagi Nia mulai memasak bumbu dan lainnya, di rumah pak Yudi pria itu tampak termenung.


bagaimana tidak, istri dan putra yang selama ini dia sayangi akhirnya di renggut secara paksa seperti ini.


sedang di toko pak Hadi, ibu-ibu yang sedang belanja malah menggosipkan Bu Susi.


"tuh Bu, makanya kalau punya perhiasan itu jangan di pakai semua, sekarang kalau sudah mati kan gak lucu," kata Bu Tomo.

__ADS_1


"iya juga ya, Bu Susi ini kan tukang pamer,ya itu balasannya, tapi yang aku dengar mulutnya di robek sampai telinga ya, ih... ya Allah serem ya Bu," kata Bu Toto yang menyahut.


"itulah hukum karma, makanya kita sebagai manusia itu harus sering menjaga ucapan agar tak mengalami hal buruk seperti itu," kata Bu Anas.


"sudah ibu-ibu, kasihan orangnya sudah mati kok ya masih di gunjingkan, kasihan atuh pak Yudi yang sedang terpukul," kata pak Hadi yang berusaha menyudahi pembicara itu.


"buat apa kasihan, sebentar lagi pak Yudi bisa menikah dengan wanita yang lebih muda dan cantik, buat apa bingung," kata Bu Anas yang membuat semua orang tertawa.


tapi itu memang benar, banyak wanita muda yang melirik pak Yudi, pasalnya pria itu semenjak sudah tak jadi supir.


penampilannya semakin bersih dan tubuhnya juga membaik karena hidup sehat.


kalau sisa di bilang ya pak Yudi sekarang itu seperti Adipura, yang biasa jadi pemeran antagonis.


itulah kenapa Bu Susi takut jika suaminya itu di ambil oleh wanita yang lebih muda.


siang hari kloter pertama berkat selesai karena itu akan di bagikan untuk ibu-ibu tahlilan di sore hari.


Nia yang terpaksa mengendong anaknya sambil mengantar berkat itu.


"aduh mbak Nia itu anaknya kok di ajak, apa gak capek?" tanya ibu-ibu yang membantu menata kue di rumah pak Yudi.


"tidak apa-apa Bu, habis di rumah tidak ada yang jaga karena putra pertama saya sedang les bahasa Inggris," jawab Nia.


"owalah ya Allah, mbak Nia ini benar-benar wanita kuat ya," puji Bu Tomo.


"harus Bu, karena saya hanya bisa bertahan dan berjuang sendiri untuk mereka," jawab Nia tersenyum.


"tapi nanti merepotkan bapak, tidak apa-apa biar saya bawa saja," kata Nia yang merasa tak enak.


"sudah mbak Nia, biarkan saja di jaga pak Yudi, itung-itung bantu pak Yudi untuk tidak sedih lagi, karena putra mcak Nia ini kan lucu," kata pak Anas.


mendengar itu, pria itu dapat tatapan maut dari istrinya, "beber tuh mbak, kasihan dedeknya juga terus di ajak naik motor panas begini,"


Nia pun akhirnya mengizinkan putranya untuk ikut pak Yudi, dan terlihat keduanya langsung bisa akrab.


bahkan bocah itu terus menempel pada pak Yudi seperti pada ayahnya sendiri.


pak Anas mengusap kepala raja dengan lembut, "kasihan ya pak, anak yang masih sekecil ini harus jadi yatim dan tak mengenal ayah kandungnya,"


pak Yudi pun hanya mengangguk tersenyum, "iya pak,"


akhirnya semua pesanan selesai dengan cepat karena Nia tak ada yang merecoki.


tapi rumah jadi sepi karena raja di bawa pak Yudi dan tak di izinkan pulang tadi.


setelah acara tahlilan ibu-ibu selesai, Nia mengantar untuk acara tahlilan bapak-bapak.


dan kali ini dia membantu untuk memasukkan kedalam tas, saat membantu bia bingung karena tak melihat putranya.

__ADS_1


"maaf Bu RT, ini lihat psk Yudi dan raja gak, kok gak kelihatan?"


"itu tadi main di kamar kok, kamu tau Nia, pak Yudi yang beberapa hari ini murung sekarang sudah bisa senyum, itu berkat Raka, sudah tenang saja dia di jaga dengan baik kok," kata Bu Anas.


ternyata Fahri juga sudah pulang dan ikut membantu di rumah pak yudi.


bocah itu juga sangat ramah seperti halnya Nia, "Fahri kapan mau sunat?" tanya pak Tono yang di kenal sebagai takmir masjid.


"tunggu ada sunat massal saja, kasihan kalau minta sunat ke bunda, kan bunda tidak punya uang," jawab Fahri jujur


semua pria yang mendengar jawaban bocah itu terenyuh, "baiklah nanti kalau ada sunat massal bapak bawa ya," kata pak Tono


"iya pak," jawab Fahri.


"nanti kalau Fahri sunat bapak kasih uang saku yang banyak, karena sudah berani," kata pak Anas yang mengusap kepala bocah itu.


"iya pak," jawab Fahri semangat.


akhirnya pukul lima sore semuanya selesai, bahkan Raka baru bangun dan keluar kamar.


melihat Nia, bocah lima tahun itu pun memeluk ibunya, "sekarang kita pulang yuk,"


bocah itu mengangguk, Nia pun mengajak anaknya pulang dan sebelum itu mereka berpamitan pada tuan rumah.


"pak Yudi saya pamit pulang dulunya, adek dan mas Salim dulu," kata Nia.


"terima kasih sudah mau bantu, jika kamu repot, bisa titipkan raka di sini, setidaknya aku punya teman untuk bisa membuat ku sadar," kata pak Yudi yang terlihat murung.


.


.


.


.


.


.


.


pak Yudi



bu Susi


__ADS_1


Nia



__ADS_2