
Sore hari, Bu Lastri sedang santai di teras rumah sambil menunggu suaminya itu pulang.
kebetulan Bu Eka lewat bersama dengan Alan Putranya, "Bu Lastri," sapanya.
"iya.." jawab Bu Lastri menyeringai.
"sadar tak tau malu, bisa-bisa bersikap begitu padahal sudah jadi janda saja," kata Bu Lastri.
sedang Bu Eka tak mengerti kenapa wanita itu tampak berbeda padanya, padahal dulu mereka ini bisa di bilang teman baik, tapi semua berubah setelah kejadian yang menimpa dirinya.
"sudahlah Bu, tak usah berteman dengan orang seperti itu, kalian berteman juga terlalu banyak membuat dosa saja, ingat Bu jika ibu menjadi tukang ghibah aku akan meninggalkan rumah setelah lulus sekolah," kata Alan yang mengancam ibunya itu.
karena dia tak ingin menjadi bahan olok-olok orang lagi, karena mulut ibunya yang tajam bak pisau yang baru di asah.
bahkan sering membuat perpecahan pada keluarga seseorang, itu membuat dia sangat tak nyaman.
"iya le, ibu akan berusaha memperbaiki sifat ibu," jawab wanita itu.
mereka sampai di daerah kecamatan untuk mengambil uang yang memang selama ini di buat tabungan pendidikan Alan.
terlebih saat kelas tiga begini kebutuhan banyak terutama untuk bayar uang ujian.
tanpa sengaja Alan melihat sosok pak eko yang berboncengan dengan seorang wanita muda.
tapi dia tak banyak bicara dan hanya diam saja, saat ibunya selesai mengambil uang mereka pun bergegas pulang.
Alan hanya cukup tau dan tak mau mengatakan apapun, Bu Eka merasa jika putranya itu sedikit pendiam sekarang.
sedang Bu Lastri merasa jika suaminya itu mungkin sangat sibuk hingga belum pulang meski sudah hampir Magrib.
"ada apa, kenapa mas tak mau pulang, nanti mbak Lastri curiga loh, Jan warung kopi mas juga sudah tutup sementara," kata Winda.
"kamu mengusirku dek," kata pak Eko.
"bukan begitu mas, aku hanya tak enak pada mbak Lastri, mas Jan tau bagaimana tabiat istri mu itu," kata Winda itu sedikit lirih.
"biarkan saja, aku semakin bosan melihat dirinya di rumah yang nampak kucel dan bau, padahal aku juga memberikan uang yang cukup banyak untuk uang belanja," kata pak Eko.
"tapi mas, mungkin benar kebutuhannya naik," lirih Winda.
"tidak usah bicara sayang, lihat saja putra-putra kita yang mondok tak menghabiskan sebanyak itu, oh ya bagaimana usaha milik mu, dan bukankah sawah yang ada di desa mu sudah panen," tanya pak Eko yang mengusap rambut wanita itu.
"iya mas, semuanya sukses dan lancar, Alhamdulillah itu rezeki anak-anak, dan yang terpenting ayah mereka ini sangat bertanggung jawab," kata Winda tersenyum.
__ADS_1
"aku bisa gila mungkin jika tak memiliki dirimu, terima kasih ya sayang," kata pak Eko yang kini mulai mengecup bibir Winda.
akhirnya mereka pun mengakhirinya di kamar tidur, bagaimana pun Winda itu adalah wanita cantik yang sudah tiga belas tahun ini menjadi istri kedua pak Eko.
Bu Lastri yang tak mengerti mengira jika selama ini suaminya itu orang baik, nyatanya dia tetap pria biasa.
bahkan dengan Winda,pria itu memiliki dua anak laki-laki kembar yang juga sangat pintar.
pukul delapan malam, pak Eko baru sampai di rumahnya, Bu Lastri menunggunya dengan wajah masam.
bagaimana tidak, pria itu tak menjawab telpon atau menjawab pesan yang dia kirimkan.
"kenapa Bu, jika ingin marah besok saja, ayah lelaki karena warung begitu ramai," kata pak Eko yang langsung mandi.
tak lama dua juga langsung tidur, Bu Lastri ingin melihat pakaian suaminya itu, tapi nyatanya baju suaminya sudah di rendam di bak.
jadi dia tak bisa memeriksa pakaian suaminya itu,sedang pak Eko benar-benar bahagia hari ini.
keesokan harinya, seperti biasa bu lastri belanja bersama ibu-ibu di tukang sayur.
dia melihat sosok Nia yang datang dengan memakai jilbab lebar, "kenapa kamu sekarang begitu tertutup, malu..." ejeknya.
"bukan malu Bu, tapi belajar untuk menutup diri dan hanya bisa di lihat suami saya saja," kata Nia.
"itu bagus loh, saya juga mulai belajar kok, sudah merasa matang mau pamerin apa, susu juga sudah kendor," kata Bu Tomo.
"kalau nyindir saya," kata Bu Lastri yang merasa.
"tidak kok Bu, tapi kalau merasa ya berarti ada yang aneh dengan pakaian ibu ya," kata Bu Tomo.
"sialan, siash semua belanjaan ku habis berapa,aku mau pulang saja," kesal wanita itu.
sedang ibu-ibu yang lain ingin sekali tertawa, tapi Nia hanya bisa menghela nafas lelah.
karena Bu Lastri sangat membencinya, hanya karena wanita itu gagal menjodohkan suaminya dengan adik kandungnya.
Bu Eka kini datang dengan motornya, melihat itu dia langsung belanja dan memilih sayuran.
"wah baru kelihatan Bu, padahal kalau baru saja di tinggal mati suaminya bukannya tak boleh keluar dari rumah ya," kata Bu Tomo.
"ya gak makan Bu, oh ya Nia jika punya pekerjaan atau apapun itu, ajak aku dong, karena sekarang aku tak punya kegiatan di rumah," kata wanita itu.
"Apa Bu, ibu Eka tak salah, bukannya saya tak mau memperkejakan ibu, tapi saya tak sanggup jika mau minta gaji besar," kata Nia sedikit kaget.
__ADS_1
"tidak usah gadis besar tak masalah, dari pada saya diam saja di rumah," kata Bu Eka.
"baiklah nanti saya bilang dulunya ke mas Yudi, karena setahu saya ada lowongan untuk membantu membuat gorengan," kata Nia.
"di tunggu ya," kata Bu Eka.
"inggeh Bu, kalau begitu saya pamit dulu ya," kata Nia yang undur diri.
sesampainya di rumah, pak Yudi melihat istrinya itu langsung memeluknya erat.
"mas... tadi sudah, kenapa sekarang seperti ini," kata Nia kaget.
"ya memang gak boleh ya, oh ya ibu gak marah kan aku suruh nganterin Raka sekolah?" tanya pak Yudi.
"ibu sih gak marah, tapi malah seneng banget loh, ibu bilang dia merasa jadi ibu muda lagi karena di panggil Oma cantik Raka, dan sekarang ibu itu jadi tempat keluh kesah ibu-ibu muda yang baru punya anak, sudah ibu seneng banget pokoknya," kata Nia.
"bagus kalau begitu, karena aku bisa mulai menikmati istriku ini," bisik pak Yudi yang membawa Nia masuk kedalam rumah.
sedang pak Eko yang tak sengaja melihatnya karena tadi sempat berhenti sebentar pun merasa iri.
terlebih pak Yudi yang bisa bebas menikmati waktu bersama istri barunya itu.
sedang dia jika ingin bersama istri mudanya harus sembunyi-sembunyi karena bisa bahaya jika Bu Lastri tau.
bukan masalah takut dia di tinggal atau apapun itu, tapi yang di takutkan pak Eko adalah Bu Lastri yang nekat melukai istri mudanya.
sedang Nia membahas apa yang tadi di bicarakan dengan bu Eka, dan pak Yudi menyetujuinya dan meminta wanita itu besok agar ke warung untuk mulai bekerja.
tapi nanti Nia akan mengantarkan seragam sekalian memberitahu apa saja peraturan selama bekerja di warung mereka.
bagaimana pun Bu Eka tak bisa seenaknya saat bekerja di sana.
Bu Lastri mengajak anaknya yang nomor dua untuk pergi ke kampung tetangga.
karena mereka sedang ingin menemui tenan lama bu Lastri, untuk bertanya-tanya.
karena dia curiga dengan suaminya yang sekarang semakin dingin padanya.
dia takut jika pak Eko punya yang lain di luar sana, jadi itulah kenapa dia ingin bertanya pada sahabatnya yang memang mengerti hal begituan.
pak Eko pagi ini berada di balai desa, tapi siang hari dia punya janji bertemu dengan istri mudanya.
karena dia merasa kangen ingin menikmati waktu berdua, terlebih pemandangan pagi hari membuatnya iri.
__ADS_1
bagaimana tidak pak Yudi yang sekarang terlihat kuda setelah menikah dengan Nia.
sedang dia makin lecek menikah lama dengan Bu Lastri, belum lagi aduan masyarakat tentang istrinya itu juga membuat kepalanya pecah.