Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
dia istriku


__ADS_3

pagi ini pak Yudi memaksa ingin mengantar Nia dan anak-anak ke rumah mantan mertua istrinya itu.


dia ingin melihat sendiri bagaimana perlakuan mereka pada Nia dan anak-anaknya.


"wohh.... ayah punya mobil!!" teriak anak-anak dengan senang.


pasalnya selama ini mereka selalu naik motor, karena Nia punya cuma itu.


"ini mobil yang di gunakan di warung, tapi tak masalah kali ini kita buat jalan-jalan," kata pak Yudi yang membantu memasukkan semua barang yang di bawa oleh Nia.


setelah itu anak-anak mau duduk di belakang, "Fajri awas adek ya," kata Nia yang duduk di samping pak Yudi.


"siap bunda," jawab bocah itu.


perjalanan mereka pun di mulai, Nia masih tak percaya dia akan menikah dengan pak Yudi.


padahal terakhir kali dia sempat bertengkar hebat dengan Bu Susi, tapi kini malah dia yang jadi istri suami Wanita itu.


mereka sampai di desa mbrambang, ya perjalanan mereka ini cukup jauh karena berbeda kecamatan dan jalan juga cukup membuat lelah karena tanjakan dan turunan.


saat mobil sampai di depan rumah mantan suami Nia, terlihat tatapan tajam semua langsung ke arah mereka.


pak Yudi seperti mendapatkan firasat buruk," kamu yakin akan turun dek, kenapa perasaan ku cemas ya," kata pak Yudi.


"tidak apa-apa mas, mereka memang seperti itu," kata Nia.


dia pun turun duluan di ikuti pak Yudi yang membantu anak-anak turun.


"anak-anak itu salin sama nenek," kata Nia yang mengandeng Raka.


seorang wanita yang sudah cukup berumur tiba-tiba mengarahkan tongkat kayu yang di pegangnya itu ingin memukul Nia.


beruntung pak Yudi sempat menangkap tingkat itu hingga tak sampai mengenai tubuh Nia dan Raka.


"apa anda gila!!" teriak pak Yudi.

__ADS_1


"owh sekarang janda sialan ini berani gas lelaki kemari, kamu mau tunjukkan jika kamu sudah bahagia sekarang, dasar wanita sial, kamu membuat anak ku mati tapi kamu sekarang bersenang-senang," tangis wanita tua itu.


"apa anda punya bukti jika Nia yang membunuh anak anda, dia yang punya hutang ke bank, dia tak bisa bayar dan jatuh miskin, dia yang bunuh diri, kenapa Nia yang salah?" tanya pak Yudi.


"kamu tak usah ikut campur, kamu itu orang luar, wanita sialan ini harus di hukum atas kesalahannya yang membuat anakku mati," kata wanita itu mulai berteriak seperti orang gila.


"cukup!!" bentak pak Yudi yang sudah tak bisa lagi mendengar Nia di hina.


"saya suami Nia sekarang, saya ayah dari kedua anak ini, dan saya bilang cukup anda menghina istri saya, jika tidak saya pastikan anda akan menghabiskan masa tua anda di penjara, jadi cukup!!" kata pak Yudi tegas.


"ya Tuhan dia sudah menikah dan tak memberitahu aku, kamu membawa kabur uang anakku," kata wanita itu kini menangis sambil berguling di tanah.


"mas tenang jangan terpancing emosi, ibu memang seperti ini setiap acara peringatan kematian putranya," bisik Nia.


"cukup Nia, mereka membiarkan mu berjuang menghidupi anak-anak sendiri, kamu datang itu sudah suatu yang baik, tapi niat ku tidak di hargai, lebih baik kita pergi, ayo Fahri, ayah tak mau kalian di lukai lagi oleh keluarga tak punya adab ini," kata pak Yudi yang mengendong Raka dan menarik Fahri masuk kedalam mobil.


Nia pun mengikuti suaminya, karena bagaimanapun juga pak Yudi kini menjadi imam yang harus dia ikuti.


seorang pria menghampiri pak Yudi, tapi pria itu menatapnya dingin, "mau apa, anda mau bertingkah gila juga," kata pak Yudi.


pak Yudi langsung memundurkan mobil dan bergegas pergi dari rumah keluarga Nia itu.


ternyata saat mobil pak Yudi pergi, bertepatan dengan mobil berwarna hitam yang di kendarai oleh beberapa orang


dan mobil itu berhenti di rumah itu, pak Yudi yang masih bingung begitupun dengan Nia memilih berhenti di sebuah warung.


beruntung ada sesepuh di desa itu, "Alhamdulillah Nia kamu tak apa-apa, siapa bapak ini?"


"ini suami baru Nia bah, tapi sebenarnya ada apa kok tadi cak topan begitu panik saat menyuruh mas Yudi pergi membawa kami," kata Nia.


"sebenarnya Nia, ibu mertua mu itu berniat buruk, dia ingin menjual mu pada juragan Darto, beruntung kamu sudah menikah, jadi tak bisa lagi niat buruk wanita tua itu," kata pria sepuh itu.


"sekarang aku mengerti kenapa dia ingin memukul mu dengan tongkat agar kamu pingsan dan mudah untuk di bawa, tapi aneh sekali tak ada satu pun keluarga yang menahan atau melakukan apapun untuk menolong Nia," kata pak Yudi geram.


"mas tenang, pernikahan ku dulu itu di tetang oleh keluarga suamiku, jadi mereka acuh tak acuh padaku," kata Nia.

__ADS_1


"sudah cukup, sekarang aku tak ingin kamu terluka lagi, jadi tanpa izin dariku kamu tak boleh ke sini, terutama bawa anak-anak, karena itu tak baik untuk perkembangan mereka,"


"baik mas," jawab Nia


sesepuh desa pun merasa senang bisa melihat Nia yang bisa menemukan pasangan hidup yang sangat baik.


sedang di rumah mantan mertua Nia itu, juragan tua itu mengambil semua yang sudah dia berikan, karena dia tak bisa menikmati tubuh mulus dari Nia.


akhirnya pak Yudi dan Nia membawa semua bawaan mereka menuju ke sebuah panti asuhan.


dan di sana mereka pun melakukan doa bersama dan santunan juga, dan mereka berdoa untuk semua keluarga yang sudah meninggal terlebih dahulu.


pukul empat sore mereka pun sampai di rumah Nia, dan pak Yudi membantu menurunkan semua barang-barang.


"sudah ya, ayah harus pulang dulu," pamit pak Yudi.


tapi tanpa di duga anak-anak menahan pria itu, "kan ayah dan bunda sudah menikah, kenapa harus pulang..." kata Fahri.


"tapi di sini kamarnya tak cukup loh," kata pak Yudi berbohong.


"menginap di sini saja mas, ajak ibu juga, kalau di rumah mas Yudi saya merasa tak nyaman karena seakan saya bisa melihat mbak Susi, maaf..." kata Nia.


"baiklah, tapi aku punya ide yang lebih baik," kata pak Yudi.


ternyata pak Yudi memilih tinggal di rumah ibunya yang memang masih satu dusun tapi lebih luas.


mendengar itu Bu Yanti sangat senang, karena dulu Bu Susi tak mau tinggal di rumah itu.


Nia juga memutuskan akan memperbesar usaha suaminya dengan menggabungkan usaha mereka.


jadi itu nanti bukan hanya cafe untuk nongkrongnya tapi juga warung yang menjual nasi.


semua juga berjalan lancar seperti sudah ada garisnya, rumah ibu dari pak Yudi ini dekat dengan rumah Bu Anas dan Bu Tomo.


otomatis mereka akan sering bertemu, terlebih Nia juga sekarang terlihat sangat cantik dengan mengunakan baju yang lebih tertutup.

__ADS_1


__ADS_2