
Bu Eka benar-benar syok dan merasa sangat terpukul atas kematian dari suaminya yang mendadak.
bahkan dia sekarang seperti orang linglung, Nia datang bersama warga yang lain, pak Yudi juga langsung datang dari warung.
sedang anak-anak yang di rumah dengan neneknya. "ya Allah Bu, saya gak sangka jika umur pak Surip sesingkat ini," kata Bu Anas.
"iya Bu, tapi yang saya denger jika pak Surip terkena serangan jantung dan tak ada yang menolong," kata Bu Tomo.
Nia yang juga tau jika suaminya itu pernah memiliki riwayat yang sama pun, akhirnya mencoba untuk selalu membuat suaminya itu hidup sehat.
"tapi pak Yudi juga bisa selamat ya kan mbak Nia," kata Bu Toto.
"Alhamdulillah Bu, tapi sekarang mas Yudi rajin olahraga dan hidup sehat, tidak apa-apa tak makan enak, asal tubuh mas Yudi sehat," kata Nia yang juga takut suaminya itu mengalami hal yang mengerikan.
"iya ya mbak, saya gak sangka banget loh harus seperti ini," kata Bu Tono.
"ya sudah Bu sekarang mari kita masuk," ajak Bu Anas.
Nia juga memberikan santunan pada Bu Eka yang masih syok, semua berjalan cepat karena Alan tak ingin membuat jenazah ayahnya itu terlalu lama di semayamkan.
setelah pemakaman, sore hari ada pengajian ibu-ibu, tapi tak ada yang datang.
terlebih banyak warga yang tak suka dengan perangai Bu Eka selama ini, hingga membuat orang-orang malas untuk mengikuti acara tahlilan itu.
di tambah Bu Anas, dan Nia yang selama ini aktif juga tak datang, bukan karena apa, karena ada acara lamaran nanti malam.
Nia di bantu oleh semua pegawainya pun akhirnya selesai membuat kue pesanan dari Bu Anas.
"loh Bu Toto tidak ikut tahlilan di rumah Bu Eka?" tanya Nia.
"aku pulang lagi, orang ibu-ibu bilang Semuanya malas, karena mulut Bu Eka, terus aku mau tahlilan sendiri, aku gak mau ah, pasti doanya tidak sampai, karena banyak yang hatinya dongkol," kata Bu Toto
"astaghfirullah..." kata Nia yang hanya bisa mengeleng pelan.
akhirnya waktu lamaran pun datang, keluarga Jerry datang ke rumah keluarga pak RT.
pak Yudi juga membantu di sana,dan acara berjalan sangat baik, bahkan kedua pasangan itu sangat berbahagia.
__ADS_1
sedang di rumah pak Surip, yang datang mengaji untuk bapak-bapak cukup banyak karena semua orang yang mengenal pak Surip datang.
beruntunglah pak Surip itu orang baik, bahkan pak Sunar juga dapat uang santunan untuk acara biar berjalan lancar dari pak Yudi.
meski setelah apa yang tejadi padanya, pria itu sungguh baik memilih memaafkan dan melupakan semuanya.
"lihat mbak semua tetangga mu ini baik dan peduli, tapi dengan mulut pedas mbak,hingga ibu-ibu saja malas untuk mendoakan suamimu, ya Allah... kasihan mas Surip," marah pak Sunar.
"tutup mulutmu, itu saja ibu-ibu yang tak punya otak, padahal dulu aku sering ikut mengaji di mana-mana, tapi lihatlah hanya karena sedikit kesalahan ku, mereka bertingkah seperti ini," marah Bu Eka yang tak mau di salahkan.
"mbak itu pikir mbak, sekali saja minta maaf pada ibu-ibu," kata pak Sunar.
"sudah paklek, saya yang akan minta maaf pada Bu RT agar mereka besok mau datang untuk ikut tahlilan demi mendoakan ayah," kata putri pertama Bu Eka
"tidak, jangan merendahkan dirimu seperti itu," kata Bu Eka.
"cukup Bu, seandainya onu itu bersikap baik, pasti tidak akan seperti ini, jadi aku mohon jangan berulah lagi, aku sudah cukup malu," kata wanita itu.
Alan juga ikut dengan kakaknya besok untuk meminta maaf agar ibu-ibu mau mengaji.
Nia mengusap rambut pak Yudi yang sedang menidurkan kepalanya di dadanya.
"kamu memikirkan apa sayang?"
"aku merasa takut saja, mas pernah punya riwayat serangan jantung juga, aku takut jika kejadian seperti pak Surip..." lirih Nia yang tak bisa berpikir lagi.
"ya Allah aku selalu melakukan cek up, dan dokter bilang jika serangan jantung ku itu terjadi karena ada penumpukan lemak di pembuluh darah, dan jika aku hidup sehat, insyaallah bisa hidup panjang sayang," kata pak Yudi.
"aku tau mas, tapi aku takut saja, karena aku baru merasakan kebahagiaan seperti ini," jawab Nia.
pak Yudi juga tak mau kehilangan semuanya, karena memiliki istri seperti Nia adalah kebahagiaan yang sempurna.
"tenangnya sayang, kita berdoa dan selalu jaga kesehatan," jawab pak Yudi.
sedang di rumah pak Anas, semua masih tak percaya dengan hantaran yang di berikan oleh keluarga Jerry.
bahkan perhiasan satu set beserta sepatu dan tas, belum lagi yang lainnya.
__ADS_1
"ibu tak sangka keluarga mereka sebaik ini loh yah, ya Allah.... ini hantaran saja tak cukup tiga juta," kata Bu Anas.
"Alhamdulillah Bu, berarti Vina menemukan jodohnya yang tepat, dan lagi sepertinya ibu dan calon besan juga sangat akrab," kata pak Anas yang tadi kaget karena tingkah kedua wanita uang akan jadi besan itu.
"iya pak, ibu itu seperti ngobrol sana teman, beh... padahal orang-orang kalau ngomongin besannya sampai z salah Semuanya," saut bu Anas.
itulah yang bapak suka karena ibu itu bisa begitu mudah bergaul dengan besan.
esok harinya semua orang sedang berkumpul seperti biasa di tukang sayur.
"loh ibu-ibu ini tak ada yang bantu-bantu di rumah pak Surip apa, kok pada masih di rumah,"
"tidak ah, bisa tidak ikhlas saat bantu kan repot," kata Bu Tomo dengan cuek.
"pagi ibu-ibu," sapa Nia sopan yang datang untuk belanja juga.
"loh Nia kapan di resmikan pernikahannya, masak sampai nanti cuma nikah siri sih, aduh kasihan amat tidak di catatkan ya, kalau begitu bukankah sama dengan simpenan ya," ejek Bu Lastri yang melihat wanita itu.
"ya Allah Bu Lastri, kenapa sih julid banget ada mbak Nia, asal ibu tau ya sebentar lagi juga resmi kok, bilang saja sudah tak tahan mau dapat berkat bukan," kata Bu Toto.
"alah paling juga ikannya kecil, orang pak Yudi pelit gitu," kata Bu Lastri.
"yang pelit itu Bu Susi, kalau pak Yudi mah baik dan baik hati, lihat gak kemarin pas kita bantu di rumahnya,kami saja di kirimin sembako loh, makanya jadi tetangga itu yang rukun,jadi kalau tetangga dapat rejeki kan dapat juga," kata Bu Anas yang ikut kesal sendiri.
"alah tidak mungkin," kata Bu Lastri yang membanting kangkung dengan marah.
"aduh Bu itu dagangan kok di banting sih, kalau gak mau belinya jangan begitu," tegur penjual sayur itu.
sedang Bu Toto menepuk punggung Nia agar wanita itu kuat menghadapi celaan dari Bu Lastri.
"gak jadi beli sayur aku, orang gak seger gini, lagi pula kalian menyebalkan, cih..." kata Bu Lastri.
"Bu ini titipan dagingnya gimana, mau di ambil atau tidak!!" teriak penjual sayur itu.
"gak jadi takut mati kayak pak Surip," kata Bu Lastri.
"yey... pak Surip mati itu ngenes punya istri seperti Bu Eka, dan sebentar lagi pak polo nikah lagi dengan yang muda karena bisan dengan istrinya yang cerewet dan gak bisa ngerem omongan kayak ibu," kata pedagang sayur makin pelan
__ADS_1
"Napa makin lirih, takut di unyet sama Bu Lastri," kata Bu Anas yang membuat semua orang tertawa
"lah itu Bu RT sudah tau, he-he-he-he,"