Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
anak remaja


__ADS_3

Setelah Kejadian kapan hari, mbiat Bu Anas sangat protektif pada putrinya.


Iya sekarang Vina tak boleh keluar tanpa persetujuan dari Bu Anas, bahkan untuk pulang sekolah saja dia rela menjadi ojek untuk putrinya itu.


Seperti saat ini, seorang gitu terlihat mendekati Vina yang akan pulang, Bu Anas tak suka melihat hal itu.


"Maaf permisi ya, anda ini guru jenaka tidak sopan, dia ini gadis pak!" marah Bu Anas.


"Ah anda ibunya Vina, saya cuma mau minta maaf, tapi Vina terus menghindar dari saya," kata guru ekonomi itu.


"Peduli amat, jika memang anda mau berniat baik minta maaf dan menjelaskan, datang ke rumah bukan malah menganggu Vina, ingat ya pak, saya pastikan tak akan diam jika ada yang membuat putriku bermasalah lagi," jawab bu Anas.


Guru itu pun terdiam, dia tak mengira jika meminta bantuan dari Vina bisa berakibat buruk seperti ini.


Vina pun hanya menunduk takut,dan memutuskan untuk pulang dengan ibu sambungnya itu.


"Dasar guru tak tau adab ya, dia yang bikin sudah, enak saja sekarang masih mau mengusik putriku," kata Bu Anas


"Kenapa kamu belum naik, ayo pulang," ajak Bu Anas.


Vina diam dia tau jika ibunya itu memang cerewet, tapi itu semua baik karena di lakukan demi kebaikannya.


Bahkan pak Anas pun tak bisa berkutik jika istrinya itu sudah ngomel.


"Kamu mau makan bakso dulu atau mie ayam?" tanya Bu Anas yang sudah lama tak memiliki waktu dengan putri sambungnya itu.


Terlebih Vina sudah menjadi gadis remaja yang hampir memasuki fase dewasa.


"Boleh beli bakso itu loh Bu yang gajih Tegal, aku ingin makan disana," kata Vina.


"Huh... kita memang punya selera yang sama ya, mumpung adek di rumah sama ayah kita langsung ke sana," kata Bu Anas.

__ADS_1


Saat mereka sampai, keduanya duduk dan mulai memesan, Bu Anas tau jika Vina sudah waktunya mengenal cinta itulah kenapa dia perlu membicarakannya berdua saja.


"Tadi itu guru mu masih muda ya, belum menikah?" tanya Bu Anas penasaran dengan guru yang menahan Vina.


"Belum Bu, dia berusia dua puluh enam tahun dan mengajar di pelajaran ekonomi," jawab Vina dengan sedikit takut


"Kamu dan dia pacaran ya?" tanya Bu Anas karena melihat tatapan pria itu pada putrinya.


"Tidak Bu, tapi dia bilang jika menyukaiku, tapi aku sudah bilang jika aku tak ingin pacaran, terlebih setelah kejadian kemarin aku berusaha menghindarinya," jawab Vina takut.


"Maaf ya nduk, bukan ibu tak memperbolehkan mu pacaran, kamu tau benar jika sekarang mulut tetangga kita bisa membunuh orang, ibu tak melarangnya asal kamu bisa jaga diri, tapi alangkah baiknya jika dia datang saja ke rumah jangan seperti kemarin, ibu hanya tak ingin nama bapak mu yang tercemar," kata Bu Anas yang selalu menjaga nama baik suaminya.


Itulah kenapa saat ada kejadian buruk seperti kemarin, dia pura-pura membenci putrinya itu, meski di hatinya rasa ingin mencakar dia mulut wanita sialan itu begitu besar tapi dia harus sabar.


"Iya bu, Vina mengerti dan akan mengingat itu,"


Di Rumah pak RT saat ini kedatangan guru pria yang kapan hari mengantar Vina, dia datang untuk meminta maaf.


"Iya pak, saya datang di sini cuma mau minta maaf, karena saya yang mengantar Vina kapan hari, jadi kalian dapat masalah," kata guru pria bernama Jerry itu.


"Tenang saja pak Jerry, istri saya sudah menyelesaikan masalah itu, anda tak tau istri saya itu beh... ibu RT paling di segani di desa ini," kata pak Anas dengan bangga


"Iya pak, saya tadi bertemu beliau yang begitu tegas, sebenarnya saya mau jujur, sebenarnya saya menyukai putri bapak dan ingin menjadikannya istri saya, tapi setelah kejadian kemarin dia malah menjauh dari saya," kata pria itu dengan takut.


"Owalah, tunggu dulu ya minum dulu, tenang saja kita tunggu anaknya lain," kata pak Anas.


Pasalnya dia itu orang paling santai dan modern, itulah kenapa dia menanggapi semua dengan tenang.


Motor Vixion berwarna merah itu, sedikit memancing rasa penasaran Bu Eka yang memang rumahnya tepat di depan rumah Bu Anas.


"Eh... itu bukannya motor pria yang mengantarkan Vina kapan hari ya," gumamnya.

__ADS_1


Tak lama motor Bu Anas datang bersama dengan Vina, mereka kaget melihat motor besar itu ada di depan rumah.


"Halah... dia beneran datang dong," kata Bu Anas yang merasa kesal.


"Ada tamu besar Bu, kok kayak pernah lihat motornya," tanya Bu Eka.


"Calon mantu sambang, kenapa mau ikut kenalan, ayo biar nanti bisa cerita-cerita kita," saut Bu Anas dengan ramah.


"Owalah orang anak masih SMA gitu mau di nikahin, kok ya kasihan," kata Bu Eka dengan nada mengejek.


"Itu mah lebih baik, dari ada belum lulus sekolah tapi sudah hamil lima bulan," kata Bu Anas yang membuat mulut Bu Eka diam.


"Sudah ya Bu masuk dulu, kasihan sudah nungguin," kata Bu Anas menarik putrinya masuk.


"Duh... mulut si Ani ini lemes banget, awas saja kalau anaknya hamil duluan juga, habis nanti kamu tau rasa," kesal Bu Eka yang masuk kedalam rumah.


Bu Anas yang masuk ke dalam rumah, "aduh istriku sudah pulang, nih calon mantu di restuin," tanya pak Anas.


"Kamu mau mati pak, kalau mau melamar Vina memang punya apa, jangan bilang punya banyak harta milik orang tuanya," ketus Bu Anas.


"Bismillah tidak Bu, saya sudah mandiri karena orang tua saya mengajarkan itu dari kecil, kebetulan kalau rumah kecil sudah punya sendiri, dan Alhamdulillah motor juga tidak kredit," kata Jerry.


"Tuh denger kan,jadi di restuin gak?" kata pak Anas yang menganggu istrinya.


"Au ah, sudah Vina masuk ganti baju biar ibu dan bapak bicara dulu dengan tamunya,"


"Iya Bu, permisi pak Jerry," kata Vina.


Gadis itu masuk kedalam rumah, terlihat Bu Anas sangat lelah, "ada apa Bu?"


"Bukan aku tak mau punya menantu yang mandiri yah, tapi karena Vina putri ku yang istimewa, aku takut dia akan di ledek dan jadi bahan gunjingan saat kalian menikah nanti, dan kamu akan malu saat bersamanya," kata Bu Anas sedih.

__ADS_1


"Saya sudah tau semuanya, Vina sudah cerita apa yang terjadi dan siapa ibunya, tapi bagi saya yang terpenting adalah bagaimana sifat dan karakter dari gadis itu,bukan masa lalu orang tuanya," jawab Jerry yang membuat Bu Anas dan pak Anas tersenyum.


__ADS_2