Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
bertemu musuh yang tepat


__ADS_3

"heh Bu Anita jaga mulut mu ya, jangan sembarangan bicara, aku tak pernah melakukan itu," kata Bu Eka yang tak ingin malu.


"kamu yakin Bu, ya tuhan padahal dulu kamu menggoda pria itu tanpa tau tempat dan sekarang kamu malu, cih..." kata Bu Anita.


ibu Wulan tak mau terlibat jadi dia memutuskan untuk pergi dari sana dan tak menggubrisnya.


"sudah pak i, tolong hitung semuanya, jadi aku belanja habis berapa?"


"iya Bu, jadi seratus dua puluh ribu," jawab pedagang sayur itu.


"aku juga bang, owh bumbu semur juga bawakan pesanan ku," kata Bu Anita yang tak mau berurusan dengan Bu Eka.


"iya Bu, dengan kerupuk jadi seratus tiga puluh," jawab pria itu.


"jangan lari Anita, kamu mau pergi setelah mengatakan omong kosong," marah Bu Eka.


"omong kosong, sayangnya itu bukan omong kosong, kamu lupa jika pria yang kau goda itu punya seorang anak, dan sekarang anaknya itu berdiri di depan mu, dan kamu tau kenapa pria itu tak mengejar mu, karena semua kekayaan yang dia miliki itu milik ibuku, jadi kaku sebagai perebut suami orang itu goblok," kata Bu Anita yang pergi.


Bu Eka syok dan tak percaya, bagaimana anak dari pria yang dia rebut sekarang malah tinggal satu desa dengan dirinya.


itu berarti putrinya dan wanita itu satu ayah, tapi dia tak mau jika berita ini tersebar makin jauh.


"pak i jangan mengatakan apapun yang kamu dengar tadi, atau jika tidak ku robek mulut mu," kata Bu Eka yang langsung pergi.


dia terlanjur malu, tapi penjual sayur itu tak mudah untuk mengikuti perintah Bu Eka.


"sayur..." teriak pak i.


pria itu kini sudah pindah di daerah sekitar rumah Bu Tomo, Bu Anas dan Bu Yanti.


Nia keluar dengan mengenakan daster oblong dan jilbab instan yang menambah kecantikannya.


"loh tumben belanja di tukang sayur Nia," tegur Bu Tomo.


"iya Bu, mas Yudi dan Raka sedang ingin makan ikan pindang buntut merah, ada pak i?" tanya Nia.


"ada mbak, ada gosip baru, masih hangat beh bisa geger dunia persilatan mbak," kata pak i dengan semangat.


"loh... berita opo i, penasaran aku," kata Bu Toto yang baru datang.

__ADS_1


Nia hanya geleng-geleng saja mendengar tingkah ibu-ibu ini, Nia mengambil sayur asem bungkusan dan pindang yang di minta suaminya.


dia membeli dua keranjang, dan mengambil tahu dan tempe juga, "itu loh Bu, Bu Eka itu ternyata wanita yang merusak rumah tangga orang, dan anak perempuannya itu ternyata anak pria majikannya dulu," kata pak i.


"owh pantes, muka Alan dan kakaknya itu beda, ternyata anak hasil ramban toh," kata Bu Toto.


"bukan ramban Bu, tapi ngambil punya orang, ha-ha-ha," kata Bu Anas.


"aduh gak sangka ya, orang yang selalu keras dirinya suci eh... taunya busuknya nauzubillah," kata Bu Tomo.


"sudah pak i tolong di hitung ya," kata Nia yang takut mendengar semua gosip itu.


pasalnya dia sudah di wanti-wanti oleh pak Yudi agar tidak ikut bergosip dengan ibu-ibu.


"jadi enam belas ribu mbak," kata pedagang itu.


Nia segera pulang karena tak suka dengan obrolan ibu-ibu itu, sedang para ibu masih menggoreng berita hot itu agar tambah membara.


Bu Anita kini bisa melihat wanita yang membuat ibunya gila hingga mati, kini dia bersumpah akan membuat bu Eka menjadi susah.


bahkan untuk menunjukkan wajahnya saja, wanita itu harus malu, dan pak Rudi yang mengetahui niat istrinya juga tak masalah.


karena bagi pria itu, istrinya mau melakukan apapun itu selalu benar dan dia tak akan menghalanginya.


dia pun berusaha meyakinkan dirinya, dia merasa semua kondusif, siang itu dia memilih untuk pergi ke toko kelontong milik pak Hadi.


tapi sesampainya di sana, ada beberapa ibu yang berbisik saat melihatnya.


"kenapa kalian, itu sama orang kaya," kata Bu Eka ketus.


"ngapain iri, terlebih dengan wanita perusak rumah tangga orang lain, belum lagi yang tega menjual keponakannya demi mesin cuci, dan jika tak di belikan, di anggap tak berterima kasih karena di kenalkan dengan duda kaya, cih jijik amat, begitu pun masih merasa diri paling suci, mengelikan sekali," kata Bu Lilik.


"iya Bu saya jadi kasihan sama pak Surip, dia pasti tersiksa punya istri seperti Bu Eka ini ya, lihat saja sampai pria itu tak pernah pulang, di sawah Mulu," kata ibu yang lain.


mendengar itu Bu Eka pun merasa geram, setelah membeli kebutuhannya, wanita itu buru-buru pulang.


Bu Eka benar-benar malu saat ini, bagaimana tidak, pasti sekarang ini sudah heboh di kampung ini tentang dia yang selama ini jadi perusak rumah tangga orang.


dia tak menyangka gadis kecil yang dulu di jaganya,juga sudah besar dan kini sepertinya ingin balas dendam.

__ADS_1


tapi Bu Eka tau harus bagaimana, dia pun memiliki ide, jika dulu dia bisa membuat Ninik di buang dari keluarganya.


dia bisa melakukan hal itu lagi, tapi kali ini dia menargetkan sosok Lulu yang akan menikah dengan ustadz Arif.


Bu Eka pun memilih menghubungi salah satu keluarga dari ustadz Arif agar bisa menemuinya.


tanpa Bu Eka duga, kakak dari ustadz Arif itu datang bersama Bu Anita.


dia kaget bukan main, terlebih mereka janjian di warung milik pak Yudi dan Nia.


"jadi apa yang kamu inginkan,mau memfitnah putriku hah," marah Bu Anita.


"apa yang kamu katakan, aku tak mungkin mau melakukannya," bantah Bu Eka,


"kamu yakin, bukankah kamu bisa melakukannya pada siapa wanita itu, hah.... Ninik, dia bahkan sampai di usir dari rumah keluarganya karena dirimu, dan karena dirimu lah Lulu mengalami semua ini, jika kamu tak mempengaruhi orang tua angkat Lulu untuk berhutang pada pria lintah darat itu, Lulu tak mungkin jadi seperti ini sekarang, jadi jika berani kamu mencoba mengusik hidup putriku, lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu, karena aku bisa membuat mu menyesal selamanya," ancam Bu Anita.


sedang calon besan Bu Anita juga tersenyum, "lagi pula kami sekeluarga juga sudah tau semuanya. jadi apapun yang ingin kamu katakan tentang Lulu, itu tak akan mengubah keputusan kami yang ingin menjadikan Lulu menantu,"


Bu Eka langsung pergi, dia merasa malu karena semua usahanya gagal, kini dia jadi bahan olok-olok satu desa.


dan dia baru tau rasanya menjadi orang yang di benci itu sesakit ini, tapi dia tak menyerah.


dia tetap kuat karena suaminya ada di sisinya saat ini, Bu Eka pulang dengan tetap menegakkan kepalanya.


tapi dia kaget saat hampir sampai di depan rumahnya, banyak orang berkerumun di sana.


"permisi semuanya, ada apa kalian berkumpul di depan rumah ku," marah Bu Eka


dia pun masuk dan melihat Alan sudah menangis memeluk sosok pria yang tak bernyawa dengan wajah biru.


Bu Eka lemas, dia pun langsung menjerit sekuat-kuatnya melihat tubuh suaminya sudah kaku tak bernyawa.


"bapak... kamu kenapa pak .. apa yang terjadi," kata bu Eka dalam tangisnya.


"maaf Bu saya menemukan pak Surip sudah tertelungkup di sawah dengan keadaan tak bernafas, sepertinya beliau terkena serangan jantung dan saat jatuh wajahnya menyentuh lumpur hingga menyebabkan beliau meninggal dunia," kata salah satu warga.


"bapak...."


semua orang kasihan, karena pak Surip ini di kenal sebagai orang yang pekerja keras, bagaimana tidak, dia tak kenal siang malam dalam bekerja.

__ADS_1


bahkan hingga menjemput ajal di sawah karena kelelahan. keluarga Wulan datang begitu pun saudara yang lain setelah dapat kabar.


pak Sunar langsung mengurus pemakaman dan keperluan lain di bantu oleh menantunya mas Yono.


__ADS_2