Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
semua bisa berubah


__ADS_3

Nia sudah selesai masak, dan kini sedang membuat bumbu dengan bantuan ibu-ibu.


karena di warung sudah cukup banyak pegawai jadi pak Yudi juga hanya mengawasi saja.


dan berkat rezeki yang terus mengalir, akhirnya mereka bisa membeli tanah di sekitar warung.


jadi sekarang warung semakin luas dan enak dan juga ada taman bermain untuk anak-anak.


Nia memang sengaja membiarkan semua terjadi begitu saja, karena ini demi usaha mereka.


pukul satu siang semua sudah selesai, bahkan tujuh jenis bumbu. dan lima saos juga sudah selesai di buat.


"bunda, lusa ada lomba bersama orang tua, bunda dan ayah bisa datang ke sekolah ya ..." mohon Fahri.


"insyaallah ya le, nanti bunda omongin sama ayah ya," kata Nia.


"yey... yey..." jata Fahri senang.


"ya sudah sekarang masuk mandi, setelah itu makan dan istirahat," kata Nia.


"tidak bisa bunda, ada banyak pekerjaan rumah dari Bu guru, jadi aku harus belajar," kata Fahri.


akhirnya bocah itu pun pergi masuk kedalam rumah, bahkan Raka juga menemani kakaknya itu belajar.


dan dia sendiri ikut belajar mengenal angka dan huruf karena tahun ini putranya itu juga masuk TK.


saat sedang menjemur semua peralatan, tiba-tiba Nia melihat ada Alan anak Bu Eka yang ke rumah Bu RT.


mereka sepertinya memohon sesuatu, dan Bu RT nampak mengangguk, dan ternyata Bu RT meminta para ibu grup yasinan untuk ikut ngaji ikhlasan.


keduanya pun pamit pulang seperti itu, dan Nia mengerti jika mereka pasti merasa sedih karena ibu-ibu di desa tak ada yang mau mengaji tahlil untuk ayah mereka.


pak Yudi pulang dari warung pukul tiga sore karena warung tutup lebih awal sebab bahan habis padahal semua jenis makanan di lebih lima puluh porsi.


"yey... ayah pulang, bunda ayah pulang," kata Fahri sangat senang.


"loh bunda mau kemana kok sudah cantik banget," tanya pak Yudi yang melihat istrinya itu.


"itu yah mau ngaji ikhlasan, sudah ya di tunggu Bu RT, titip anak-anak dulu ya yah," kata Nia yang menyalami suaminya itu.


"ya sudah hati-hati ya sayang," kata pak Yudi yang mengecup kening istrinya itu.


"ciye ayah... mu adik lagi dong yah," kata Fahri memeluk kaki ayahnya itu.


"baiklah nanti ayah dan bunda akan semangat buatnya," kata pak Yudi.

__ADS_1


"ih ayah..."


pak Yudi tertawa, sedang Nia pun berangkat bersama mertuanya Bu Yanti yang juga ingin ikut ngaji.


saat melihat Bu Anas, Bu Tomo, Bu Toto dan rombongan yang lain, para ibu-ibu ini pun ikut bergerak dan mau ikut ngaji juga.


akhirnya keluarga pak Surip puna tka menyangka akan kedatangan para ibu-ibu yang mau hadir.


Karena Bu ustadzah tidak bisa datang, akhirnya Nia yang memimpin tahlil, tapi tadi dia izin untuk ke belakang untuk mengambil wudhu lagi.


ibu-ibu yang datang dan mendengar suara Nia, merasa sangat adem, pasalnya wanita itu sangat fasih dan hafal.


bahkan sampai doa tahlil pun di hafal, akhirnya pengajian pun selesai.


tapi yang membuat jengah itu Bu Eka yang masih merasa dirinya tak bersalah dsn terus terlihat sangat sombong.


bahkan putri pertamanya itu terus meminta maaf, dan itu pun membuat para ibu-ibu sedikit memaafkan juga.


terlebih Alan juga terus berterima kasih atas kedatangan ibu-ibu semua.


"Bu RT lihat tadi, ya Allah sudah di kasih cobaan seperti ini, dia masih saja sombong minta ampun, belum lah hartanya di ambil baru tau rasa kayaknya," kata Bu Tomo kesal.


"sudah Bu, orang yang hatinya keras tak akan bis melihat apapun di depannya," kata Bu Anita.


tak terasa sudah satu Minggu berlalu, dan semua sudah kembali pada kesehariannya.


pagi ini pak Yudi dan Nia, di antar pak RT, pak RW pergi ke KUA untuk pernikahan keduanya.


mereka sengaja berangkat diam-diam karena tak mau heboh satu kampung, dan semalam sudah di adakan kenduri.


belum lagi ada wanaqib untuk kelancaran dan kebahagiaan keluarga baru itu.


pak Yudi masih terlihat gugup karena dia kembali harus mengucapkan qobul lagi.


tapi beruntung dengan satu tarikan nafas, akhirnya mereka pun kini sah secara agama dan negara.


"aduh ayo pak tolong fotoin kami dengan pengantin baru ya," kata Bu Anas senang.


"iya Bu, Semuanya bilang sapi.." kata petugas KUA itu


"sapi..." kata semuanya tersenyum senang.


akhirnya pak Yudi dan Nia sah secara negara, dan sekarang Bu Lastri tak bisa lagi menghina Nia.


sebenarnya pak Yudi tau hinaan yang di lontarkan Bu Lastri pada Nia itu dari ibunya.

__ADS_1


itulah kenapa dia pun meminta surat-surat di urus secepatnya, jadi semua serba kilat.


sesampainya di rumah, para warga datang ke rumah untuk memberikan ucapan selamat.


untunglah Bu Yanti memerintahkan semua orang yang selama ini menantu Nia untuk bersiap.


karena pasti warga akan datang kondangan meski tak ada undangan resmi.


bahkan semua teman Nia juga datang, karena di kabari oleh salah satu teman mereka.


"ya Allah Nia, tak ku sangka kamu menikah lagi secepat ini, kasihan di Purno, gak dapat prawan juga gak dapet jandanya," ledek teman-teman Nia.


"kalian ngomong apa, lagi pula dia itu sudah jadi tentara ya gak pantes sama aku," kata Nia.


"ya salah sendiri mainnya terus di hutan, jadi gak dapet deh, ledek mereka semua.


"sudah puas, aku gak nunggu no a janda, tapi aku nunggu kamu janda Tri," kata pria itu yang membuat senyum wanita itu hilang seketika.


"wong edan," ketus Triana.


mas Yono dan Abidin datang bersama istri masing-masing. Ninik belum tau jika istri dari pak Yudi adalah teman SMA-nya.


saat sampai di tempat itu, karena masih banyak teman SMA Nia, mereka pun langsung bangkit saat melihat Ninik.


"loh Ninik juga datang, kalian tetangga?" tanya Triana yang langsung cipika-cipiki.


"loh kalian semua, jangan bilang ini Nia si cungkring ya," kata Ninik yang kelepasan.


"berarti kemarin aku tak salah lihat saat ngaji ya, aku mau nyapa tapi takut salah orang," kata Nia dan Ninik berpelukan.


"wah sepertinya kalian berdua ini tua ya, masak temen baik bisa lupa," ejek Triana.


"ya mau bagaimana lagi, dulu biar itu kurus kering kayak triplek, lah ini uh... montok semok begini, pasti pak Yudi cocok ini," kata Ninik yang langsung membuat Nia malu.


sedang pak Yudi hanya tersenyum simpul saja, dia juga tak menyangka akan dapat istri yang secantik itu dan terlebih punya bodi bagus.


sampai malam tamu terus berdatangan, beruntung mereka dekat toko kue yang mendadak mendapat pesanan roti gulung hingga ratusan.


ya mau bagaimana lagi, niat hati tak ingin pesta, eh malah tamu tak ada hentinya.


akhirnya pukul sebelas malam semuanya selesai, dan yang terakhir tinggal pak Eko dan istri.


Bu Lastri tampak tak suka karena dia sekarang tak bisa lagi menghina Nia.


karena pernikahan mereka sah, dan lagi pak Yudi juga sangat menyayangi istrinya itu.

__ADS_1


bahkan kapan hari pria itu pernah menegur Bu Lastri secara pribadi untuk menjaga ucapan, jika tidak dia akan benar-benar menuntut wanita itu untuk perkataan yang menyakiti istrinya.


__ADS_2