
Nia pulang ke rumah dan mrligat suaminya sudah pulang dan sedang sedikit berolahraga ringan, "aduh pak Yudi ingin menggoda para ibu tetangga, kenapa begitu seksi saat olahraga sore," kata Nia melihat suaminya itu.
"benarkah aku seksi, terima kasih tapi aku sangat tak nyaman saat berkeringat, apa sudah membeli semua yang kamu butuhkan sayang?"
"sudah mas, tapi aku ketemu orang aneh deh, aku melihat tatapannya saja takut, karena dia melihat diriku dari atas ke bawah, dan kata pak Hadi dia itu orang baru yang beli rumah Bu Sundari," kata Nia jujur.
"wah siapa nih yang berani menatap mu seperti itu, dia mau burungnya di sunat lagi, sudah nanti aku tanya pak Toto, kan dia RW jadi seharusnya tau ada warga baru," kata pak Yudi yang di angguki istrinya itu.
Nia masuk kedalam rumah, dan tiba-tiba ada pesan ke ponsel pak Yudi yang masuk.
ternyata itu para bapak-bapak yang mengajak kumpul, "kebetulan sekali nih bapak-bapak ngajak kumpul, sayang tolong buatkan bola ubi untuk di bawa kumpul," kata pak Yudi yang masuk kedalam rumah.
tapi dia malah melihat hal menarik,karena perut dari Nia yang terlihat sedikit berisi.
"aku gendut ya mas, nih perut kok besar," tanya Nia.
"ya gak papa, tapi aneh loh dek kamu belum menstruasi sedikitpun setelah kita nikah," kata pak Yudi.
"iya yah, aku lupa hal itu, tapi kayaknya gak mungkin mas, coba aku tes saja ya, kebetulan aku punya tes kehamilan," kata wanita itu yang langsung lari ke kamar
kebetulan terdengar suara kedua anaknya yang baru pulang ngaji. "assalamualaikum ayah... bunda,"
"waalaikum salam, kalian sudah pulang, wah dapat apa ini?" tanya pak Yudi.
"dapat kue' karena tadi ada yang ulang tahun di tempat ngaji, terus adik bilang nanti kalau mau ulang tahun kayak itu juga," kata Fahri.
"baiklah, nanti ayah bilang bunda, tapi nenek mana?" tanya pak Yudi yang tak melihat ibunya.
"nenek sedang beli pentol di luar," jawab Raka yang duduk membuka camilan miliknya.
Nia kini keluar dengan memegang alat tes itu, kemudian pak Yudi mengambilnya.
"kenapa diam begitu sayang?" tanyanya melihat hasil tes itu.
dia tak percaya melihat dua garis merah itu sangat jelas, bahkan begitu merah terang
"ini benarkah, kamu hamil sayang..." kata pak Yudi senang langsung memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"yey bunda hamil," kata fahri.
tapi Nia dan Raka yang sedih, bukan apa, Nia takut jika kasih sayang pak Yudi akan berpengaruh terhadap anak-anak.
terlebih banyak pasangan yang seperti itu, dan Nia tak mau hal itu terjadi.
"kenapa murung, aku tau jika kamu khawatir aku akan membedakan mereka, tapi percayalah padaku, sebisa mungkin aku akan membagi kafih sayang ku secara adil," kata pak Yudi yang meyakinkan Nia.
dan pak Yudi memeluk kedua putranya, "lagi pula ayah kepingin punya anak perempuan karena sudah punya dua jagoan," kata pak Yudi.
"apa... memang istri mu hamil ya, kok mau anak perempuan segala," kata Bu Yanti yang membelikan pentol untuk dua cucunya.
"iya Bu, saya juga baru tau," kata Nia menunjukkan hasil tes kehamilan.
"Alhamdulillah ya Allah, ibu setuju kita harus punya anak perempuan, terlebih sudah ada Fahri dan Raka yang bisa menjaga adiknya nanti," kata Bu Yanti senang.
setelah sholat isya, para bapak-bapak ini berkumpul di masjid terdekat, tak lupa semuanya datang membawa makanan.
"ada apa sih pak RW, kok kita tiba-tiba di kumpulkan begini, ada masalah ya?" tanya pak Yudi penasaran.
"sebenarnya saya dapat laporan jika ada warga baru, tapi warga ini sedikit membuat beberapa ibu-ibu tak nyaman.
"oh jadi bapak ini yang tadi membuat istri saya tak nyaman saat belanja, pak tolong jaga mata anda,jika tidak mau saya bikin buta," marah pak Yudi.
"tenang pak Yudi... aduh ini kenapa kok emosi begini," kata pak Anas
"ya kalau istri saya di perlakukan begitu saya juga marah, jadi sekali lagi anda berulah, saya tak segan juga," saut pak Rudi.
"loh memang istri-istri anda yang mana," kata pak Wisnu bingung karena tadi dia hanya melihat dua wanita.
"wanita berkerudung ungu yang tadi belanja di toko pak Hadi," kata pak Rudi.
"oh maaf kalau itu karena ibunya nampak seperti kesulitan jadi saya bantu, maaf kalau membuat tidak nyaman, tapi yang satu lagi itu kenalan lama karena dia pernah punya warung di depan usaha milik saya," kata pak Wisnu tanpa rasa bersalah.
"anda gila, dia itu istriku, jadi tolong jaga mata anda jika tak ingin saya marah," kata pak Yudi yang tak suka.
pak Wisnu pun menghela nafas karena sudah keduluan lagi, terlebih pak Yudi juga tak kalah tampan dengannya.
__ADS_1
"maaf pak, saya tak tau jika mbak Nia sudah menikah, saya kira masih sendiri setelah suaminya itu mati," kata pria itu santai.
"lain kali tolong di ulangi, atau saya benar-benar bisa bertindak tegas," kata pak Yudi.
pak Wisnu pun akhirnya mengiyakan,dia tak menyangka wanita yang dia incar kini sudah berumah tangga.
tapi masih banyak janda cantik di luaran sana, "baiklah jika masalah ini selesai, karena selanjutnya akan ada rapat mengenai acara Agustusan, yang tahun kemarin di ketua i pak Surip, tahun ini harus pindah karena nak Alan tak mampu melanjutkan tugas sang bapak, jadi siapa yang mau mencalonkan diri, pak Yudi," kata pak Toto.
"aku lelah loh, masak iya tiap tahun libur setahun saja," kata pak Yudi memijat keningnya.
"lah terus siapa pak, kita undi saja ya, karena gak ada yang mau," kata pak Anas.
"wah setuju kalau ini, baiklah kita undi, dan nama siapa pun yang muncul tak boleh mundur," kata pak Toto.
akhirnya semua pun was-was pasalnya siapapun yang biasanya jadi ketua panitia, pasti lebih banyak nambelin jika ada pengeluaran Nyang bengkak.
semua tampak tegang, pak Yudi pasrah jika memang namanya, dan pak Rudi juga warga baru jadi dia belum tau apa yang harus di adakan jika dia terpilih.
"dan nama yang keluar," kata pak Anas.
pak Toto tertawa, pasalnya memang selalu saja pria ini yang jadi langganan untuk menjadi ketua panitia jika ada acara.
"selamat pak Yudi jadi ketua, dan sekretarisnya pak Rudi, Monggo dia orang ini silahkan saling berkoordinasi untuk membuat acara eis, dan uang sisa agustusan tahun kemarin sisa lima ratus ribu," kata pak Toto.
"Alhamdulillah, tahun ini kita lakukan secara sederhana ya, karena yang kita tau semua warga desa sedang banyak mengalami ujian, kita buat acara tahlilan bersama sekalian sedekah desa, ada lomba dan mas Alan saya tunjuk menggordinir para remaja, dan untuk ibu-ibu saya akan minta istri saya yang mencoba membuat lomba, dan untuk bapak-bapak wajib ikut lomba dan jika ada yang absen, akan di denda seratus ribu," kata pak Yudi.
"setuju," kata pak Anas semangat.
"kalau begitu saya akan menyumbang sepuluh juta untuk tahun ini, anggap saja sebagai permintaan maaf dan sebagai dana perkenalan," kata pak Wisnu.
"Alhamdulillah, nanti bisa koordinasi dengan pak Tomo selaku bendahara," kata pak Yudi.
akhirnya rapat pun selesai dan bapak-bapak menikmati makanan yang di sajikan.
pak Wisnu dan pak Rudi yang notabene orang baru sangat senang tinggal di pedesaan seperti ini.
sedang pak Eko absen karena sedang meratapi nasibnya. bagaimana tidak dia sekarang benar-benar di tinggalkan oleh istri dan anaknya.
__ADS_1
bahkan dia merasa jadi pria bodoh karena tergoda dengan penyanyi yang begitu dia cintai, nyatanya dia malah di tipu seperti ini.