
Pak Yudi baru bisa tidur, dalam mimpinya, dia melihat dua anak yang selama ini bersama dengannya.
"Fahri, Raka... kok ada disini," kata pak Yudi
"ayah ayo ikut kami," panggil keduanya yang mengajak pak Yudi menemui seseorang.
dari kejauhan dia sudah tau siapa wanita itu, pak Yudi tersenyum menyapanya.
Nia mengambil tangan pria itu dan menciumnya, "Kenapa mas begitu lama pergi, apa ada sesuatu yang membuat mas bingung?" tanya Nia.
"tidak ..."
Yuda datang dan memeluk Nia, "bunda titip ayah ya, karena Yuda tidak bisa menjaganya lagi,"
"iya putra bunda," kata Nia mengusap kepala bocah itu.
Yuda berlari pergi, dan ternyata tiba-tiba pak Yudi terbangun karena Bu Yanti membangunkan putranya itu.
"astaghfirullah Bu, Yudi kaget," kata pria itu.
"kamu mimpi buruk, sudah sekarang pergi mandi dan sholat subuh gih, itu masjid sudah sola-sola," kata Bu Yanti.
pak Yudi pun bangun dan bersih-bersih setelah itu pergi ke masjid.
tanpa di duga Nia dan dua anaknya juga pergi ke masjid, dan bersamaan dengan pak Yudi.
"loh tumben ini dia jagoan ke masjid sama bunda, biasanya nunggu ayah nih," kata pak Yudi yang tanpa sadar memanggil dirinya ayah untuk kedua bocah itu.
"iya mas, saya libur hari ini karena harus ke rumah mantan mertua, karena ada acara di sana," kata Nia.
"kamu tak apa-apa, ke apa terlihat sedih," kata pak Yudi yang kini berjalan mengandeng dua bocah itu.
mereka sampai di masjid seperti keluarga bahagia, ustadz Arif tersenyum melihatnya.
"pak Yudi, halalin pak cocok sudah," kata pria itu tersenyum.
"ustadz ini apa," kata pak Yudi yang malu.
sholat subuh pun berjalan lancar, dan setelah sholat pak Yudi sedang berdoa saat Raka duduk di pangkuannya.
tiba-tiba Fahri mendekat dan membisikkan sesuatu, "ada apa nak?"
"ayah bunda itu selalu di hina di rumah ayah, dan nenek itu sering menyalahkan bunda karena ayah mati, padahal dulu ayah jahat suka pukul bunda dan aku, dan yang membuat ibu hampir gila itu, saat waktu adek masih bayi, adek hampir di Bantik ke lantai sama ayah," bisik Fahri.
__ADS_1
"innalilahi... sampai sejahat itu," kata pak Yudi tak percaya.
"iya ayah, kami juga sering di cubit, bahkan pernah saat ada acara juga, adek terkena air panas karena nenek yang salah, tapi malah bunda yang di salahkan," kata Fahri.
beruntung Bu Yanti ada di masjid, dan hari ini lumayan banyak jamaah yang datang.
"Fahri, Raka, ayo pulang yuk," panggil Nia.
mereka bertiga menoleh, pak Yudi bangkit dan mengendong Raka yang seperti tak mau jauh dari pria itu.
begitupun dengan Fahri yang memeluk pinggang pak Yudi, "aduh kalian ini selalu kok ya," kata Nia mendekat ingin mengambil putranya.
"menikahlah dengan ku Nia, aku akan mencintai mu dan juga kedua anak mu, dan aku berjanji akan membuat kalian bertiga bahagia," kata pak Yudi yang mengejutkan semua orang
bahkan Nia terdiam mendengar pertanyaan itu, "mas Yudi jangan bercanda, di luar sana masih banyak wanita yang menyukai mas Yudi, saya tak pantas,"
"tapi aku sudah sangat menyayangi kedua putra mu seperti anakku, dan tanpa sadar aku merasa marah saat mendengar seseorang ingin mengenalkan pria pada mu, percaya atau tidak entah mulai kapan, aku mulai menyayangi mu juga, maaf jika ini mengejutkan mu," kata pak Yudi.
"Jami mau sama ayah..." kata Fahri yang memberi tatapan memohon pada Nia.
Nia pun mengangguk, karena dia pun tanpa sadar juga mulai mencintai pria yang selama ini begitu baik pada dia dan anak-anak.
"Alhamdulillah..." kata semua orang yang menyaksikan kejadian itu.
"bagaimana kalau nikah siri saja, berhubung ada ustadz Solikin bisa jadi penghulu, ustadz Arif dan saya bisa jadi saksi," tawar pak Anas.
"tak ada halangan nak, pakai ini untuk jadi mas kawin mu," kata Bu Yanti yang melepaskan sebuah gelang yang pernah di belikan oleh pak Yudi saat menerima gaji pertamanya dulu
"tapi gelang itu Bu,"
"tidak apa-apa, ibu tidak mau Nia nanti lari, jadi kalian menikah secara agama dulu,setelah itu biar pak RW yang bantu ngurus surat-surat untuk pernikahan resminya," kata Bu Yanti.
"inggeh Bu, mau menikah dengan ku Nia," tanya pak Yudi.
"iya mas," jawab Nia yang tak menyangka jika jodohnya akan secepat ini.
para ibu-ibu juga ikut jadi saksi,dan kebetulan nih ibu-ibu rempong pada ada semua.
akhirnya pak Yudi melaksanakan akad nikah dengan Nia, dan tidak ada wali karena memang Nia tak memiliki sanak saudara.
dan untuk semua pakde Nia juga sudah meninggal dunia, jadi di putuskan untuk mengunakan wali hakim.
akhirnya pernikahan pak Yudi dan Nia terjadi setelah sholat subuh dengan begitu banyak saksi.
__ADS_1
bahkan Bu Anita yang entah kenapa tadi bawa ponsel saat sholat, mengambil video dan foto.
akhirnya keduanya sah secara agama, dan secepatnya pak RW mengurus surat agar segera bisa meresmikan secara hukum negara.
semua yang ada di sana menjadi saksi pernikahan keduanya, "jadi sekarang tak usah pulang, saya tadi sudah panggil mbok Yem penjual nasi keliling, tak suruh kesini, kita makan bareng," kata Bu Anita.
"ibu merepotkan," kata Nia.
"tidak mbak Nia, kebetulan saya juga ada berita bahagia, jadi sekalian saja, insyaallah sebulan lagi pernikahan Lulu dan ustadz Arif, jadi Semuanya di undang," kata pak Rudi.
"Allahu Akbar, selamat ya!!" mereka semua pun tak menyangka.
pak Surip juga ikut senang karena sekarang pak Yudi tidak sendirian lagi, sudah ada pasangan yang merawat.
ibu-ibu ini sempat foto bareng saat makan bersama di masjid dan mengirimnya ke grup WhatsApp.
Bu Lastri yang harus ini tidak ke masjid pun merasa kesal,karena dia selalu saja ketinggalan kalau ada makan-makan.
sedang pak Eko yang sudah mendapatkan kabar dari pak Yudi juga mengucapkan selamat, dan berjanji akan membantu mempercepat surat untuk pengajuan syarat pernikahan di KUA.
pak Eko sudah siap untuk pergi bekerja saat melihat istrinya membuat nasi goreng dan dadar telur.
"kamu lagi ngambek, kayak gak di kasih uang belanja saja," kata pak Eko yang sarapan.
"bukan tapi kenapa sih ibu-ibu sekarang kalau ada acara, pasti nunggu aku gak ikut baru makan-makan," kesal Bu Lastri.
"masih belum sadar diri, ingat apa yang kamu lakukan selama ini," kata pak Eko
"aku mah gak ngapa-ngapain, mereka aja yang dengki, sudah makan ayah, bukannya hari ini ada acara Wiwit," kata Bu Lastri.
"Halah... nyantai saja, paling juga pak camat agak siang," jawab pak Eko.
Santi keluar dari kamar dengan santai, bahkan wanita itu santai duduk di depan pak Eko tanpa mengenakan pakaian dalam dan bajunya sangat tipis.
pak Eko pun merasa geram dan jijik melihat tingkah adik iparnya itu, "sudah ayah berangkat, uang belanja mu sudah ayah simpan di laci, ingat yang hemat, kamu ini jangan beli barang tak jelas, aku berangkat ya," kata pak Eko yang mencium kening istrinya.
"hati-hati ayah," kata Bu Lastri yang langsung ke kamar dan melihat uang belanja untuk seminggu kedepan.
ternyata kali ini dia di beri sembilan ratus ribu, Bu Lastri sangat senang karena suaminya itu meski kadang galak tapi perhatian.
"wah bisa bagi dong mbak, aku lagi butuh uang nih," kata Santi yang mengambil uang itu dari tangan Bu Lastri.
melihat itu Bu Lastri menjambak rambut adiknya itu dan mengambil uangnya, "kamu ini ngelunjak,sudah pulang sana, tuh minta sama mantan suamimu itu, ini gaji suami mbak, pagi-pagi bikin kesal saja,"
__ADS_1
"aduh sensitif amat sih," kata Santi yang merasakan sakit pada rambutnya.
Sabtu pun memilih pergi sarapan dan kemudian bersiap untuk pulang karena orang tuanya sudah mengomel untuk memintanya pulang.