
pak Eko melihat sekeliling rumah yang trlihat rapi, dia tak lupa mengecek lemari kamarnya dan menemukan foto lama dia dan keluarganya.
"pak Eko sarapan dulu, tadi saya masak nasi goreng, maaf ayah saya sedang sakit jadi saya yang mengurus rumah ini," kata gadis berkulit hitam itu.
"tak masalah, kerja kamu bagus, memang bapak mu sakit apa?" tanya pak Eko yang keluar setelah menaruh beberapa pakaiannya.
"skena tipes pak, sudah Lina hati ini," jawab gadis itu
"kamu bukannya Novi putri pak Gono yang nomor dua itu kan," tanya pak Eko yang ke dapur rumahnya.
"inggeh pak, saya Novi karena mas Wawan sudah bekerja di kota dan adek Ipul sedang fokus ujian jadi saya yang di sini," jawab gadis itu.
"baiklah, tapi ini gak papa kamu mengajak ku makan?" tanya pak Eko
"tidak masalah pak, lagi pula saya mau pulang, nanti malam ke sini lagi," Jawab gadis itu.
pak Eko mengangguk dan menikmati nasi goreng itu, ternyata Novi benar-benar pulang.
pak Eko memberikan gadis itu uang untuk di berikan pada ayahnya, untuk berobat karna pak Gono ini selalu yang menolong dia.
mulai dari merawat sawah yang dia beli secara diam-diam, dan beberapa usaha miliknya.
karena pak Eko tau benar tabiat istrinya, itulah kenapa dia tetap memiliki uang meski Bu Lastri menarik semua uang miliknya.
pukul delapan pagi dia bergegas ke kantor kecamatan untuk mendapatkan hasil atau surat yang akan menentukan dia di pecat atau tetap jadi apa yang dia jahat saat ini.
saat sampai di kecamatan semua orang menyapa pak Eko, pasalnya pria itu tak pernah melakukan pelanggaran dan selalu punya track record yang baik.
tapi hanya karena satu kesalahan Semuanya hancur, pak camat sudah membawa surat yang akan di berikan.
ternyata pak Eko tidak di turunkan dari jabatannya hanya saja mendapat teguran, karena nyatanya dia tidak berselisih melainkan menikah secara agama tanpa persetujuan saja.
jadi apa yang di minta Bu Lastri di tolak, dan pak Eko tak menyangka akan hal itu.
akhirnya dia pun bisa kembali bekerja, dan tak perlu lagi pusing dengan semuanya.
setelah dari kecamatan, pak Eko pun memutuskan menuju ke desa untuk menyerahkan surat itu pada pak lurah.
dan dia tetap bisa bertugas, dan ternyata para warga tak setuju jika pak Eko di pecat, karena selama ini pak Eko sangat baik dan begitu mengutamakan kepentingan rakyatnya.
beberapa perwakilan warga datang ke desa memberikan semangat, tak seharusnya hanya karena kesalahan kecil, seorang pria yang bertanggung jawab harus hancur.
sedang di apotek besar yang ada di kota, pak Yudi sedang menghela nafas karena kandungan Nia sudah mencapai usia dua belas Minggu, itu berarti sudah tiga bulan
Nia hanya bisa tersenyum saja karena dia tak mengira jika kandungannya sudah cukup terasa harusnya.
"jangan sedih begitu dong mas, kan aku jadi sedih," kata Nia.
"bukan sedih datang ku, tapi aku tak menyangka, bisa-bisanya kamu tak tau jika kandungan mu sudah tiga bulan, Untung kalian berdua ini sama-sama sehat," kata pak Yudi.
__ADS_1
"aku juga tak mengira mas, lagi pula aku rasa baru dia bulan ini deh, ternyata sudah tiga bulan, tapi bismillah ya kata dokter ini perempuan," kata Nia mengusap perutnya.
"amiin..." jawab pak Yudi.
"ibu Nia Saraswati," panggil apoteker.
pak Yudi yang bangun dan menerima obat untuk istrinya itu, ternyata hanya beberapa vitamin.
dia pun membayar dan tak lupa membelikan susu untuk ibu hamil juga.
setelah itu keduanya kini menuju ke warung milik mereka, dan Raka tampak tenang dan santai.
saat turun, pak Yudi mengandeng isteindan putranya itu untuk masuk kedalam warung.
terlihat semua kursi penuh karena bertepatan dengan jam makan siang.
"apa semuanya baik, atau kuwalahan?" tanya pak Yudi.
"baik pak, Semuanya beres," jawab semua pegawai kompak.
"baiklah, saya tinggal ke kantor dulu,"
"siap pak," jawab semua orang.
Nia melihat Bu Eka yang bertugas di dapur, wanita itu bahkan terlihat sangat cekatan.
"wow Bu Nia, pegawai barunya amazing, dia begitu cekatan dan sangat hebat, karena bisa melakukan dua pekerja salam satu waktu," puji Tio.
"lihat saja Bu, cah kangkung sama ayam goreng dan membuat capcay, beh... the best pokok e," kata pria itu mengacungi dua jempol.
"Bu Eka, dapat penghargaan anak-anak katanya, tukang masak baru Joss," kata Nia.
"pasti dong saya kan suka memasak," jawab Bu Eka yang terlihat begitu bahagia sekarang.
ya wanita ini sekarang sangat sedikit berbicara, dia sekarang berjuang demi anak-anaknya.
Nia yang penasaran pun mencicipi semua masakan yang di buat Bu Eka, ternyata pas dan enak.
dia kini duduk di meja kasir sambil tersenyum, dan mulai menghitung setiap pesanan.
dan dia meminta yang jaga di kasir untuk mulai membantu yang lain, Nia trlihat cekatan saat di meja kasir.
kini warung mulai sepi, tim gorengan dan tim memasak oper dengan pegawai yang lain.
karena jam makan siang sudah lewat, mereka semua makan secara bergiliran.
"Bu Eka makan apa ini," tanya Nia penasaran karena melihat ada Pete di kotak bekal milik Bu Eka.
"oh ini aku bawa sambel Pete dan nasi merah, mau?" tawar Bu Eka.
__ADS_1
"sesendok saja ya, biar gak ngiler, karena kayaknya enak," kata Nia yang di suapi Bu Eka.
wanita itu nampak begitu senang, pak Yudi yang keluar ruangan kaget melihat kedua wanita itu rukun.
"ambil lauk loh Bu, kenapa makan nasi saja," tegur pak Yudi.
"iya pak Yudi, saya tak sangka dari pada di rumah, kerja bareng anak muda begini menyenangkan ternyata," kata Bu Eka.
"ini sambelnya enak banget, kalau mau jual boleh loh Bu, nanti kita diskusi harga," kata Nia.
"dasar otak pebisnis, makan pun ingat jualan," kata pak Yudi melihat istrinya.
"mas mau makan, aku ambilkan ya," kata Nia.
"boleh deh, tapi aku ambil sendiri, kamu sekarang hd kantor itu temenin Raka sebentar dia sedang tidur,"
"gak papa, Raka gak akan nangis kok, memang mas Yudi mau apa kenapa menyuruhku masuk, jangan bilang mau ambil kulit ayam ya, ingat jaga kesehatan," kata Nia.
pak Yudi tertawa mendengar tebakan istrinya, dia pun ke bagian dapur dan mengambil makan siang.
kemudian mengajak Nia masuk ke kantor, sedang para pegawai yang sudah istirahat pun mulai kembali.
kini Bu Eka duduk di meja kasir, kebetulan tepat jam dua siang, rombongan dari petugas kelurahan Desa-nya datang.
para bapak-bapak itu duduk dan tak ada yang melayani, karena Bu Eka tak mau berurusan dengan uang,dia pun maju dan meminta Dara yang dari pagi di kasir untuk kembali.
"permisi, mau pesan apa?" tanya Bu Eka menghampiri meja para bapak-bapak itu sambil membawa menu.
"loh Bu Eka bekerja di sini?" kaget pak Eko.
"ya iya loh pak, saya kan janda gak ada yang kasih uang belanja jadi harus kerja, memang desa mau menjamin hidup saya," kata Bu Eka.
"ya bisa tekor Bu, orang di desa ada tujuh puluh janda, Lina puluh yang tua, lima belas yang muda dan yang setengah matang lima orang," jawab pak Farid yang selalu sekertaris desa
"sudah ini kok malah ngomongin pekerjaan, pesan ini Bu, emm... liwetan untuk sepuluh orang, tapi tambah udang goreng seporsi, ayam goreng seporsi dan cah kangkung dua porsi," kata pak lurah.
"minumnya pak?"
"es jeruk, tapi bisa Refill bukan?" tanya pak lurah lagi
"tentu pak, tapi yang bia Refill es teh pak," jawab Bu Eka yang membuat para itu tertawa.
"yey saya tanya beneran ini,"
"itulah pak bisa Refill sekembung-nya perut bapak, ya sudah saya buatkan dulu pesanannya," kata Bu Eka yang tersenyum ramah sebelum pergi
"hei pak Eko gak salah itu tetangga mu yang dulu tukang pamer mbi kuwetus seh, kok dadi kalem dan ketok enom ya,padahal anak e seng mbarep wes duwe anak loro," kata Babinsa
"ya sekarang dia berubah karena kematian suaminya, lagi pula anaknya yang terkecil bilang gak mau ibunya seperti dulu, mungkin itu, dan sekarang dia lebih mensyukuri apa yang di miliki," jawab pak Eko.
__ADS_1
"koyok wong bener ae wong Iki, slepet pak lurah, Rondo anyar," kata pak Rozak yang langsung di tempeleng oleh dompet tebal milik pak lurah.
"lambe mu Cok, lek ngomong," kesal pak lurah yang juga baru saja menduda karena istrinya meninggal dunia.