Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
bagi-bagi hadiah


__ADS_3

setelah acara jalan sehat selesai, panitia istirahat dulu karena nanti malam akan di lanjutkan dengan orkes lagi.


dan tentunya pembagian hadiah, pak lurah sedang duduk di rumah Bu Eka bersama anak-anaknya.


karena mereka sudah lama tak ngobrol, dan ternyata anak pak lurah tak keberatan dengan hal itu.


Alan sih suka-suka saja karena rumahnya sangat ramai, terlebih jarang rumahnya jadi seperti ini.


"aku benar-benar senang melihat semua warga di sini yang begitu kompak, apa yang menjadi rahasianya? padahal aku masih ingat benar tahun lalu ada seorang wanita yang berani menantang seorang pria karena tak menghargai ketua panitia," kata pak lurah.


"bagaimana aku tak melakukan itu, mereka tidak tau sesulit apa jadi ketua panitia itu, padahal dulu bapak e anak-anak ini sampai tak bisa tidur," kata Bu Eka.


"namanya juga orang loh Nok, kamu kan tau jika selalu saja, tadi saja ada yang mengatakan hal buruk tentang kepanitiaan Pak Yudi dan yang lain, padahal tahun ini sangat meriah," kata pak lurah.


"itulah hebatnya orang-orang, mereka itu seenaknya sendiri, entahlah mau jadi apa, tapi ngomong-ngomong sebentar lagi jabatan mu habis Gun, mau nyalonin lagi?" tanya Bu Eka.


"orak roh Nok, sebenarnya sudah capek, tapi anak-anak ini yang terus meminta ku maju lagi," kata pak lurah.


"dari pada bapak diam saja di rumah, bagaimana kalau tahun depan nyalonin tapi sudah punya pendamping, tuh ibu Eka kan masih sendiri," kata anak perempuan pak lurah yang sedang mengawasi anaknya main bersama Alan


"halah ... lek ngomong gak onok entek e, memang kamu kira nikah itu kayak beli colok gitu Tah? enteng temen," kesal pak lurah.


"dek Aliya dan dek Alan setuju kan kalau ibunya nikah lagi, ya biar punya pendamping hidup gitu lah, nanti akan bisa ada yang menguliahkan, lumayan loh orangnya kaya," kata putra kedua pak lurah yang kebetulan juga ikut.


"siapa mbak Saras?" tanya Alan.


"tuh orangnya, udah serasi gitu," kata wanita itu.


"terserah saja, asal ibu juga setuju dan bisa menjaga Alan dan ibu sih saja setuju saja, lagi pula masa Iddah ibu juga sudah selesai," kata putri pertama Bu Eka.


"tak semudah itu, kalian ini kok ya gampang sekali..." kata Bu Eka yang masih belum ingin membina hubungan baru.


akhirnya pukul lima sore semua keluarga pak lurah pamit pulang, aliya dan Alan melihat ibu mereka.


suami Aliya pun memilih untuk membawa anak-anaknya untuk masuk kedalam kamar.


karena dia tak ingin ikut campur dengan keputusan mertuanya, karena kedua anaknya tak ingin Bu Eka sendirian dan menanggung beban keluarga sendirian.


itulah kenapa Alan memutuskan untuk bekerja setelah lulus sekolah nanti.


Bu Eka memeluk kedua anaknya, dia bukan tak mau menikah tapi rasa bersalah itu terus membayangi dirinya.

__ADS_1


sedang di tempat lain pak Wisnu sedang bersama dia putrinya yang kini berkumpul bersama suaminya masing-masing.


"kalian ini gimana, masak kesini tapi anaknya gak ada yang di ajak, emang gak ngerepoti para besan ya," kata pak Wisnu.


"tenang saja ayah, para mertua kami itu orang baik," kata putri kedua pak Wisnu.


"terserah deh," jawab pak Wisnu.


"tapi yah, tadi aku melihat seorang ibu yang sangat tegas, bahkan dia tak takut saat menghajar para pemuda yang sedang mabuk di siang bolong, dia siapa?"


"oh itu ya, dia itu panggilannya ibu kompor di sini, tapi ayah juga tak tau, setau ayah saat pindah kesini dia itu sangat banyak bicara, dan dia sangat tegar untuk mencari nafkah untuk anaknya, sedang kata orang sih suaminya meninggal karena ngenes punya istri dia, karena wanita itu dulu sering membuat gosip tak jelas begitulah," kata pak Wisnu menerangkan.


keempat orang itu tertawa, "padahal mas Ajie ini tanya sedikit loh, kenapa ayah bisa tau sampai sejauh itu, jangan bilang ayah sudah mencari tau semuanya," kata putri ke-empatnya


"sudahlah, sekarang makan dan istirahat karena ayah nanti malam masih harus jaga," kata pak Wisnu yang memilih pergi ke kamar.


dia juga di buat bingung dan tersenyum sendiri merasa bodoh karena mengingat tingkah Bu Eka tadi.


bagaimana tidak, wanita itu menjewer para pemuda itu yang sudah mabuk, tak hanya itu dia juga mengguyur para pemuda itu agar sadar.


sedang di rumah pak Eko, ada keluarga pak Gono yang menumpang istirahat karena jika harus pulang kejauhan karena beda desa.


"loh mas, itu singkong masih utuh padah sudah dua hari, nanti busuk loh," kata Novi.


tanpa basa basi lagi, Novi langsung mengolah singkong itu jadi gemblong dan membaginya menjadi empat tempat berukuran sedang.


"aku buat gemblong, bisa di goreng atau kalau mau sehat tinggal di hangatkan dengan cara di kukus dan di cocok ke parutan kelapa maupun gula, dan jika mau di goreng aku sudah buatkan bumbu rujak mas, beres kan," kata gadis itu.


"itu sangat merepotkan dirimu, kenapa kamu menyulitkan dirimu," kata pak Eko yang merasa tak enak.


"gak usah seperti itu mas, sampean itu selalu baik pada keluarga kami, jadi sedikit bantuan tentu saja tak masalah," jawab pak Gono.


"terima kasih pak, ya sejak keluarga bubar, entahlah aku harus hidup seperti apa, kemarin juga baru dari dokter dan dokter bilang jika kondisiku mungkin tak akan bisa di sembuhkan, karena kekejiannya aku mungkin akan sendirian seumur hidup ku," kata pak Eko tersenyum tapi air matanya mengatakan isi hati pria itu sepenuhnya.


Novi tak menyangka jika ada wanita sejahat itu, bagaimana mungkin ada istri yang tega.


tapi semua sudah berakhir, pak Eko tadi memesan nasi Padang untuk semua tamunya, tapi kedatangan keluarga pak Gono sedikit menghiburnya yang biasanya selalu sendirian.


tak usah di tanya untuk keluarga yang lain yang sudah bahagia dengan keluarga masing-masing.


terlebih pak Yudi yang mendapatkan istri yang sangat baik, setelah menghadapi semua hal selama ini.

__ADS_1


sedang Bu Lastri gemetar menerima surat cerai itu, pasalnya dia tak mengira jika suaminya benar-benar menggugat cerai.


dia mengira jika pak Eko hanya menggertak saja, tapi nyatanya tidak.


dia tak menyangka pria itu berani melakukan ini, "baiklah aku akan membuat mu menyesal," gumam Bu Lastri yang marah.


dia benar-benar menghasut kedua anaknya agar tak ingin menemui ayah mereka, bahkan memutuskan komunikasi dengan pria itu.


tak hanya Bu Lastri, pak Eko juga menceraikan Winda dan kedua anak Winda juga mendapatkan pembatalan pengajuan akta dan semua dokumen.


pak Eko benar-benar ingin membersihkan semua masalahnya dan memulai hidupnya dengan tenang.


bahkan dia akan menjalani operasi untuk melakukan pemulihan dirinya, karena dokter bilang salah satu saluran mafih bisa di selamatkan.


meski dia akan menikah atau tidak, setidaknya dia harus hidup normal kali ini.


acara malam hari kini akan segera di mulai, para panitia sudah datang dari setelah magrib karena menyiapkan semua.


bahkan makanan yang di sediakan adalah catering karena mereka semua tak ada yang ingin repot.


para artis yang akan menghibur sudah datang, ada sekitar empat orang yang akan menghibur.


belum lagi begitu pasukan polisi dan Koramil yang di mintai tolong, yang lebih tak terduga adalah dua menantu dari pak Wisnu adalah tentara angkatan darat yang sedang libur.


acara malam itu berjalan lancar, dan pak Yudi sempat izin pulang karena untuk mengantar istri dan ibunya pulang duluan.


tapi di jalan tak sengaja dia melihat sosok Bu Sundari yang datang menyaksikan acara itu.


"Bu Sundari," tegur Bu Yanti.


"eh Bu Yanti, iya Bu... pak Yudi, saya turut berduka ya atas meninggalnya Susi,"


"terima kasih Bu, oh ya sekarang tinggal di mana, saya dengar kemarin tinggal di Mojowarno ya?" tanya pak Yudi.


"sudah pindah pak, saya sekarang tinggal di mbadang,jadi petani brambang merah, langganan dong, sekarang cateringnya sukses, karena nyonya batu ya," kata Bu Sundari yang juga terlihat semakin baik dan sopan


"iya Bu, Alhamdulillah, Allah mengirimkan mereka untuk membuatku tetap waras," jawab pak Eko.


"ya sayang dong, masak pria ganteng ini stres," kata Bu Sundari yang membuat mereka tersenyum.


akhirnya mereka pun berpamitan, dan pak Yudi mempersilahkan untuk bu Sundari jika ingin mampir.

__ADS_1


tapi wanita itu mengiyakan tapi kapan-kapan lagi, dan pak Yudi melihat sosok di samping wanita itu.


tapi dia tak ingin menyimpulkan apapun, karena itu urusan pribadi masing-masing bukan ranahnya ikut campur.


__ADS_2