
karena pak Yudi sebagai ketua panitia, langsung saja membuat daftar lomba dan acara yang nanti malam akan di bahas di rumahnya.
Nia sudah menyetorkan lomba untuk ibu-ibu juga, suaminya pun setuju karena ingin tahun ini meriah.
bahkan mereka juga dapat bantuan dana dari beberapa pelanggan yang disodorkan proposal.
jadi benar-benar tahun ini tahun keberuntungan untuk desa mereka, dan Nia juga sudah menyiapkan beberapa camilan yang akan jadi suguhan nanti malam.
dia juga mengundang beberapa ibu-ibu yang akan membantunya dalam menyiapkan semua hadiah atau pun doorprize untuk jalan sehat atau pun hadiah.
karena bukan sembarang orang yang bisa di panggil dan yang bisa di percaya juga.
setelah selesai sholat isya', para warga yang termasuk panitia datang ke rumahnya Yanti, dan ibu-ibu juga.
"ya Allah... merepotkan sekali, oh ya tolong di keluarkan semua makanannya ya," kata pak Anas.
"pak jangan bikin malu ya," kesal Bu Anas yang juga di undang karena jadi salah satu panitia.
"bercanda Bu, lagi pula ini bapak ketua selaku saja merepotkan diri," kata pak Anas tertawa.
"sebenarnya saya ingin mengajak semuanya berunding tentang kegiatan tahun ini, Alhamdulillah saya dan istri juga mendapatkan cukup uang untuk acara tambahan yaitu jalan sehat dengan hadiah utama dua kulkas dan tiga sepeda gunung, dan banyak lagi yang akan diberikan pada warga yang beruntung," kata pak Yudi.
"Lo Lo Lo... tahun ini kita benar-benar pesta ya, tapi ya jangan di habiskan semua psk, bagaimana kalau untuk tahun depan saja, kebetulan saya sudah membuat beberapa perincian untuk acara mulai sedekah desa hingga lomba bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja, tolong di lihat," kata pak Rudi.
"dek tolong ambilkan daftar lombanya, biar bapak-bapak bisa memilih," kata pak Yudi juga
akhirnya Bu Anita, pak Anas dan Alan sebagai perwakilan Tarang taruna pun melihat daftar lomba.
dia langsung setuju toh lomba untuk anak-anak dan remaja tetap sama, "nanti saya buat perincian untuk setiap barang yang di butuhkan dan juga uang untuk beli hadiah, atau saya pasrah ke ibu-ibu saja, boleh Bu Nia?" tanya Alan.
"boleh saja, tapi nanti kalau kami yang beli pasti ujung-ujungnya peralatan sekolah dan Snack, boleh memangnya?" tanya Nia
"boleh, tapi untuk yang remaja baju atau jam tangan atau yang lain boleh loh," jawab Alan
"baiklah seragam desainnya seperti ini, silahkan yang mau beli Monggo yang tidak juga tidak apa-apa, tahun ini warna yang di pilih merah," kata pak Yudi.
"setuju, tapi tolong beli ikat kepala juga biar kompak gitu panitianya," kata pak Eko yang juga akan ikut bergabung.
akhirnya semua setuju, meski kurang satu bulan tapi mereka tentu harus mematangkan semuanya, bahkan setiap panitia juga sudah di bagi masing-masing sesuai dengan keinginan atau apapun itu.
pak Wisnu juga ikut terlibat dalam acara sebagai panitianya, dan akan mengurus lomba bapak-bapak bersama pak Rudi.
malam itu semua sudah finish, dan tinggal pelaksanaan saja, Nia dan Bu Anita yang mengurus semua bagian konsumsi dan lainnya.
__ADS_1
malam itu setelah rapat semua orang pulang ke rumah masing-masing.
Nia dan Bu Yanti masih berberes bekas wadah yang terpakai, ya meski dia hamil muda.
tapi Nia tampak sangat aktif dan semangat,di banding hamil yang dulu, bahkan kini dia juga tak merasakan mual atau apapun.
jadi dia merasa jika kehamilan kali sangat mudah.
sedang di rumah pak Eko, pria itu masih duduk di luar rumah, tapi.dia sengaja mengelapkan rumahnya.
dia menikmati rokok miliknya, hingga seseorang melemparkan sesuatu.
tapi itu tak membuat pak Eko gentar, dia hanya tersenyum karena melihat orang yang ingin mengirimkan ilmu hitam kepadanya.
"sudah tahun berapa masih ada orang yang mainan hal mengerikan ini," gumamnya.
dia mengambil air garam yang dia gabungkan dengan air cucian beras, ya dia harus melakukannya agar teluh itu kembali pada pengirimnya.
setelah melakukan itu, pak eko memilih tidur di lantai hanya beralaskan tikar pandan di depan tv.
seorang wanita sedang membaca mantra, dia sedang melakukan ritual yang sudah dia tunggu selama beberapa tahun ini.
terlebih wanita itu sudah berusaha sebagaimana pun dia tak mudah untuk menerobos pertahan diri yang di miliki oleh pak Eko.
tapi apa yang dia inginkan tak akan semudah itu terwujud, terlebih pak Eko juga bukan pria biasa.
sedang pak lurah yang memang sudah berusia empat puluh delapan tahun lebih itu kini sedang galau.
pasalnya dia ingin mewujudkan kisah lamanya dengan Bu Eka, tapi mungkin itu akan mendapatkan penolakan dari anak-anaknya yang begitu jelas mengetahui dengan keberadaan empat wanita kompor dari desa Eko.
itu yang di takutkan oleh pria itu, yang seharusnya tak memikirkan hal cinta di usianya yang sudah terlalu tua itu.
tapi dia tak bisa membantah tentang Bu Eka yang tadi dia temui selama bekerja di warung milik pak Yudi.
wanita yang dulu nampak biasa, tapi tadi telihat begitu menawan dan lagi Bu Eka ini sekarang sepertinya merawat diri.
"ah... entah aku tak tau," gumamnya.
keesokan harinya, para pemuda sudah mulai persiapan dengan mulai mengecat tembok yang ada di desa.
kebetulan pak lurah di temani oleh pak Eko melihat persiapan untuk para dusun-dusun yang akan mengadakan acara.
dia tak menyangka jika tahun ini akan menjadi tahun pak Yudi lagi, karena setiap tahun desa tempat mereka ini yang selalu meriah.
__ADS_1
pak Eko tampak pucat siang itu, pak Anas yang melihat hal itu memberinya air rendaman daun kelor.
"bapak sadar ya," kata pak Eko.
"bagaimana tak sadar muka udah Abang biru begitu," kata pak Anas tersenyum dan memijat tengkuk dari pak Eko.
"iya pak," jawab pak Eko yang kemudian beberapa bersendawa cukup keras.
dan saat pak Anas memukul punggung pria itu, malah muntah sejadi-jadinya bahkan campur dengan gulungan rambut yang untungnya tidak banyak.
pak Anas tertawa, "halah Halah... belum jadi duda sudah di incar orang, kalau jadi duda bisa jadi rebutan para janda kembang ini mah," kata pak Anas tertawa.
sedang pak Eko merasa geram, bagaimana dia bisa menerima hal seperti ini, pasalnya dia tak sembarangan makan, kecuali kemarin nasi goreng yang di tinggalin oleh Novi.
Bu Anas, Bu Tomo, Bu Anita dan Nia sedang memilih semua hadiah yang akan di bagikan saat acara jalan sehat.
karena atas rundingan yang di lakukan hadiah tidak banyak sepeda di ganti dengan tv.
jadilah sekarang mereka semua berada di toko elektronik langganan dari Bu Anita agar mendapatkan diskon.
dan benar saja, mereka membeli kulkas, mesin cuci, TV, setrikaan, kipas angin, dan mereka beli pun tak main-main.
Bu Anita tak menyangka jika Nia yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa, ternyata begitu pintar.
bahkan wanita itu sudah memperhitungkan semuanya, dan kini mereka pindah tempat ke penjual perabotan langganan Nia.
benar saja mereka membeli semua hadiah untuk lomba maupun peralatan yang akan di gunakan.
setelah itu ke penjual sembako toko besar kenalan pak Yudi, dan mereka tinggal memberikan uang karena pak Yudi sudah memberitahu apa saja yang akan di beli lewat pesan singkat.
"bentar Bu, saya minta time out, ya Allah kenapa hari ini saya mudah sekali lelah ya," kata Nia.
"ya maklum Bu, kamu ini sedang hamil, ya kita beli makan dulu yuk, kebetulan cacing di perutku sudah pada demo," kata Bu Anas
"nih dasar ya mak-mak satu ini memang Amazon," kata Bu Tomo.
"amazing Bu, kok Amazon," kata Bu Anita tertawa.
"mau tau kenapa aku menganggapnya Amazon, bentar ya," kata Bu Tomo.
saat Bu Anas mau mengambil motor miliknya ternyata terhalang sebuah karung gila yang entah di tinggal kemana oleh kuli itu.
dengan mudah wanita itu menyingkirkan gila satu karung itu, itu membuat Nia dan Bu Anita kaget.
__ADS_1
"itu heber Bu Anas?" kata keduanya yang tak percaya apa yang dia lihat.