
Ninik dan Abidin sangat menikmati gorengan buatan pak Yudi, tapi Abidin merasa kurang nendang, "kurang pedes ya sambelnya," bisik Abidin yang sangat dekat dengan Ninik.
"Ya pakai cabe dong mas, kamu ini lucu kok memang," kata Ninik tertawa geli.
"Ada apa mas Abidin, kok sepertinya ada yang tak beres?" tanya pak Yudi yang melihat pria itu tertawa lirih.
"Tidak kok pak, ini loh aku sedang melihat video lucu yang di kirimkan oleh teman Ninik," kata mas Abidin.
Setelah mereka selesai, Abidin membayar, dan masih melihat para ibu-ibu ini fokus dengan pembicara mereka.
"Semuanya berapa mas, sekalian punya ibu-ibu itu sekalian," kata Abidin.
"Lima puluh mas," jawab pak Yudi.
"Ini pak, kembaliannya ambil saja," kata Abidin yang kini pergi dengan Ninik.
"Permisi duluan ya ibu-ibu," kata Ninik.
"Iya, terima kasih ya sudah di bayarin," kata Bu Anas.
Abidin mengangguk dan pergi bersama dengan Ninik, "eh Bu Eka, memang gak tau tentang sepupu mas Yono ini ya? sepertinya dia itu orangnya baik banget ya," tanya Bu Anas.
"Iya sih Bu baik, tapi istrinya itu mati muda loh, yang aku dengar sih karena mengalami keracunan kehamilan saat hamil tua, sepertinya dia memaksa istrinya itu terus melanjutkan kehamilan, meski tau jika istrinya bisa mati, taunya malah keduanya mati," kata bu Eka dengan santai menjawab.
"Bu, kalau tak tau ceritanya jangan di lebih-lebihkan karena itu tak baik, karena itu jadi fitnah," tegur pak Yudi.
"Aku tau kali, pas kemarin aku ikut acara keluarga bersama Wulan di tempat saudara mas Yono, ternyata mas Yono dan sepupunya ini lah yang paling kaya, yang lain sih tukang ngrecokin doang," kata bu Eka.
"Sama dengan mu dong, suka ngrecokin Wulan dan suaminya," kata Bu Tomo.
"Ngawur saja tuh mulut kalau bicara," kata Bu Eka tak terima.
Semua pun tertawa, Bu Anas pun pamit pulang dengan membawa beberapa gorengan untuk suaminya.
Anak-anak juga suka makan gorengan sambil menonton tv, bahkan Vina juga akan gondok kalau tak melihat ibunya di rumah saat dia pulang sekolah.
"Kalian merasa aneh gak sih, Bu Sundari ini udah lama sekali loh menjanda, tapi dia tampak tenang dan tak bingung karena tak punya pasangan, kok kuat?"
__ADS_1
"Alah kalian mau bilang kalau Bu Sundari ini punya pacar atau apa gitu kan, ya biarin saja toh dia juga janda," kata Bu Toto.
"Sudahlah aku mau pulang dulu, mau gorengan sepuluh ribu ya, campur," kata Bu Eka yang ingin pulang karena suaminya akan segera pulang dari sawah.
Saat beberapa ibu-ibu ini sudah pulang tinggallah Bu Lastri dan Bu Toto.
"Bu Susi sekarang sepertinya sudah lebih tenang ya," kata Bu Toto.
"Aku tak mau mengurus hidup orang Bu, sekarang mau fokus membantu suami, meski kadang-kadang mulutku rasanya juga gatal juga mau membicarakan orang," kata Bu Susi.
"Tapi ya Bu, sebenarnya suamiku juga mulai marah, karena banyak sekali pengaduan di desa tentang beberapa masalah, seperti orang yang menyebarkan berita buruk, sampai kadang aku itu di larang keluar," kata Bu Lastri.
"Habis bagaimana ya Bu, namanya juga tinggal di desa dengan tetangga yang seperti CCTV kura selama dua puluh empat jam," kata Bu Toto.
"Sama Bu, kadang saya juga kesal kalau ada yang mengatakan hal aneh seperti mereka saja yang tau kebenarannya," kata Bu Susi.
"Itu kamu dulu Bu, sudahlah tak pernah ada kata terlambat selama kalian mau berubah dan merubah semua yang telah terjadi," kata pak Yudi.
"Iya pak Yudi, sekarang kami akan berusahalah untuk tak mengejek orang lain," kata Bu Lastri yang tak mau terlihat lagi.
Terlebih nama baik suaminya yang terancam sebagai pamong di desa.
"Loh kok aku di undangnya telat sih, malah duluan sepupu Yono, kalian ini gimana," kesal Bu Eka.
"Ya Allah mbak,bukan begitu kan mereka ini anak muda jadi di telpon sudah cukup, kalau mbak di perlakukan begitu tak marah kalau aku mengundang mbak Hany dengan telpon saja," kata Bu Sunar.
"Tau nih ibu, sudah jangan marah begitu, lagi pula ini kabar baik dan lagi apa salahnya niatan mereka itu juga bukan hal buruk," kata pak Surip.
"Iya mbak, itulah kenapa kami datang membawa sembako sekalian meminta maaf, karena Wulan tak bisa datang sendiri untuk kesini," kata pak Sunar.
"Ya sudah, kalau begitu aku terima, dan besok kami akan datang," kata Bu Eka.
Akhirnya keduanya pun pamit pulang,dan Bu Eka sangat senang melihat apa yang di bawa oleh adiknya itu.
Sedang pak Surip merasa tak enak karena terus merepotkan keponakannya itu.
Dan nanti dia akan mengatakan semuanya, karena itu terlalu banyak dan mereka tak perlu di beri lagi.
__ADS_1
Wulan terlihat termenung di kamarnya, dan itu membuat mas Yono heran, "ada apa sayang,"
"Apa kita harus benar-benar pergi, karena aku rasanya sangat berat meninggalkan desa ini," gumamnya.
"Ya mau bagaimana lagi, ini adalah pilihan terbaik, di sana kita bisa memulai semuanya dari awal," kata mas Yono
Wulan hanya bisa mengangguk saja, karena usaha suaminya semakin besar.
Jadi mereka harus pindah ke kota Sidoarjo dan tinggal di rumah milik keluarga suaminya.
Terlebih rumah milik orang tua dari Yono juga sudah lama kosong, jadi ini sebenarnya impian pria itu untuk tinggal di rumah itu setelah menikah.
Keesokan harinya, semua orang yang mendapatkan undangan datang ke rumah Wulan dan Yono
Semua membaca tahlil dan doa bersama terlebih dahulu, semua orang terlihat sangat khusyuk.
Bu Eka terus memperhatikan Wulan yang memang sangat dekat dengan Ninik.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... sebelumnya saya sebagai tuan rumah mengucapkan terima kasih sudah datang, sebenarnya kami ingin berpamitan karena kami akan pindah rumah, dan sebelum pergi siang ini juga ajan di adakan pernikahan antara Ninik Rahayu dan sepupu saya, Ma'ruf Abidin, jadi pak penghulu silahkan," kata mas Yono.
"Tunggu dulu, kenapa kalian begitu berani dan lancang menikahkan mereka padahal kalian belum pernah mantu," kata Bu Eka yang melihat kejadian itu.
"Bukan nak Yono dan dan Wulan, tapi aku yang akan menjadi tuan rumah, karena aku tau tradisi mbak," kata pak Sunar
"Memang kenapa harus kamu, bukankah Ninik itu punya keluarga," kata bu Eka tak terima.
"Memang menurut bude karena siapa mbak Ninik di usir dan di benci keluarganya," kata Wulan yang akhirnya tak tahan lagi.
"Dek sabar..."
"Tidak mas, bude sudah keterlaluan, bude bahkan sampai datang ke keluarga mbak Ninik hanya ingin menjelekkan dia, memang apa salahnya mbak Ninik, toh perceraian itu juga bukan keinginannya," kata Wulan yang berhasil membungkam bu Eka.
"Kamu itu anak kemarin sore dan berani melawan ku, kamu itu tak bersyukur telah aku jodohkan dengan pria seperti mas Yono, jika tidak kemungkinan besar kamu paling juga jadi perawan tua," ejek Bu Eka yang menunjuk siapa dirinya.
"Bude salah, karena gadis yang di temui mas Yono saat datang ke tempat yang bude atur itu bukan aku, tapi teman ku Nia, dan di saat itu mas Yono ilfil padaku, dan kami bertemu saat tak sengaja motor ku mogok di jalan dan dia membantuku, dan di saat itulah aku mengaku dan minta maaf," kata Wulan yang tak terduga.
"Kamu itu tak tau terima kasih persis seperti keluarga mu," kata Bu Eka.
__ADS_1
"Cukup Bu Eka, kenapa anda begitu membenci saya, saya tak pernah melakukan apa pun yang melukai atau mengusik keluarga anda," kata Ninik yang tak sanggup melihat Wulan yang di hina wanita itu.
"Karena kamu mau menggoda menantuku!!" bentak Bu Eka.