Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
jalan sehat atau ajang cari jodoh


__ADS_3

siang itu semua lomba selesai dan sudah di dapatkan juara satu, dua, dan tiga.


tapi berbeda dengan itu, untuk bapak-bapak lomba belum selesai karena lomba utama masih baru akan di mulai.


pak Yudi sudah tau jika nanti siang ini pasti ujung-ujungnya para panitia pasti akan ikut berkompetisi.


yang daftar cukup banyak karena hadiah utama adalah uang dua juta dan bebas mengambil hadiah hiburan.


sedang hadiah ke dua adalah uang satu juta Lina ratus dan ketiga adalah satu juta.


jadi yang menang pertama bebas mengambil hadiah utama dan empat hadiah hiburan.


begitupun seterusnya, tak hanya itu mereka juga ada lomba panjat debog tapi yang ikut adalah anak kecil yang berusia tujuh hingga tiga belas tahun.


jadi sebelum acara panjat pinang, para bocah ini yang bersiap duluan, pak Yudi mengunggulkan putra pertamanya yaitu Fahri.


"ayo le, pasti bisa lumayan tiga ratus ribu hadiah yang pertama saja jajan itu lumayan," kata pak Yudi.


"sial ayah," kata Fahri semangat.


"awas ya nanti habis lomba pilek ini, karena airnya terus ngalir," kata Nia yang sedang duduk di tempat panitia bersama dengan putra keduanya dan Bu Yanti.


"tenang, anak ku kuat kok, ayo semua peserta lomba siap," kata pak Yudi.


satu batang pisang itu di perebutkan oleh tiga anak yang harus sepantar, sedang Alan yang mau ikut di jewer sama pak Anas.


"kui arep Lapo?"


"mau ikut lomba pak," kata pemuda itu semangat


"kalau mau ikut, ikut yang panjat pinang, kenapa malah ikut yang ini," kata pria itu menarik Alan mundur.


"baiklah kita mulai, semua bapak panitia siap anak-anak di jaga, satu... dua... mulai," kata Nia yang langsung di sambut teriakan ibu-ibu yang mendukung anaknya.


pak Yudi gak kalah heboh, karena putranya itu cukup baik tapi sayang karena batang pisang sangat licin dan terus bergerak membuat bocah-bocah itu terus merosot jatuh.


"hiya... melorot lagi permisa..." kata Nia yang melihat tingkah bocah-bocah itu


karena tinggi batang pisang itu lumayan, akhirnya di ganti peraturannya, boleh mencari teman yang bisa di ajak kerja sama.


"Lo.. Lo... Yo gak oleh ngejak mas e ngunu, wah... yang boleh di ajak usianya di bawah usia yang lomba," kata Nia yang membuat semua bocah itu mencari anak usia lima tahun dan enam tahun.


Fahri mengajak adiknya yang kebetulan Raka berusia lima tahun dan cukup tinggi di banding bocah seusianya.


tetapi itu tetap saja tidak bisa, semua orang tertawa karena raja yang malah terus memeluk batang pisang tidak mau lepas.


"adek cepat ambil uangnya!!" teriak Fahri.


"huwa... mas teliak ke laka," tangis bocah itu.


Nia dan pak Yudi tertawa melihatnya, kini giliran sang nenek yang maju, " Raka nanti kalau ambil uangnya yang tiga warna merah bisa buat beli mobil," teriak Bu Yanti.

__ADS_1


"obil..." kata Raka semangat.


"ketika embok e kalah sama neneknya," kata iak Yudi yang mendapatkan lemparan dari Nia.


ternyata bocah itu langsung bisa naik ke atas dan mengambil semua uang yang berwarna merah, "loh heh... siji ae kok di ambil semua !!" kata pak Eko yang melihat.


akhirnya uangnya di kembalikan dan Fahri menang berkat bantuan dari adiknya itu.


"yey... buat di tabung, adek minta ayah belikan mobil," kata Fahri.


"wes kasus wes, politik e pinter, anak e sopo seh," kata pak Yudi tertawa.


"ayah..."


akhirnya lomba panjat gedebog pisang sudah selesai, kini giliran panjat pinang.


para warga semangat terutama bapak-bapak yang sudah mengambil ancang-ancang.


tak lama mereka pun naik dan mulai bersaing satu sama lain, ternyata tiga tim itu tak ada yang bisa memanjat.


bahkan para remaja juga tidak ada, pak Yudi masih asik duduk dan memangku Raka yang sedang minum susu.


"idih sudah mau jadi kakak kok masih ngedot, itu giginya habis loh,"kata Nia menggoda bocah itu.


"bunda jangan dong, suka banget godain adek sih," kata pak Yudi yang memeluk Raka.


tak lama Fahri datang dan memeluk Nia, "kenapa mas, pasti gak enak ya badannya," kata Nia.


"ya sudah ambil ini nasi punya ayah, punya bunda tadi sudah di makan adek, gak papa ya, tadi telurnya sudah ayah makan soalnya yang putihnya," kata pak Yudi.


"yey aku tak suka putih telur juga kok ayah," jawab pak Yudi


"Yo ketua panitia maju, pak lurah Monggo, dan berserta pamong, pak Eko dan pak Rudi, pas empat orang," kata pak Anas yang sedang menjadi tim sorak dengan membawa microfon.


"tukang perintah, baiklah..."


pak Yudi pun bangkit dan melepas bajunya, tak hanya itu para pria yang tadi di panggil pun langsung berkumpul.


otomatis para ibu-ibu berteriak heboh terlebih pak Yudi, dan pak Rudi memiliki tubuh yang proporsional dengan perut kotak-kotak.


"wes awas pak nanti malam bisa-bisa di suruh tidur di luar rumah ini," kata pak Anas tertawa.


"gak bakal," kata pak Yudi.


"yah kata bunda, ayah di suruh tidur di luar," kata Fahri yang meminta pinjam microfon.


"gak Sido gak Sido, wes repot Iki," kata pak Yudi yang langsung mundur.


tapi Nia tertawa dan menyuruhnya tetap menuju ke tempat dimana mereka mulai akan melakukan perlombaan.


pak Yudi sekarang bersama kelompoknya mulai gambreng, dan mereka bertiga tak enak jika harus menginjak pak lurah.

__ADS_1


tapi tubuh pak lurah ini paling bongsor dan tinggi di antara ketiga pria itu.


"ini pak lurah kalau di bawah, bisa di demi warga kita," kata pak Eko.


"lah terus sampean mau di bawah, aku nah ogah," kata pak Yudi.


"sudah tidak apa-apa, pak Rudi dan pak Yudi dan yang punya tugas ke atas adalah pak Eko, semuanya bisa,"


"siap bisa!!" teriak semua orang.


akhirnya mereka pun mulai mencoba, pak Anas ini memang sangat suka berkomentar dengan nada provokasi.


"hei pada tidak sopan ya, bisa-bisanya pak lurah di injek-injek heh...", teriak pak Anas.


"Ojo kakekan cangkem Cok," teriak pak Yudi yang sudah menopang tubuh pak Rudi.


kini pak Eko mulai naik karena tubuhnya memang sekarang paling kecil di antara ketiganya.


dan benar saja pria itu sangat pintar memanjat, pak Yudi mengambil tali dan langsung melemparkannya ke arah pak Eko untuk membantu pria itu sampai di atas.


akhirnya benar-benar bisa mengambil juara pertama, dan dia mengambil Cooper dan juga beberapa mie instan yang di gantung sebagai hadiah hiburan.


setelah itu dia turun sambil mengikis oli yang ada di pohon pinang itu.


beruntung dia turun dendam selamat, pak Yudi pun nampak kesakitan di area pundak.


ternyata pria itu sedikit mengalami keseleo, beruntung pak Anas bisa menyembuhkan pria itu.


dan beruntung ternyata belum parah dan langsung di tangani dengan baik, sedang pak lurah meras sakit di kakinya yang merasa sedikit luka karena menginjak kerikil tajam tanpa sadar.


beruntung Bu Eka langsung membantu pak lurah dan pak Eko sudah di panggil Bu Yanti untuk sedikit membersihkan pria itu yang penuh oli.


akhirnya panjat pinang pun dilanjutkan dan tim dari Alan dapat posisi kedua karena sudah tak licin.


di bantu dengan yang lain, tim pak Sukri yang juara ketiga. pukul lima sore semuanya selesai.


pak Eko kini sedang pijat dengan pak Zainal di salah satu rumah dukun urut urat.


ya bagaimana pun pria itu butuh orang untuk membuat dirinya santai, tak bisa membiarkan tubuhnya sakit semua.


saat pulang dari pijat, ternyata ada Novi yang datang ke rumah pak Eko membawa sesuatu.


"ada apa Novi kemari?" tanya pak Eko yang melihat gadis itu.


"ini pak saya di minta bapak mengantar singkong untuk pak Eko, kata bapak terima kasih atas bantuan uangnya, itu sekarang bapak bisa sehat lagi," kata gadis itu.


"Alhamdulillah, tapi kalau boleh tanya, apa kamu mencoba untuk mengguna-guna diriku, pasalnya aku beberapa hari ini terus terbayang dirimu," kata pak Eko yang mencoba mengetes gadis itu.


"tidak pak, ya Allah kenapa saya ingin mengguna-guna bapak, bapak ini kan yang selalu menolong keluarga kami, tapi saya bisa bersumpah atas orang tua saya dan Al-Qur'an pak..." kata Novi yang takut.


dia memang di salah artikan karena dirinya yang jelek, dan membuat semua orang menghinanya.

__ADS_1


tapi dia juga tak serendah itu hingga harus menggoda pria dengan menggunakan metode buruk itu.


__ADS_2