
tanpa di duga, Bu Eka melihat sosok Bu sundari dari jauh, dia pun mencoba menghampiri wanita itu.
dia sekarang sebisa mungkin untuk minta maaf, agar hidupnya semakin tenang, dan tak terus merasa bersalah.
Bu Eka menepuk bahu wanita itu, "Bu sun, boleh bicara sebentar," kata wanita itu.
sedang Bu Sundari kaget melihat sosok wanita yang sangat dia hindari malah berdiri di depannya dengan wajah yang serius.
"ada apa Bu!" suara Bu Sundari yang sedikit keras karena tak terdengar karena suara sound sistem.
Bu Eka mengajak bu Sundari menjauh, dan mengajaknya ngobrol, "Bu saya ingin minta maaf, saya dulu mbuat kesalahan, dengan mengadukan hal memalukan yang saya saksikan pada para ketua di sini," kata Bu Eka.
"Bu Eka begitu mudah minta maaf, saya malu dan hancur Bu, anak saya pun membenci saya," kata Bu Sundari yang langsung menangis.
"saya tau Bu, tapi saya juga mendapatkan hukuman yang pantas, semua orang menjauhi saya, bahkan suami saya pergi selamanya tanpa ada pamit," kata Bu Eka yang sudah menangis bercucuran air mata.
"anda begitu mudah bilang seperti itu,"
"saya mau menerima hukuman apapun dari anda, tapi tolong maafkan saya Bu, saya lelah merasa bersalah seperti ini," kata Bu Eka.
tanpa di duga, Bu Sundari menampak keras pipi Bu Eka bolak balik.
plak... plak..
tapi setelah itu keduanya malah berpelukan dan menangis bersama, bahkan mereka membuat bingung beberapa orang.
pak Wisnu yang baru selesai dari kamar mandi yang melihat Bu Eka dan Bu Sundari menangis bersama pun menghampirinya.
"eh ada apa ini?" bingung pak Wisnu.
"eh pak Wahyu, saya juga tidak tau," kata seorang pria yang sepantaran dengan pak Wisnu
"itu suaminya u Bu, selamat ya...", kata Bu Eka dengan sesenggukan.
"iya... ibu yang sabar ya," kata Bu Sundari yang melanjutkan menangis bersama.
kedua pria itu benar-benar bingung dan memilih memesan mie ayam sambil nunggu.
"dek, dari pada kamu menangis seperti itu, mending sini deh kita makan lumayan nih buat ganjel perut, pasti lapar bukan," kata suami Bu Sundari.
"traktir ya," kata Bu Eka.
"tenang saja, mau apa sih mau beli mobil aja tak kasih kok," kata pak Wisnu menarik wanita itu.
"hii... belum muhrim," kata Bu Eka memukul tangan pak Wisnu.
"habis bu Eka bikin gemes, sudah pada berumur malah nangis bareng," kata pak Wisnu.
"kepo ih," kesal wanita itu.
akhirnya mereka makan bersama, ternyata keduanya memang kelaparan, pak Wisnu juga tak mengerti kenapa sekarang Bu Eka sangat menarik.
sedang pak lurah, yang lewat pun merasa tak suka melihat pak Wisnu yang tertawa di samping Bu Eka seperti itu.
tapi dia juga tak bisa melarang karena dia juga bukan siapa-siapa dari wanita itu.
jadi dia memilih untuk mengabaikan mereka, tanpa di duga, Bu Eka langsung bangkit dan menghampiri pak lurah yang lewat
"Gun, ya Allah nih orang budek ya, Gunawan!!" teriak Bu Eka.
"apa sih," kata pak lurah yang kaget
karena kesal, Bu Eka melempar jaket yang tadi pagi di pinjamkan oleh pak lurah pada cucunya.
__ADS_1
"budek ya, Dati tadi di panggil gak nyahut," kata Bu Eka yang langsung pergi.
"terima kasih pak Wisnu mie ayamnya, dan Bu Sundari serta suami, saya permisi, bikin orang kesal saja, cih..." kata Bu Eka yang memutuskan untuk pulang.
melihat hal itu pak Gunawan pun menarik Bu Eka agar masuk kedalam mobil miliknya.
"dari pada jalan kaki, kami duluan ya, permisi..." kata pak Gunawan tersenyum karena pria itu benar-benar merasa menang saat ini.
sedang Bu Sundari ingat kisah lama, "lah ... itu bukannya Gunawan mantan kekasihnya Bu Eka ya, pantes kok sekarang kayaknya pernah lihat," kata wanita itu.
"apa..."
"Duh sepertinya pak Wisnu kalah start ya, yang sabar ya pak," kata suami Bu Sundari
acara pun berakhir pukul dua belas malam, Alan ternyata juga sudah pulang duluan tapi pemuda itu sedang mengerang kesakitan.
Bu Eka yang di antar oleh pak lurah pun turun, dan pria itu menunggu wanita itu masuk kedalam rumah.
"yakin tak mempersilahkan aku masuk?" tanyanya.
"sudah makan, sudah pulang sana," kata bu Eka.
tak lama bu Eka mengangguk, dan saat wanita itu masuk kaget melihat putranya sudah tergletak di lantai.
"Alan!!" teriak Bu Eka.
mendengar itu, pak lurah langsung lari mendekat, dan kaget melihat pemuda itu pingsan.
"kita bawa ke rumah sakit," kata pak lurah yang langsung mengendong pemuda itu di punggungnya.
akhirnya mereka langsung menuju ke UGD karena takut terjadi apa-apa dengan pemuda itu.
sebenarnya saat mengendong Alan tadi, dia mencium aroma minuman dari pemuda itu.
dokter menghampiri pak lurah untuk menjelaskan keadaan dari Alan, dan pria itu mengizinkan untuk menguras isi lambung pria itu.
karena pemuda itu luka karena alkohol yang di minum terlalu banyak dan dalam kadar yang terlalu tinggi.
Bu Eka yang habis menyelesaikan semua administrasi pun terlihat begitu khawatir, pak lurah pun mengajaknya menunggu di luar ruangan UGD.
"tenang ya Eka, semua pasti baik-baik saja," jawab pria itu.
"aku takut.... aku sudah kehilangan suamiku, dan sekarang putra ku," tangis wanita itu yang kini di peluk pak Gunawan erat.
"tenang Eka, aku yakin jika dia itu sangat kuat, jangan sedih lagi ya..."
Bu Eka merasa aman dan nyaman, tapi dia ingat dan bangkit dan duduk di samping pak Gunawan
setelah menunggu satu jam, akhirnya Alan di pindahkan ke ruang rawat.
pak Gunawan meminta nomor ponsel menantu dari Bu Eka, dan meminta pria itu mengantar selimut dan bantal serta karpet untuk istirahat.
awalnya suami Aliya bingung, tapi akhirnya tetap menurut dan pria itu kaget saat tau jika adik iparnya itu masuk rumah sakit
dan pak gunawan meminta untuk menaruh pemuda itu di kelas satu agar Bu Eka nyaman dalam menunggu putranya.
Bu Eka pun tak bisa bicara apapun, pikirannya sedang kalut, dia tidak tau sebenarnya aia yang terjadi pada putranya itu.
"apa kamu tau apa yang di alami Alan mas, tolong jangan berbohong kepada ku..." mohon Bu Eka
"sebenarnya lambung Alan terluka karena minum-minuman keras dengan dosis alkohol tinggi, beruntung kita membawanya tepat waktu, jadi dokter mengeluarkan semua isi lambung Alan, dan sekarang kita harus mengawasi dia dalam makanan," kata pak Gunawan.
"itu tidak mungkin, Alan tak pernah minum-minum seperti ini, ini tak mungkin..." lirih Bu Eka.
__ADS_1
"aku tau itu, sekarang lebih baik kamu istirahat karena kamu akan menjaganya," kata pak Gunawan.
"iya mas, terima kasih atas bantuannya dan saat nanti aku punya uang aku akan menggantikan semuanya," kata Bu Eka
"tak usah begitu, sekarang fokus pada kesehatan Alan dulu, uang bisa di urus nanti," kata kata pak Gunawan.
malam itu pak Gunawan menjaga Alan bersama Bu Lastri, wanita itu tidur di karpet.
sedang pak Gunawan tidur duduk di samping Alan, keesokan harinya pemuda itu bangun dan kaget melihat ada seorang pria yang sedang tidur di sampingnya.
"pak..." lirihnya.
pak Gunawan bangun dan kaget melihat Alan sudah bangun, "kamu bangun, bagaimana perasaan mu,"
"mual," lirih pria itu
mendengar itu, pak Alan menekan tombol khusus, dan tak lama suster datang dan langsung membenarkan selang yang mengeluarkan semua cairan dari dalam perut Alan.
Bu Eka bangun dan melihat putranya yang begitu lemah, dia pun langsung ke kamar mandi karena tak sanggup menahan tangisnya.
pak Gunawan mengusap kepala pemuda itu dengan penuh kasih sayang.
"sabar ya le, kamu pasti sembuh," katanya.
Alan mengangguk, pak Gunawan memastikan kesehatan Alan, jika rumah sakit tak tanggung mengatasi kondisi pemuda itu.
dia bisa membawanya ke rumah sakit yang lebih besar seperti Surabaya agar dapat perawatan yang lebih baik.
tapi dokter meyakinkan jika pemuda itu sudah baik-baik saja, dan nanti sore mungkin selang bisa di copot.
Bu Eka izin kepada Nia untuk libur karena kondisi Alan yang drop seperti itu.
Nia pun mengizinkan karena musibah tak ada yang tau, pak Yudi yang tau jika kondisi Alan memburuk pun meminta para panitia berkumpul.
agar bisa bermusyawarah untuk mengunjungi pemuda itu untuk memberikan sedikit bantuan, terlebih Alan kemungkinan kelelahan karena tugasnya sebagai ketua Tarang taruna
pak Gunawan meminta tolong pada anaknya yang tak memiliki anak kecil untuk membantu Bu Eka menjaga Alan.
bagaimana pun jika sendirian itu akan merepotkan, dan beruntung jika mereka semua mau, bahkan terdengar sangat senang.
benar saja, putri pertamanya yang datang, "loh nduk, kalau kamu di sini, bagaimana putra mu?"
"dia sama ayahnya kok yah tenang saja karena suami ku juga sedang cuti, jadi aku bisa membantu bu Eka," jawab wanura itu.
"baiklah Sarah, titip Bu Eka ya, ini ambil buat pegangan, apapun yang nanti di butuhkan gunakan ATM ini, dan kamu tau pin-nya kan?"
"siap ayah," kata Saras.
bagaimana pun dia menyadari sesuatu tentang perasaan ayahnya, toh pria itu juga sudah jujur.
dan lagi sebagai anak-anak yang ingin melihat orang tuanya bahagia, mereka pun tak akan mengatakan apapun.
Bu Eka merasa tak enak, tapi Saras meyakinkan wanita itu, "ibu sarapan dulu ya, kebetulan saya bawa bubur putih encer untuk Alan, dan sarapan nasi ayam dan serundeng serta sambel, untuk ibu ya," kata wanita itu.
beruntung selang yang di pakaikan dari semalam, Saras pun bertanya pada dokter tentang bubur yang dia bawa.
dan dokter mengizinkan asal bubur polos tanpa rasa apapun, dan wanita itu menyuapi Alan.
"ya Allah dek, kemarin kamu masih begitu sehat bisa berlarian kemana pun, sekarang kok selemah ini," lirih Saras.
"aku di paksa mbak, Toni, Deni dan Satrio yang memaksaku minum," kata Alan.
mendengar pengakuan dari pemuda itu, pak lurah langsung meminta pak Eko memanggil ketiga pemuda itu.
__ADS_1
dan ternyata mereka semua minum oplosan saat ada orkes besar memanfaatkan kelengahan para orang dewasa.