
Wulan menghela nafas, akhirnya mereka semua selesai pengajian dengan cara yang berbeda.
Bagaimana tidak, mereka bubar pengajian kalau biasanya karena memang sudah selesai, sekarang malah kayak habis tawuran.
"Bude itu ibu Ika sama ibu Susi gak papa, mereka masih Marahan loh," tanya Wulan yang memang baru kali ini melihat hal seperti itu.
"Alah sudah lah nduk, mereka memang begitu, lagian yang di katakan Susi itu benar, toh itu bukan fitnah, kamu tak kasihan dengan suami Bu Ika yang di bohongin terus menerus," kata Bu Eka yang membenarkan apa yang di lakukan Bu Susi.
"Iya bude," jawab Wulan yang tak ingin terus dapat bantahan dari Bu Eka.
Sedang di rumah Bu Ina kini sedang bertengkar dengan suaminya, pasalnya suaminya itu malu.
Karena kelakuan istrinya, bahkan satu desa pun sudah tau apa yang terjadi di tempat pengajian itu.
"Kamu itu sepertinya tak punya rasa malu Bu, bagaimana kamu bisa selingkuh dan itu pun jadi bahan gosip satu desa, aku malu Bu... malu .." kata suami Bu Ika.
"Maafkan aku mas, aku khilaf, karena mas yang selalu sibuk bekerja setiap hari, aku kesepian hingga mencari kehangatan di luar," kata Bu Ika.
"Itu tak bisa di buat pembelaan kamu tau tidak, bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu, sekarang semua orang mengolok-olok keluarga kita, aku bahkan tak bisa lagi menunjukkan wajah ku," kata suami Bu Ika yang kemudian pergi begitu saja.
Bu Ika hanya bisa menangis, godaan sesaat itu menghancurkan dirinya, bagaimana tidak.
Perkenalan dirinya dan pemuda itu tejadi di Facebook, dan mereka bertemu juga baru dua kali.
Dan hubungan itu juga baru pertama kali terjadi, tapi Bu Ika sudah menghancurkan suaminya.
Pria yang menerima dirinya yang di kenal sebagai perawan tua, dan juga bekas korban pelecehan.
Suami Bu Ika pun sedang duduk di salah satu kebun yang memang lumayan sepi, dia memikirkan keluarganya.
Dia banting tulang pontang panting demi anak dan istrinya, tapi sekarang malah di khianati seperti ini.
Bu Susi tentu tak merasa bersalah, dan dia sekarang merasa impas karena berhasil mempermalukan Bu Ika
__ADS_1
"Sekarang kamu baru tau kan rasanya malu, kemarin kamu tertawa karena aku yang tak bisa mengaji, sekarang makan tuh malu yang kamu buat, sudah tua kebanyakan tingkah," gumam Bu Susi.
Sedang sesampainya di rumah Bu Eka sudah di cegat okeh suaminya, "assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, bu aku dengar di pengajian ada masalah besar," tanya pak Surip.
"Biasa pak ibu-ibu, ada yang pergoki Bu Ika main sama daun muda, sampai ke hotel," jawab Bu Ika.
"Ya Allah Bu, kalian ini pengajian kok ya bahas begituan," kata pak Surip yang tak habis pikir.
"Kok marah ke ibu si, emang ibu yang bahas, orang mbak Susi kok, lagi pula itu bukan fitnah tapi kenyataannya, orang buktinya ada kok, sudah ibu mau masuk, mau ganti baju," kata Bu Eka yang nyelonong masuk begitu saja.
Sedang pak Surip pun hanya menghela nafas panjang melihat tingkah istrinya itu.
Sedang Bu Sundari kini was-was, pasalnya dia juga memiliki rahasia besar.
Tapi dia kalau main selalu rapi terlebih itu dia tak akan di curigai toh warga mengenal pria itu.
Bu Lastri sedang menjemput anaknya les, saat melihat suami Bu Ika di kebun bambu sambil duduk bengong.
"Pak hansip, ngapain di sana, di culik kalong Wewe loh nanti," tegur Bu Lastri.
Melihat wanita itu pak hansip pun marah, "Bu Lastri, sebenarnya ada masalah apa sih anda hingga menganggu rumah tangga saya, ibu puas membuat saya malu seperti ini," marah pria itu.
"Yey... saya sih gak peduli mau puas atau gak, saya kan cuma lihat saja, lagi pula bukan saya yang nyebarin, kalau mau marah ya marahin tuh istrinya yang tak tau malu, udah tua masih saja doyan jajan,"saut Bu Lastri yang tak mau di salahkan.
Mendengar itu pak hansip hampir melempar batu bata ke arah wanita itu.
Tapi beruntung Bu Lastri bergegas pergi, "wong edan!!" teriaknya.
Mendapatkan perbuatan seperti itu,Bu Lastri tak terima dan langsung melapor pada suaminya.
Bagaimana pun dia itu adalah jajaran orang penting di desa, karena suaminya adalah pamong.
__ADS_1
Pak hansip pun merasa makin putus asa sekarang, akhirnya dia pun mengambil keputusan besar.
Bagaimana tidak dia memutuskan akan mengakhiri segalanya. karena dia tak punya wajah lagi untuk bertemu dengan orang-orang.
Bu Susi yang sedang menikmati kesenangannya karena berhasil mempermalukan Bu Ika, tiba-tiba dapat telpon dari suaminya.
"Iya papa ku sayang, ada apa?" tanya Bu Susi dari seberang telpon.
"Ma, apa yang terjadi, papa dapat kabar jika mama membuat keributan saat pengajian, ayolah ma, jangan bikin malu, jika mama tidak berubah aku akan menyetop semua uang belanja mama," kata suami Bu Susi.
"Apa sih pa, itu karena abu Ika dulu, dari yang membuat mama malu, sekarang giliran dong, lagi pula dia sendiri kok yang bodoh, selingkuh kok terang-terangan," kata Bu Susi.
Mendengar jawaban istrinya itu membuat suami Bu Susi pusing, dia tak bisa pulang karena batu sampai kota tujuannya.
Bu Ika yang merasa khawatir dengan keadaan suaminya itu, memutuskan mencarinya.
"Mas!!!" panggil Bu Ika.
Bu Ika sudah keliling kebun bambu dan dimana pun tapi tak menemukan suaminya itu.
"Mas kamu dimana!" panggil Bu Ika yang semakin khawatir.
Karena tak dapat menemukannya sendiri, Bu Ika pun memutuskan meminta pertolongan pada pak RT.
Dia pun menuju ke rumah pak Anas, sesampainya di rumah itu, dia malah mendengar pertengkaran hebat.
"Putrimu ini bikin malu,ibu jadi bahan hinaan dari ibu-ibu di desa, karena dia di antar pria dan di kasih uang, kamu jual diri huh, apa yang saku dari ibu itu kurang, kenapa kamu membuatku malu seperti ini, jawab.... ibu membesarkan mu sana dengan saudara mu, tapi Kenapa??" tangis Bu Anas.
Putri sambungnya itu juga menangis histeris, "maafkan Vina Bu, itu hanya guru Vina yang memberikan uang lelah, karena Vina membantunya mengisi rapot anak-anak, Vina tidak seperti itu Bu... Vina selalu menjaga diri dari pria Bu," tangis gadis itu
"Tapi semua warga di desa tidak tau itu Vina, sekarang namamu sudah buruk, apa yang kamu bisa lakukan hah!!"
"Sudah Bu sudah, itu malu di dengar tetangga," kata pak Anas.
__ADS_1
Tiba-tiba Bu Ika mengetuk pintu karena dia khawatir pada suaminya, "assalamualaikum pak RT, tolong bantu saja, mas Imron belum pulang karena marah,"
"Waalaikum salam, kok bisa Bu," tanya pak Anas yang keluar dari dalam rumah.