
Nia tak menyangka jika ada yang merekam tentang pertengkaran antara dia dan Bu Susi.
dia merasa tak enak karena Bu Susi mengalami kesulitan karena dirinya.
tapi beberapa pelanggan yang tau keinginannya untuk minta maaf terdengar kesal saat berkomentar.
"kenapa sih mbak Nia, biarin saja itu kan kesalahan ibunya sendiri yang datang dengan amarah yang meluap-luap, tanpa tau apa yang terjadi," kata para pelanggan.
"tapi saya merasa tak enak karena mereka sudah karena pemberitaan ini, padahal saya ingin tenang-tenang menjalani kehidupan di sini," Kata Nia.
"sudah mbak, Tuhan itu tidak tidur, jadi tak perlu mbak merasa bersalah,"
Nia pun hanya bisa menghela nafas, terlihat Fahri datang dengan membawa piala.
"ada apa Fahri, ini dapat karena kamu menang juara lomba matematika antar kelas, aduh putra bunda pintar sekali," kata Nia dengan senang hati.
"iya bu, semua ini untuk ibu," kata Fahri dengan senang.
Nia pun memeluk putranya itu, "anak pintar sekarang masuk bersih-bersih dan makan ya le, tadi bisa buat ayam Kentucky."
"siap bunda," jawab Nia.
Bu Susi pun berniat ingin mencelakai Nia dengan cara ghaib, dia sudah mendapatkan alamat dukun yang bisa membantunya.
tentu itu juga berkat rekomendasi dari Bu Eka yang sering melakukan hal jahat seperti itu.
selain untuk melukai Nia, dia juga ingin memasang susuk pemikat untuk membuat suaminya agar tetap setia mencintai dirinya.
dia memutuskan berangkat pada sore hari karena dia membuat janji malam ini.
"mama mau kemana aku ikut dong," mohon putra Bu Susi satu-satunya itu.
"tidak usah, kamu di rumah saja tunggu papa pulang," kata Bu Susi melarang.
"gak mau lah Bu, bawa aku ya..." mohon bocah itu yang di angguki oleh Bu Susi.
akhirnya keduanya berangkat mengunakan motor matic menuju ke desa cadang guling.
ya desa itu cukup jauh, tapi dia tak memiliki pikiran takut atau apapun itu, karena dia sudah punya keinginan yang kuat.
mereka melewati jalur persawahan yang cukup gelap, putra Bu Susi ketakutan tapi tidak dengan wanita itu yang nampak biasa saja
tapi belum juga mencapai desa tempat dukun itu tinggal, Bu Susi sudah terjebak magrib di jalur tuwangan itu.
__ADS_1
tiba-tiba ada sepeda motor yang memepet motor bu Susi dan mencoba merampas semua perhiasan wanita itu
"jangan melawan atau berteriak atau kamu dan putra mu akan mati di sini," ancam pria bertopeng itu.
"tidak mau, ini milikku," jawab Bu Susi yang ingin mempertahankan perhiasannya.
tapi pria itu merampasnya, tapi Bu Susi melawan dengan sekali tebas, anda itu tersungkur bersimbah darah
"tolong!!! ibu..." teriak anak Bu Susi yang menangis karena melihat ibunya mati di depan matanya.
bocah itu tiba-tiba lari secepat yang dia bisa untuk menjauhi para pembegal itu.
salah satu begal itu pun mengejarnya dan menebasnya hingga tewas juga.
bahkan kepala bocah itu hilang melompat entah kemana, dan mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat kejadian pembantaian itu.
pak Yudi yang pulang karena merasa sudah keterlaluan tadi pun tak mendapati siapapun di rumah.
tapi dia melihat pesan di kulkas, "aku pergi ke rumah orang tuaku, tak perlu mencariku," isi pesan itu
"sepertinya dia benar-benar marah," pak Yudi pun bergegas pergi mencari istri dan anaknya itu ke rumah mertuanya.
sesampainya di rumah mertuanya, dia tak menemukan istrinya itu, "memang Susi kemana le, kok sampai tak pamit padamu?"
pria itu menghubungi Bu Lastri tapi wanita itu juga tak tau, kemudian dia menghubungi Bu Toto.
"iya pak Yudi ada apa?" tanya Bu Toto yang heran kok tumben pria itu menelponnya.
"siapa Bu?"tanya pak Toto.
"ini yah pak Yudi, aku loudspeaker ya biar tau," jawab wanita itu.
"iya pak Yudi ada apa?"
"Bu tau istri saya tidak, karena ini saya sedang mencarinya karena dia pergi dengan Yuda, tapi tidak pamit," kata pak Yudi.
"aduh gak tau eh pak, tapi tadi siang saat kumpul-kumpul Bu Susi memang bilang mau ke tempat guru spiritualnya Bu Eka, mau minta tolong buat meredakan semua isu, dan yang penting untuk buat pak Yudi tidak marah lagi katanya, tapi saya juga tidak tau di mana rumahnya," kata Bu Toto
"kenapa harus ketempat seperti itu segala sih," gumam pak Yudi yang marah
"yang sabar pak, mungkin Bu Susi melakukannya hanya karena panik," jawab Bu Toto.
"ya sudah Bu terima kasih, saya akan ke tempat Bu Eka saja kalau begitu agar bisa di antar ke tempat dukun itu," kata pak Yudi yang mematikan ponselnya.
__ADS_1
dia segera menuju ke rumah keluarga pak Surip, beruntung semua sedang santai di rumah karena memang sudah pukul tujuh malam.
"assalamualaikum.... pak Surip," panggil pak Yudi.
"waalaikum salam, eh mas Yudi masuk dulu, ada apa kok tumben malem-malem kesini?"
"ini pak maaf ganggu, saya mau tanya rumah guru spiritualnya bubrka, karena istri saya pergi dari sore kok sampai jam segini belum pulang, saya khawatir terlebih dia mengajak putra kami juga," kata pak Yudi yang cemas.
"Bu kamu memberitahu rumah lek Jo pada Bu Susi, ini suaminya nyari," panggil pak Surip.
"tidak pak bukan lek Jo tapi Mbah Gun," jawab Bu Eka takut.
"sudah ku katakan jika pria itu memakai ilmu hitam, mau apa kalian kesana, ayo pak saya antar karena rumahnya ini cukup jauh," kata pak Sarip.
"terima kasih pak, dan maaf merepotkan," kata pak Yudi.
"seharusnya saya yang minta maaf karena istri saya membuat istri mas Yudi sesat juga,"kata pak Surip.
mereka pun mulai menuju ke rumah dukun yang di maksud oleh Bu Eka, selama perjalanan pak Yudi merasa kaget.
pasalnya selama perjalanan mereka melewati banyak tuwangan sawah dan minim penerangan.
pikiran pak Yudi pun jadi yang tidak-tidak melihat jalanan ini, dan di ujung desa terlihat banyak warga yang berkerumun.
mereka berdua tak berhenti karena tujuan mereka berdua belum tercapai, dan lagi mereka tak ingin kepo dengan urusan orang lain.
sesampainya di tempat dukun itu, terlihat sepi, beruntung ada salah seorang warga yang lewat.
"permisi, ini Mbah Gun kemana ya kok rumahnya sepi?"
"loh bapak gak taunya, mbah Gun tadi sore meninggal dunia," jawab warga itu.
jeder..
keduanya kebingungan, pasalnya jika Mbah Gun sudah meninggal terus kemana Bu Susi dan putra pak Yudi.
"eh kasihan ya, tadi kepala anaknya hilang dan belum di ketemukan," kata beberapa ibu yang melewati pak Yudi dan pak Surip.
"Bu maaf kalau boleh tanya di ujung desa tadi ada apa?" tanya pak Surip.
"itu pak ada begal, kasihan korbannya seorang wanita gemuk dan anak laki-laki, bahkan mayat mereka serem, terus kepala anaknya hilang masih di cari polisi," kata ibu itu.
pak Yudi lemas dan langsung terisak, karena ciri-ciri itu mirip istrinya, "pak Yudi tenang pak, itu belum tentu Bu Susi dan Yuda, kita lihat kesana,"
__ADS_1